Monday, July 2, 2018

Pulang Setelah Pergi


Oleh: Najwa Alifah (Revowriter Aceh)


Jangan lupa pulang ya. Kalau sudah pergi pasti akan teringat untuk pulang. Sejauh apa pun kita pergi kita pasti ingin kembali. Entah kembali kekampung halaman bertemu kedua orang tua atau pulang menjumpai anak dan istri.


Kita pasti akan pulang, seperti peribahasa setinggi-tinggi melambung surutnya ke tanah juga. Artinya sejauh apapun kita pergi pasti akan kembali pada asalnya.


Pasalnya seseorang yang akan pulang tentu tidak sekedar tangan kosong tapi ia akan membawa bekal yang telah dipersiapkan. Mulai dari kerja keras mengumpulkan uang yang banyak, beli kendaraan, baju baru bawa oleh-oleh yang banyak, terus ada yang buat status di sosial media menunjukan perasaan hati bahagia dan di kampung juga sudah ada yang menunggu dengan berbagai persiapan. Masak serba enak, perhias rumah menunggu dengan bahagia dan sebagainya. Begitu juga ketika balik mudik gembira dan membawa modal yang besar. 


Itu di dunia, kita masih bisa pulang pergi kapanpun kita mau. Bisa pindah rumah kemana saja yang kita sukai.


Lalu bagaimana dengan akhirat kampung abadi tempat kita untuk kembali. 

Tidak ada pilihan bagi seseorang yang hidup untuk tidak kembali semua akan mati.

Sebagaimana firman Allah


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْت

“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati,” (QS. Ali Imran: 185).


Lantas apa yang telah kita persiapkan tatkala Allah sang pemilik raga ini harta yang selalu kita sombongkan, waktu yang selalu kita habiskan materi yang terus kita buru sampai kita lupa siapa pemberinya kehidupan yang dengan latahnya kita nikmati hingga lupa pada penciptaanNya. 


Masa itu akan datang, masa dimana Allah akan memanggil nama kita untuk pulang. Dan masa itu bisa datang kapan saja tanpa kita ketahui. Kadang lagi kita duduk, berkendara, saat bersujud atau saat sedang bermaksiat kepada Allah, naudzubillahi minzhaliq.


Sebelum Allah memanggil, sebelum badan kita menggigil menjerit, sebelum waktu dan harta yang kita kejar habis terhenti, sebelum semuanya yang kita miliki itu akan berakhir dengan penyesalan hingga tangisan itu tiada arti lagi.


Maka dari itu kita perlu mempersiapkan  bekal sebagai  modal. Apa bekalnya yaitu amal. Amal shalih yang kita miliki yang akan menyelematkan kita di yaumil hisab (hari penghitungan). 


Hidup di dunia ini sementara dan sangat singkat. Rasulullah saw menggambarkannya seperti orang yang berteduh di bawah pohon untuk beristirahat sejenak dalam perjalanan jauhnya. Beliau bersabda yang artinya: “Tiadalah berarti bagiku dunia ini, di dunia ini aku bagaikan orang yang berkendaraan dan mampir bernaung di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkan pohon tersebut” (HR at-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud).


Maka kehidupan ini hanya tempat singgahan. Waktu di dunia ini sangat singkat semua akan berakhir. 

Ibn Umar ra. pernah mengingatkan kita, “Jika kamu ada di waktu sore, jangan menunggu pagi. Jika kamu ada di pagi hari, jangan menunggu hingga sore. Jadikanlah masa sehatmu untuk beramal shalih sebelum datang masa sakitmu dan jadikanlah masa kehidupanmu untuk beramal shalih sebelum datang kematianmu.” (HR al-Bukhari).  


Dari sini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang hanya sekejab Allah titipkan pada kita. Akan tetapi kita akan menjadikan hidup sebagai jalan bermanfaat memperbanyak amal sholih dengan melakukan kebaikan dan mencegah segala kemungkaran itulah amal sholih kita.


Hari ini kehidupan kita diatur dengan sistem sekuler kapitalis aturan yang bukan bersumber dari Al-khaliq. Ini adalah kemungkaran yang amat besar yang telah membawa keburukan dalam segala aspek kehidupan. Sistem ini juga yang telah mengangkangi syariat islam tidak diterapakan di tengah-tengah kehidupan. Padahal ketaatan pada syariat islam adalah konsenkuensi terbentuknya iman dan takwa pada diri individu masyarakat dan negara. Namun ini dinafikan dalam sistem sekuler.


Lagi-lagi kitalah yg harus menghentikannya dengan mencampakkan sistem ini dari kehidupan. Bagaimana kita bisa pulang dengan tenang mengahadap Allah jika di sekeliling kita kaum muslimin masih bertumpahan darah dibantai oleh kafir penjajah. Dan negeri-negeri muslim masih dijajah dan diduduki oleh para penguasa yg zhalim yang hanya memikirkan kepentingannya. Sementara kita tidak melakukan apa-apa. 


Oleh karena itu hanya Islam satu-satunya yang akan mengembalikan kemuliaan umat dengan diterapkan aturanya secara kaffah dalam kehidupan. Maka kita harus memperjuangkannya.

Melalui jalan dakwah kita akan mengarungi perjuangan ini sebagai amal sholih modal kita menuju akhirat. Agar kelak kita punya hujjah di hadapan Allah atas apa yang telah kita lakukan.


Karena itu, jika bukan untuk mengemban risalah Islam, maka untuk apa lagi kita harus berlama-lama di dunia ini. Karena kita pasti akan pulang. Dan pulang melalui jalan perjuangan kebenaran itu berbeda dengan pulang di jalan yang biasa saja. Maka pilihlah jalan kebenaran sehingga kita memperoleh ketenangan dan kebahagiaan di akhirat.

Wallahu ‘alam bishawab



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!