Tuesday, July 10, 2018

Wafatnya Seorang Wanita Hebat



Oleh : Sunarti PrixtiRhq


Setiap pagi aku berkunjung ke rumah ibuku. Sekitar 3 km dari rumah aku tinggal. Seperti hari-hari sebelumnya, aku selalu bertandang ke rumah ibukku di setiap paginya. Sekedar menyapa atau menanyakan kabarnya. Membawa sedikit makanan atau sekedar jajan saja. Rutinitas yang sudah beberapa tahun aku lalui tanpa terlewat  seharipun. Seandainya aku ada keperluan, maka kusuruh istri atau anakku. Kalaupun kami semua ada keperluan, aku meminta sanak saudaraku yang menjenguknya.


Bukan aku tidak mau merawat ibuku. Tapi pekerjaan dan tanggung jawab yang membuatku harus meninggalkannya. Juga bukan berarti aku tega dengan ibuku, tapi ada kakak sulungku yang merawatnya. Usia yang sepuh, membuat anak-anaknya selalu bertandang ke rumahnya. Tubuh yang mulai mengurus dan kulit yang keriput mulai merambah seluru tubuhnya. Fisik yang melemah juga mulai merangsek organ tubuhnya. Nafas yang sering tersengal dan jantungnya yang sering berdebar-debar, menandakan organ dalamnya sudah melemah. Ini semua membuat aku dan kedua kakak laki-lakiku sepakat untuk memasak bergantian dengan mereka.


Semasa mudaku dulu, dialah yang setia merawat aku dan keempat kakakku dari rahim ibu yang berbeda. Beliau besarkan kelima anaknya tanpa pendamping dari ayahku. Semenjak usiaku 1 tahun, Allah memanggil ayahku. Jadilah Beliau membesarkanku sebatang kara. Sabar dengan kondisi "kesrakat" setelah diminta angkat kaki dari rumah mertuanya. Membawa kelima anaknya tanpa harta sepeserpun.


Ibuku. Yah, Beliaulah orang hebat itu. Dengan berdagang biji kedelai, beras milik tetangga dia susuri jalan-jalan di kampung menuju pasar. Mengayuh sepeda onthel milik pamanku dengan muatan beras dan kedelai di belakangnya. Berjarak puluhan kilometer dari rumah bambu kami. Demi aku dan kakak-kakakku. Meskipun kehidupanku ditopang oleh kakak ketigaku. Tapi rasanya hidup ibuku masih berat. Namun sekali lagi, Beliau tetap bersabar.


Ibuku menikah dengan seorang duda beranak dua yang masih kecil-kecil. Dan dikaruniai lagi tiga orang anak yang jaraknya hanya satu tahunan saja. Itulah aku dannketiga kakak laki-lakiku. Ini semua mengharuskannya bekerja ekstra keras.


Di ujung usianya, Beliau mendukung dakwahku. Semenjak aku menimba ilmu, semenjak itu juga Beliau mendukung aktifitasku. Setiap kali aku berangkat 'ngaji' Beliau berpesan dengan lemah lembut di ujung telingaku. "Hati-hati ya, Le! Mbokmu mok iso dungakno!" begitu ucapnya. Dan setiap kepulanganku di tengah malam, Beliau setia menunggu dan membukakan pintu untukku. Tidak ketinggalan pula, saat pengajian di masjid dekat rumahku, Beliau aktif mendatanginya. Hingga tubuhnya lemah, masih setia mendatangi majelis-majelis taklim di lingkungannya.


Di usia yang sudah 80an tahun, masih mengingat waktu-waktu ketika harus menunaikan shalat. Meskipun sebagian ingatannya sudah tidak sempurna lagi, namun shalat lima waktu tidak pernah dia lupa. Subhanallah. Allah memberikan kelebihan pada ibuku, dengan tidak mengambil daya ingat waktu shalat.


Pagi itu aku datang bersama istriku. Melihat ibuku tertidur pulas, aku merasa tenang. Karena semenjak Ramadan hari ke 20, kondisinya menurun.  Tidak mau makan, hanya minum air putih dan susu buatan kakak iparku yang tinggal serumah. Tapi istriku mengejutkanku "Mas, ini ibuk bukan tidur, tapi tidak sadar" katanya. 


Aku tidak percaya, aku suruh dia menjauh dan jangan mengganggunya. Dia ngeloyor pergi menemui kakak iparku. Entah apa yang dia lakukan di dapur belakang. Sementara aku menemui bulek, adik kandung ibuku yang mengikutiku semenjak aku parkir motorku. Dia tinggal dekat rumah ibuku. Akupun tidak merasa curiga apapun dengan kondisi ibuku. Akhirnya aku bercengkrama dengan bulekku.


Istri dan kakak ipar perempuanku mendekati ibuku. Istriku yang pernah sekolah di sekolah perawat memegang ibuku dari dahi hingga kakinya. Dibukanya pelupuk mata ibuku, dia amati dengan teliti. Aku hanya memandangnya dari kejauhan. "Puh iki kie Mboke gak sadar. Bukan tidur", kata istriku lagi.


Aku mendekat kulihat ibuku. Kupanggil lewat telinga kanannya. Tidak lagi aku indahkan perkataan istriku. Aku tidak terima kalau ibuku tidak sadar. Selama ini memang berbaring, tapi ibuku masih sehat. Beliau hanya tidur.


"Mas, ayolah! Ditalkin Ibu. Jangan ditangisi. Ini nadi di kakinya sudah tidak ada. Pupilnya pun melebar. Akralnya sudah dingin", kata istriku. Aku tetap tidak mengindahkannya. Kuguncang-guncang ibuku. Entah apa yang dibilang istriku, aku tidak mengindahkannya. 


Kakak iparku berlari memanggil suaminya yang baru saja beranjak dari sisi ibuku. Dia hendak makan pagi. Setelah mengetahui kedatanganku, Dia beringsut meninggalkan ibuku. Tak berapa lama kakakku yang sulung datang dengan tenang. "Ora popo, iki mau lagek turu" katanya.


Istriku meyakinkan kalau kondisi ini sudah tidak baik. Segera lafadzkan sahadat di telinganya. Begitu anjuran istriku. Aku meneteskan air mata, perlahan aku ucapkan sahadat di telinganya. Satu kali, dua kali hingga yang ketiga, tidak kuasa aku keraskan. Selesai dengan tangisanku yang terguguk. Tiba-tiba ibu membuka mata, byar. Sekejap. Ya hanya sekejap lalu memejamkan mata lagi.


Kakakku menyuruh istrinya dan istriku mengusap minyak kayu putih pada kedua kaki ibuku. Aku hanyak sesenggukan di sisi kanannya. Benerapa saat, istriku memegang jempol kaki kanan ibuku. Ditekannya kuat-kuat, tidak ada respon sama sekali. Akhirnya kakakku menerima kalau ibu memang sudah tidak sadar. Ya Allah, aku usahakan tidak lagi kuteteskan air mata.


Seorang ibu, yang berkorban demi anak-anaknya. Meninggalkan segala aktivitas kepwntingannya demi anak-anaknya. Rela menahan haus dan lapar, demi hajat kehidupan anaknya. Kini telah lemah tidak berdaya. Dan aku yidak bosa lagi berbuat apa-apa. Lemas tubuh ini, bagai tidak bertulang. Darahku mengalir bukan dengan aliran hangatnya. Darah aliran dingin, menembus kulitku sebagai keringat yang bercucuran. Astagfirullah. Aku kuatkan hati dan fisikku, agar tidak jatuh di sampingmu, Ibu. 


Dan kamipun bergantian mentalkinya. Kakak sulungku dan cucu-cucunya. Tibalah Allah memangilnya, tepat pukul 11.00 wib, ibuku menghembuskan nafas terakhirnya. 17 Juni 2018. Selamat jalan ibu, semoga husnul khatimah.


Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun.

Allahummaghfirlaha wa'rhamha wa 'àfiha wa'fu anha,wa akrim nuzulaha wa wassi' madkhalaha waj'al al jannata maswaha. Amiin.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!