Tuesday, July 10, 2018

Peran Perempuan dalam Pembangunan


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


Sosialisasi Percepatan Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) telah dilaksanakan di Kandangan, Kamis (7/6). Kepala Bapelitbangda HSS, Iwan Friady, mengatakan sosialisasi ini dilakukan karena adanya kekurang pahaman tentang manfaat dan pentingnya pengarusutamaan gender. Pengarusutamaan gender ini bertujuan untuk memastikan apakah perempuan dan laki-laki memperoleh akses yang sama pada sumberdaya pembangunan, partisipasi yang sama dalam proses pembangunan dan proses-proses pengambilan keputusan serta memperoleh manfaat yang sama dalam pembangunan.

Narasumber dari Asisten Deputi Kesetaraan Gender bidang insfrastruktur dan lingkungan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Ratna Susianawati, mengatakan bahwa pengarusutamaan gender adalah bagaimana agar meningkatkan kualitas hidup manusia, jadi ini adalah menjadi tugas bersama sehingga diperlukan sinergisitas, kemitraan, partnership, ide-ide kreatif dan juga inovasi bersama untuk mencapainya. (https://kalsel.antaranews.com/berita/67773/hss-percepat-pelaksanaan-pengarusutamaan-gender).

Penulis di sini hanya sekadar mau berbagi ilmu dari beberapa bacaan yang menarik. Yang semoga bisa mencerahkan pemikiran. Bahwa yang terlihat di permukaan bahwa ide kesetaraan gender dapat memberikan sejumlah kemajuan bagi kaum wanita, khususnya secara material. Misalnya memiliki income sendiri, hingga tidak sedikit yang sanggup menghidupi keluarganya. Lebih lanjut, muncul banyak perempuan bisa sejajar bahkan mengalahkan dominasi kaum pria. 

Gambaran manis tentang kiprah wanita di luar rumah perlu juga kita tilik dampak negatifnya, berupa persoalan baru. Tercerabutnya kaum wanita dari rumah dan lepasnya pengasuhan anak-anak dari tangan ibu mereka. Sebuah persoalan yang ternyata membuat kehidupan wanita dan keluarga, bahkan masa depan sebuah bangsa menjadi kian rumit. 

Benarkah penderasan kesetaraan gender bisa melepaskan kaum wanita dari ketertindasan yang dihadapi saat ini? Ternyata tidak demikian. Gerakan pembedayaan justru melahirkan penderitaan kaum perempuan. Tekanan di luar rumah, dan dunia kerja jauh lebih berat ketimbang saat menjalankan tugas-tugas domestik sebagi ibu dan istri. Mereka lebih rentan mengalami kekerasan fisik dan psikis, serta pelecahan seksual di tempat kerja. 

Kita perlu belajar dari jejak-jejak kerusakan negara-negara kapitalis sekuler di Barat maupun Timur. Ternyata, pertumbuhan ekonomi diiringi dengan rapuhnya generasi muda dan merusak peradaban mereka, sekaligus telah menghasilkan dehumanisasi massal dan eksploitasi terhadap jutaan perempuan di negeri mereka. 

Di sana wujud dan peran utama perempuan telah dihancurkan, akibatnya yang terjadi malah timbulnya penyakit sosial dan kejahatan merajalela. Rusaknya moral generasi dan integritas kaum perempuan, telah menjalar ke seluruh sendi sosial masyarakat. 

Lihat saja, pembangunan pesat yang semu diiringi dengan krisis sosial, keruntuhan institusi keluarga, hilangnya generasi akibat anjoklaknya angka kelahiran dan pernikahan akibat massifnya pelibatan perempuan sebagai angkatan kerja. Apakah kita juga mengalami kesuraman serupa?

Tidak bisa kita pungkiri bahwa nasib perempuan saat ini berada dalam keterpurukan; maraknya KDRT, sebagian masih kesulitan mengakses pendidikan yang lebih baik, kesehatan ibu dan anak yang masih buruk, dan perlakuan masyarakat terhadap wanita. Eksploitasi terhadap kaum wanita terjadi di mana-mana, termasuk sektor industri. 

Namun, solusi yang ditawarkan kaum femenis terhadap para wanita, khususnya muslimah, jauh panggang dari api. Tidak membongkar akar persoalan wanita dan masyarakat yang sesungguhnya. Karena buruknya kondisi yang dialami kaum wanita juga menimpa segenap komponen masyarakat, termasuk kaum pria. Kemiskinan juga dialami oleh laki-laki yang membuat mereka kesulitan menafkahi keluarga. Buruknya perlindungan hukum, pelayanan pendidikan dan kesehatan juga mendera lelaki. Kekerasan, kejahatan, dan tindak kriminal lainnya dialami oleh hampir semua anggota masyarakat. 

Adapun penyebab keterpurukan masyarakat -bukan hanya kaum perempuan dan anak- adalah karena buah penerpan ideologi kapitalisme dan sistem demokrasi. Dalam kapitalisme berlaku prinsip survival of the fiftest. Siapa kuat akan bertahan. Siapa saja boleh menguasai apa saja asalkan memiliki akses mendapatkannya, yaitu kekuatan modal dan koneksi kekuasaan. Yang lemah akan terus tertindas, termasuk anak-anak dan perempuan. 

Kesejahteraan yang menjadi harapan ketika bahagia dan terpenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, dalam sistem kapitalisme saat ini jutaan keluarga berada di bawah garis kemiskinan. Padahal kesejahteraan wajib dipenuhi penguasa menurut Islam. Karenanya, sangat urgen untuk mencabut sistem kapitalisme dan mengembalikan aturan pada Sang Pencipta. 

Jika feminisme adalah gerakan protes terhadap gereja dan Bibel kaum wanita di Barat, maka Islam adalah ideologi yang justru menjawab protes tersebut. Maka, jika saat ini umat Islam masih ada yang ikut-ikutan latah mengkampanyekan ide-ide femenisme, sungguh dia adalah Muslim yang buta dengan ajaran-ajaran Islam. 

Di dalam Islam kaum perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga. Wanita diperlakukan secara mulia layaknya sebagai manusia yang bermartabat, bukan seperti anggapan kapitalis sebatas komoditas. Islam telah menggariskan bahwa perempuan harus selalu dijamin nafkahnya oleh wali atau kerabat laki-laki mereka, dan jika mereka tidak memilikinya maka negara yang akan menjamin kebutuhan finansialnya. 

Dalam pandangan sistem Islam, perempuan merupakan pusat peradaban. Islam mengangkat derajat perempuan sebagai sesama hamba Allah seperti halnya laki-laki. Lelaki dan perempuan yang beriman dalam pandangan Islam adalah mitra dan penolong satu dengan yang lain dalam rangka meraih ketakwaan kepada Allah SWT.

Kaum muslimah memegang peran yang sangat penting dalam mempertahankan kokohnya keluarga dan identitas Islam masyarakat Muslim. Masyarakat yang sehat bisa dicapai jika kaum muslimah sadar akan di mana posisinya yang tepat dan kembali meraih posisi tersebut. Posisi utama perempuan adalah sebagai pendidik generasi masa depan. Seorang muslimah berperan sebagai ibu generasi penjaga peradaban (ummu ajyal). 

Secara individual, muslimah mendidik anak di rumah sebagai ummu wa rabbatul bayt yakni berperan sebagai ibu dan istri di rumah. Inilah peran mendasar yang telah diberikan oleh Islam kepada kaum perempuan. Kemudian, secara komunal, muslimah juga membina generasi di ruang publik sebagai ibu generasi. Pertama, melakukan pembinaan di tengah-tengah umat dengan tsaqafah Islam dalam rangka membentuk dan menguatkan kepribadian Islam generasi. Membangun kesadaran politik umat dan generasi, yaitu dengan turut melakukan koreksi terhadap penguasa dan membangun kesadaran umat tentang bagaimana memelihara urusannya dengan syariat Islam. Dengan ketidaksempurnaan penerapan sistem Islam di tengah kehidupan kini, maka para muslimah berperan besar memperjuangkannya.  

Sungguh, ide kesetaraan gender telah mencoba meracuni pemikiran umat Islam. Bahkan, membahayakan dan menyesatkan kaum perempuan. Bahaya karena selangkah demi selangkah perempuan ditarik menjauh dari nilai agamanya. Menyesatkan peremuan keluar dari kordatnya dan tanggung jawabnya secara fitrah sebagai ibu dan manager rumah tangga. 

Umat saat ini tengah membutuhkan peran perempuan dan para ibu yang mampu mencetak pemimpin-pemimpin besar di masa depan. Maka, para ibu harus memiliki kesadaran untuk konsisten mendidik generasi penerus yang akan memajukan peradaban. Hal ini tentu merupakan investasi yang jauh lebih berharga bagi pembangunan.[]



*) Penulis dari Komunitas Muslimah Banua Menulis. Berdomisili di HSS, Kalsel



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!