Monday, July 2, 2018

Menyikapi Fenomena Urbanisasi Pasca Lebaran


Oleh : Ummu Rahman, S.Pd


Fenomena yang biasa kita jumpai usai lebaran adalah kembalinya para pekerja ke sejumlah kota besar untuk mengais rejeki, namun yang menjadi masalah adalah banyaknya dari mereka yang kembali dengan membawa sanak, saudara atau teman untuk mengadu nasib. Meski Menkeu Sri Mulyani mengatakan bahwa urbanisasi bisa memberikan banyak dampak positif bagi perekonomian (Tempo.Co/19/12/2017). Namun, realitanya justru urbanisasi adalah bukti kegagalan atas pemerataan pembangunan dan menimbulkan sejumlah problem sosial.


Dalam berbagai dokumen Agenda Baru Perkotaan ( NUA ) dan SDGs yang di prakarsai oleh PBB di sebutkan bahwa urbanisasi adalah sebuah proses yang alami yang sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakat dan sebuah keniscayaan yang tak mungkin dihindarkan. Bahkan menurut Menkeu Sri Mulyani urbanisasi diharapkan bisa jadi motor pertumbuhan ekonomi nasional dan berkontribusi pada peningkatan PDB.


Pandangan bahwa urbanisasi adalah sebuah kewajaran dan berkontribusi pada ekonomi, melahirkan sikap bahwa pembangunan hanya di fokuskan di perkotaan dan penataan perkotaan harus memperhatikan pola urbanisasi. Karena diharapkan kota bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat desa dan akan meningkatkan jumlah urbanisasi serta berkontribusi pada pertumbuhan PDB perkapita. Bahkan di targetkan pada 2050, diperkirakan 75 persen penduduk sebuah negara akan tinggal di perkotaan.

 

Penataan perkotaan yang hanya berorientasi pada profit, telah mengabaikan aspek dampak yang di hasilkan dari pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di sejumlah kota di Indonesia yakni munculnya sejumlah problem sosial akibat kesenjangan ekonomi yang semakin besar,  seperti tingginya angka kriminalitas, kekerasan terhadap perempuan, hancurnya institusi keluarga akibat perceraian, gaya hidup bebas hingga angka bunuh diri yang tinggi. Fenomena tersebut juga di jumpai di sejumlah negara maju di dunia seperti Amerika, dimana kemajuan ekonomi berdampak pada runtuhnya peradaban, atau yang biasa di sebut dengan sindrom Chicago.


Islam menyelesaikan problem urbanisasi


Urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota adalah dampak dari pembangunan perkotaan ala kapitalis dimana rancangan pembangunan untuk mempertahankan keuntungan bagi para kapital(pemilik modal) atas kota melalui pembangunan gedung-gedung pencakar langit, hotel, pusat perbelanjaan hingga sejumlah tempat hiburan. Sementara desain perkotaan menurut Islam tidak sekedar memperhatikan profit atau keuntungan, tetapi model pembangunan yang mampu menjamin terpenuhinya seluruh kebutuhan dasar rakyat, orang per orang, secara menyeluruh, serta kesempatan bagi setiap orang untuk bisa memenuhi kebutuhan sekunder dengan corak dan gaya hidup yang unik.

Model pembangunan Islam adalah implementasi dari Politik Ekonomi Islam dalam sebuah negara Khilafah, yang dibangun atas asas : 

1. Individu dipandang sebagai orang per orang, yang masing-masing mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi

2. Terpenuhinya kebutuhan pokok dan dasar individu, orang per orang, secara menyeluruh

3. Tersedianya kesempatan yang sama untuk memiliki harta dan berusaha

4. Mengutamakan nilai luhur dalam kegiatan ekonomi

Semua itu bisa di raih dengan strategi umum (yakni Islam mengatur 4 sumber ekonomi negara:pertanian, perindustrian, perdagangan dan jasa) sebagai solusi ekonomi rakyat dan menjadikan emas dan perak sebagai sistem moneter serta melarang prakter riba dan judi . Selain itu, negara menerapkan strategi yang menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat dengan cara mewajibkan setiap pria, baligh, berakal dan mampu untuk bekerja memenuhi kebutuhan diri dan orang yang menjadi tanggungannya. Jika dia tidak mampu, maka beban tersebut dibebankan kepada ahli waris dan kerabatnya. Jika dia juga tidak ada, maka beban tersebut berpindah ke pundak negara.


Pembangunan perkotaan dalam Islam


Pembangunan infrastruktur kota dalam sistem Islam yakni sistem khilafah telah berjalan dengan baik. Sejak tahun 950 M, jalan di Cordoba sudah diperkeras, dibersihkan dari kotoran dan malamnya di terangi lampu minyak. Sementara kota Fez Maroko sejak 1000 tahun lalu, telah menjadi sebuah kota dengan sistem kehidupan yang mandiri dan eksklusif dengan infrastruktur kota yang lengkap, mulai dari toko, sekolah agama, rumah, pasar, restoran, klinik kesehatan, masjid, pabrik, hingga universitas yang memungkinkan penduduk kota tidak perlu keluar kota karena semua kebutuhan sudah terpenuhi di dalam kota.


Karena itu problem urbanisasi bukan sekedar adanya daya tarik kota di bandingkan desa, tapi urbanisasi adalah bukti kegagalan tata kelola negara dalam sistem kapitalis dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan yang hanya  berorientasi pada profit. Karena itu, tidak ada pilihan lain selain berpindah kepada pengaturan negara berdasarkan Islam yang terbukti selama 13 abad membawa kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!