Tuesday, July 10, 2018

Terlambat Menyesal


Oleh: Ana Nazahah


Beberapa tahun yang lalu saya mengenal seorang adik binaan yang sangat energik, cantik dan baik hati. Kala itu dia masih di bangku SMA. Saya sempat mengajar di kelasnya sebagai guru sementara mata pelajaran Wirausaha. Saat itu saya baru saja menamatkan kuliah, jadi mengajar hanya untuk membunuh rasa bosan sebelum masuk dunia perkantoran, tempat saya seharusnya berada.


Berawal dari guru dan murid, akhirnya kami menjadi lebih dekat lagi, bahkan setelah saya tak mengajar di SMAnya lagi. Itu karena keinginannya yang kuat untuk berhijrah (kebetulan saya mengampu beberapa adik-adik binaan yang berniat hijrah).


Namun sayang tak lama karena orang-orang terdekatnya terus menghalangi. "Maaf kak, saya ga bisa hadir di pengajian lagi" begitu bunyi chatnya terakhir kali, saat ditanyakan karena sudah berulang kali absen dari pengajian.


Sebenarnya ini adalah problem umum bagi setiap orang yang berniat untuk hijrah. Saya sendiri mengalaminya. Rintangan datang silih berganti dari orang tua, kerabat serta teman dekat. Tak ayal, karena saya tetap pada pendirian, akhirnya banyak teman yang menjauhi.


Kecuali orang tua sih, mana ada orang tua yang tega ngejauhi anaknya hanya karena alasan hijrah. Cepat atau lambat, orangtua pasti akan mengerti, seiring perubahan sikap kita yang menjadi lebih baik dari hari ke hari. Insya Allah, tentunya dengan terus berharap dan berdo'a kepada Tuhan yang mampu membolak-balikan hati.


Terus terang rasa diabaikan dan merasa ditinggalkan itu ga enak. Apa lagi jika diiringi dengan ejekan dan fitnah keji, misalnya seperti pembawa ajaran radikal, teroris dll. Itu terlalu berat jika dibandingkan sok alim atau sekedar dipanggil bu haji.


Teroris dan radikal, itu terlalu kasar jika disematkan pada pengemban dakwah, hanya karena mereka stiqah pada jalan dakwah yang disyariatkan. Terkategori fitnah yang keji, karena mengalamatkannya kepada syariat Allah SWT Sang Pencipta alam semesta dan  seluruh jagad raya ini. 


Maka dititik ini kadang saya menyerah, tak sadar keluarlah kata-kata pembenaran "Ya sudah, pilihan ada ditangan adik, mungkin kita bisa kajian di lain waktu". Saya sadar, dalam artian "usaha saya cukup di sini". Begitulah akhir dari percakapan kami, setelah berbulan-bulan dekat dan menjadi seperti saudara sendiri.


Beberapa bulan kemudian saya bertemu dia lagi. Namun dengan penampilan baru. Tak ada lagi jilbab dan kerudung yang selama ini dia pakai. Dia tampil dengan celana jins ketat berwarna abu-abu yang dipadu dengan kerudung lebar bergo berwarna biru. 


Dari jauh dia menatapku sembari menunjukan senyum sumringahnya. Ada rasa rindu yang tersirat di wajahnya saat menatapku. Namun saya hanya tersenyum saja, tak berniat menyapa karena terlanjur kecewa dengan perubahan drastisnya itu.


Dan beberapa minggu setelah perjumpaan kami yang terakhir itu, adik sepupunya menelponku. Tak terasa meleleh air mataku demi mendengar berita mengejutkan di seberang sana. Sambil sesegukan adik sepupunya menceritakan, dia gadis belia yang cantik dan baik hati itu, telah menjadi seorang ibu. Tanpa ada yang tau siapa ayah dari anak yang dikandungnya itu. 


Rasa menyesal tiba-tiba saja menyeruak relung dada. Andai saya mau menyapa dan mendekat padanya lebih dulu. Andai saja saya bersabar dan mau berusaha memahamkannya tentang syariat Allah dulu. Andai saya tetap tinggal di sisinya, tak menyerah dan mau menunggu. Andai saja.[]


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!