Tuesday, July 10, 2018

Rupiah Makin Terkapar


Oleh : Aisy Mujahidah Ummu Azzam (Revowriter Makassar)


Lebaran kelar, rupiah masih terkapar di hadapan dolar.

"Nilai tukar (kurs) Rupiah semakin melemah hari ini, Jumat (29/6). Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kurs beli Rupiah mencapai Rp 14.332 per USD, sedangkan kurs jual Rp 14.476 per USD". (Merdeka.com)


Yang sebelumnya nilai tukar dolar tembus Rp.14.000 per USD.

"Nilai tukar Rupiah kembali melemah setelah libur panjang Lebaran. Dolar Amerika Serikat (AS) kembali bertengger di atas level Rp 14.000.


Menurut Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya pelemahan Rupiah saat ini lebih dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS.


"Saya lebih melihat dari sisi dolar AS indeksnya. Karena sejauh ini dolar AS indeks terlihat masih menguat antara 90-95.(detikfibance)


•Kenapa ini Bisa Terjadi?


Bila dicermati, masalah ini terjadi sesungguhnya dipicu oleh dua sebab utama, yaitu:


Pertama, persoalan mata uang, dimana nilai mata uang suatu negara saat ini masih terikat kepada mata uang negara lain (misalnya rupiah terhadap US dollar), tidak pada dirinya sendiri. Sehingga nilainya tidak pernah stabil, bila nilai mata uang tertentu bergejolak, pasti akan mempengaruhi kestabilan mata uang tersebut.


Kedua, bahwa uang tidak lagi dijadikan alat tukar semata, akan tetapi juga dijadikan sebagai komoditi yang diperdagangkan (dalam bursa valuta asing).


Dan problem lemahnya mata uang rupiah di hadapan dolar juga bukan hanya sekedar soal teknis sehingga cukup dihadapi dengan solusi taktis pragmatis seperti menaikkan suku bunga dll, tp ini menyangkut soal paradigmatis. Bagaimanapun sepanjang indonesia tdk mandiri, pemerintahannya lemah dan sistem ekonominya msh berbasis fiat money, ekonomi indonesia akan terus terombang ambing sebagaimana kurs mata uangnya. 


• Kembali ke Sistem Islam Adalah Solusinya


Pemahaman yang salah terhadap kedudukan uang yang mana tidak mengfungsikan uang sebagai alat tukar saja tapi juga sebagai komoditi. dan juga dari segi pembuatan mata uang tidak menggunakan basis emas atau perak sehingga nilai nominal tidak menyatu dengan nilai intrinsiknya, inilah yang menjadi biang masalah dari segala keruwetan ekonomi kapitalis.


Jika uang dikembalikan kepada fungsinya yaitu sebagai alat tukar saja, dan mata uang dicetak dengan basis emas dan perak (dinar dan dirham), sehingga ekonomi akan betul-betul digerakkan hanya oleh sektor riil saja. Maka tidak akan ada sektor non riil (orang berusaha menarik keuntungan dari mengkomoditaskan uang dalam pasarnya). 


Walaupun ada usaha di sektor keuangan, itu tidaklah lebih sekedar sarana menyediakan uang untuk modal usaha yang diatur dengan sistem yang benar (misalnya bagi hasil). Dengan begitu sistem ekonomi yang bertumpu pada sektor riil akan berjalan mulus tidak mudah goyang atau digoyang seperti saat ini. Disinilah keunggulan sistem ekonomi Islam.


Kesalahan pandangan terhadap kedudukan uang yang tidah hanya berfungsi sebagai alat tukar tapi juga sebagai komoditi, serta pembuatan mata uang tidak menggunakan basis emas atau perak sehingga nilai nominal tidak menyatu dengan nilai intrinsiknya, inilah yang menjadi biang dari segala keruwetan ekonomi kapitalis.


Mengatasi krisis ekonomi yang hingga kini masih terus berlangsung, di samping harus menata sektor riil, yang paling penting adalah meluruskan pandangan keliru tadi. Bila uang dikembalikan kepada fungsinya sebagai alat tukar saja, lantas mata uang dicetak dengan basis emas dan perak (dinar dan dirham), maka ekonomi akan betul-betul digerakkan oleh hanya sektor riil saja. Tidak akan ada sektor non riil (dalam arti orang berusaha menarik keuntungan dari mengkomoditaskan uang dalam pasar uang, bank, pasar modal dan sebagainya). 


Kalaupun ada usaha di sektor keuangan, itu tidaklah lebih sekedar katakanlah menyediakan uang untuk modal usaha yang diatur dengan sistem yang benar (misalnya bagi hasil). Dengan cara itu, sistem ekonomi yang bertumpu pada sektor riil akan berjalan mantap, tidak mudah goyang atau digoyang seperti saat ini. Disinilah keunggulan sistem ekonomi Islam.


Sistem Islam memiliki pandangan yang bersumber dari Allah swt, sistem Islam mengajarkan hanya memfungsikan uang hanya sebagai alat tukar saja. Ketika beredar, ia hanya akan bertemu dengan barang dan jasa saja. Semakin banyak uang beredar, semakin banyak pula barang dan jasa yang diproduksi dan diserap pasar. Akibatnya pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat, tanpa ada ketakutan terjadi kolaps seperti pertumbuhan ekonomi dalam sistem Kapatalis. Dimana penerapan sistem ekonomi dan moneter ala kapitalisme juga menjadi  jalan mengukuhkan hegemoni penjajahan negara adidaya atas indonesia dan dunia.



Syekh Abdul Qodim Zallum dalam kitab al Amwal fi Daulati al Khilafah mengatakan yang paling penting dalam setiap keuangan adalah penentuan satuan dasar pada satuan itu dinisbahkan seluruh nilai berbagai mata uang lain. Apabila satuan dasar keuangan itu adalah emas, maka sistem keuangannya dinamakan sistem uang emas. Apabila satuan dasarnya perak, dinamakan sistem uang perak. Bila satuan dasarnya terdiri dari dua satuan mata uang (emas dan perak), dinamakan sistem dua logam. Dan bila nilai satuan mata uang tidak dihubungkan secara tetap dengan emas atau perak (baik terbuat dari logam lain seperti tembaga atau dibuat dari kertas), sistem keuangannya disebut sistem fiat money.


Dengan sistem dua logam, harus ditentukan suatu perbandingan yang sifatnya tetap dalam berat maupun kemurnian antara satuan mata uang emas dengan perak. Sehingga bisa diukur masing-masing nilai antara satu dengan lainnya, dan bisa diketahui nilai tukarnya. Misalnya, 1 dinar emas syar’i beratnya 4,25 gram emas dan 1 dirham perak syar’i beratnya 2,975 gram perak.


Dengan cara itu, nilai nominal dan nilai intrinsik dari mata uang dinar dan dirham akan menyatu. Artinya, nilai nominal mata uang yang berlaku akan dijaga oleh nilai intrinsiknya (nilai uang itu sebagai barang, yaitu emas atau perak itu sendiri), bukan oleh daya tukar terhadap mata uang lain.


Maka, jika seberapa pun misalnya dollar Amerika naik nilainya, mata uang dinar akan mengikuti senilai dollar menghargai 4,25 gram emas yang terkandung dalam 1 dinar. Depresiasi (sekalipun semua faktor ekonomi dan non ekonomi yang memicunya ada) tidak akan terjadi. Sehingga gejolak ekonomi seperti sekarang ini insya Allah juga tidak akan terjadi.

Wallah a'lam bi ash-hawab..






Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!