Tuesday, July 10, 2018

Rupiah Makin Terkapar Di Hadapan Dolar


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


Nilai tukar rupiah kembali keok setelah libur Lebaran. Dolar Amerika Serikat (AS) kini kembali bertengger di atas level Rp 14.000. Melansir Reuters, jelang akhir pekan kemarin dolar AS terhadap Rupiah sudah berada di level Rp 14.070. Sebelum libur Lebaran, dolar AS terhadap Rupiah berada di level Rp 13.930. 

Menurut Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya pelemahan Rupiah saat ini lebih dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS. Penguatan indeks dolar AS masih dipengaruhi beberapa sentimen dari negeri Paman Sam. Mulai dari rencana kenaikan suku bunga The Fed hingga efek perang dagang AS. (https://m.detik.com/finance/bursa-dan-valas/d-4080585/ini-penyebab-rupiah-keok-pasca-libur-panjang).

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kembali mendapatkan pekerjaan rumah untuk mengembalikan kestabilan nilai tukar Rupiah. Padahal Bank Indonesia (BI) telah menaikan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebanyak 2 kali jadi 4,75%. BI bahkan berencana untuk kembali menaikkan suku bunga acuan. 

Menurut Analis Senior dari PT Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, kenaikan suku bunga acuan memang menjadi salah satu senjata untuk meredam penguatan dolar AS. Namun kebijakan ini memiliki efek samping negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan suku bunga acuan akan memicu kenaikan suku bunga kredit perbankan. Sehingga dikhawatirkan penyaluran kredit akan melambat, peredaran uang akan berkurang. Reza menilai seharusnya kebijakan moneter diiringi dengan kebijakan fiskal. Pemerintah harus menjaga indikator-indikator makro ekonomi seperti inflasi maupun neraca perdagangan.

BPS sendiri mencatat, pada April 2018 defisit neraca dagang RI mencapai US$ 1,63 miliar. Ekspor tercatat US$ 14,47 miliar, sementara impornya US$ 16,09 miliar. (https://m.detik.com/finance/bursa-dan-valas/d-4080625/rupiah-keok-lawan-dolar-as-kenaikan-suku-bunga-bi-tak-mujarab). 

Problem lemahnya mata uang rupiah di hadapan dolar sebetulnya bukan sekedar soal teknis sehingga cukup dihadapi dengan solusi taktis pragmatis seperti menaikkan suku bunga dan lain-lain, tapi ini menyangkut soal paradigmatis. Bagaimanapun sepanjang indonesia tidak mandiri, pemerintahannya lemah dan sistem ekonominya masih berbasis fiat money, ekonomi Indonesia akan terus terombang ambing sebagaimana kurs mata uangnya. 

Penting sekali umat menyadari tentang bahaya penerapan sistem ekonomi dan moneter ala kapitalisme yang menjadi jalan mengukuhkan hegemoni penjajahan para negara adidaya atas Indonesia dan dunia.

Menurut Abu Khalil Ibrahim Utsman, kuatnya hubungan ekonomi dengan politik internasional saat ini telah menjelma dalam kerakusan dan keinginan negara-negara imperialis untuk merampok kekayaan berbagai bangsa yang menjadi mangsanya. Banyak perang telah terjadi karena motif-motif ekonomi. 

Niat mendominasi itu nampak paling jelas pada Amerika Serikat. Hegemoni politiknya dihasilkan secara otomatis dari hegemoni ekonominya, melalui dominasi para pemilik modal AS di bidang industri, infrastruktur kehidupan yang vital, dan produksi di negara-negara lemah untuk mengendalikan arah perekonomiannya.

Islam –yang Allah datangkan bersama Muhammad saw sebagai pengemban risalahnya— adalah sebuah sistem kehidupan dan risalah bagi semesta alam, maka negara harus menerapkan dan mengembannya ke seluruh dunia. Islam telah menetapkan Khilafah, yang memiliki bentuk unik dan pola tersendiri. Sebuah negara dengan format yang baik dalam asas yang menjadi pijakannya, struktur-strukturnya, konstitusi maupun perundang-undangannya, diambil dari Al-Quran dan As-Sunnah. Mewajibkan Khalifah dan umat berpegang teguh, menerapkannya dan terikat dengan hukum-hukumnya, karena seluruhnya adalah syariat Allah, dan bukan peraturan dari manusia.

Termasuk dalam bidang ekonomi, Islam memberikan dasar-dasar pembentukan sistem ekonomi yang kuat dan adil. Sitem Islam telah menentukan emas dan perak sebagai mata uang. Islam telah menetapkan hanya emas dan perak saja yang menjadi standar mata uang untuk mengukur barang dan jasa. 

Berdasarkan asas emas dan perak berlangsung semua bentuk muamalah. Islam menetapkan standar untuk uang emas dan perak tersebut berupa uqiyah, dirham, daniq, qirath, mitsqal, dan dinar. Semua standar itu dikenal luas pada masa Nabi SAW dan digunakan masyarakat dalam transaksi. Nabi SAW telah menyetujuinya. Seluruh bentuk jual beli dan pernikahan berlangsung dengan emas dan perak dalam sifatnya sebagai uang, sebagaimana ditetapkan dalam hadis-hadis sahih. 

Nabi SAW bersabda: “Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah dan takaran maka takaran penduduk Madinah.”(HR. Abu Daud).

Dinar dan dirham dalam ekonomi Islam, bukan dikhususkan untuk individu-individu tertentu, tetapi dinar dan dirham diciptakan supaya beredar di antara manusia, lalu menjadi hakim di antara mereka, menjadi standar harga dan alat tukar. Pilihan kepada uang emas sebagal alat tukar yang mempunyai nilai melekat pada zatnya (nilai intrinsik) sama dengan nilai rielnya, nyatanya berlaku di seluruh dunia selama berabad-abad lamanya.

Begitulah, hukum-hukum syara’ telah menghubungkan sistem mata uang dengan emas dan perak. Dengan ketentuan ini, tidak akan muncul krisis-krisis mata uang dan dominasi mata uang suatu negara atas negara-negara lain seperti yang kita lihat sekarang ini. Krisis mata uang dan dominasi mata uang ini bermula sejak pencabutan emas sebagai back up moneter dan dimasukannya dolar sebagai sekutu bagi emas dalam perjanjian Bretton Woods pada akhir Perang Dunia II. 

Oleh karena itu, selama dolar tidak ditarik dari posisinya sebagai cadangan moneter, krisis akan terus berulang. Krisis apapun yang terjadi pada dolar secara otomatis menyebar ke perekonomian negara-negara lainnya. Rekayasa krisis politik yang dirancang oleh Amerika pun akan berpengaruh terhadap dolar dan selanjutnya berpengaruh kepada dunia. 

Nilai tukar rupiah akan semakin melemah terhadap dolar AS. Pasar modal yang makin didominasi oleh investor asing dalam sekejap dapat membuat rupiah babak belur. Terkapar tidak berdaya. Liberalisasi sistem finansial, moneter dan perdagangan yang semakin akut di bawah rezim saat ini membuat Indonesia amat rentan krisis. Sedikit gejolak yang terjadi di negara lain akan dengan mudah merongrong stabilitas ekonomi domestik. 

Namun, yang lebih memprihatinkan dari semua hal itu adalah kebijakan dan sistem ekonomi saat ini, yang menyimpang dari Islam. Sistem keuangan, moneter dan fiskal yang bersandar riba, liberalisasi di berbagai bidang, penguasaan asing atas kekayaan alam, dan pengabaian terhadap nasib jutaan rakyat miskin yang terus berlangsung. 

Telah banyak negara yang bukan penduduknya bukan mayoritas Islam namun mereka menggunakan ekonomi syariahnya lebih maju dari Indonesia, misalnya Thailand dan Australia. Dengan pengembangan perbankan dan keuangan syariah serta industri makanan halalnya. Namun, sebenarnya tidak cukup sebatas sistem ekonomi Islamnya saja. Keberkahan dari sistem ekonomi Islam hanya akan terwujud dalam sistem politik dan pemerintahan Islam. 

Sesungguhnya penerapan sistem Islam ini merupakan sistem yang telah diwajibkan Rabbul ‘Alamin, diterapkan dengan dorongan ketakwaan dan keadilan syariat, dalam negara yang melakukan pengurusan harta bukan negara pemungut harta. Jika semua politik ekonomi Islam diterapkan, insya Allah sistem ini mampu menjamin kehidupan rakyat dengan ekonomi yang aman, adil, dan bebas krisis.[]



*) Penulis dari Komunitas Muslimah Banua Menulis. Berdomisili di HSS, Kalsel



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!