Wednesday, July 11, 2018

Masih Amankah Utang Negara?


Oleh: Fika Anjelina (Anggota Komunitas Menulis Mojokerto)


Ketika sudah membicarakan utang, setiap orang pasti akan merasa tidak tenang dan was- was dalam menjalani kehidupan ini. Makan tak enak, tidurpun tidak nyenyak karena memikirkan utang. Begitulah kebanyakan yang kita alami. Dan ini masih membicarakan tentang utang dalam skala pribadi. 


Lalu bagaimana dengan utang yang sedang ditanggung oleh negara yang kita cintai ini?. Kalau kita melihat angkanya, bisa membelalakan mata dan membuat kita terhenyak. Sehingga tidak sedikit yang mempertanyakan, bagimana sih kinerja pemerintah kok sampai harus terlilit utang. Bagaimanapun juga utang yang dilakukan suatu negara terhadap pihak lain tidak bisa disamakan kedudukannya dengan hutang antar individu / warga. Ditambah lagi jika utang negara tersebut sangatlah besar dan harus dibayar bunganya secara terus menerus sebelum pokoknya tunai terlunaskan.


Secara teori, utang negara adalah pinjaman yang dijamin oleh Pemerintah, dimana Pemerintah menerbitkan obligasi dan menjualnya kepada investor atau pemberi pinjaman.  Artinya utang akan ada jika pengeluaran kita lebih besar daripada pemasukan, begitu juga dengan obligasi negara.  Sebuah negara akan menerbitkan obligasi jika Belanja negara lebih besar daripada Pendapatan Negara. Kondisi seperti ini biasa kita kenal dengan istilah defisit. Tentunya ini merupakan suatu kebijakan yang perlu dilakukan oleh negara agar tetap produktif dan hal ini umum dilakukan dalam mengelola keuangan negara.


Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal pertama tahun ini mencapai US$387,5 Miliar atau sekitar Rp5.425 triliun (kurs Rp14 Ribu per dolar AS). Angka tersebut naik 8,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu US$330,04 miliar.  Dan berdasarkan data statistik ULN yang dirilis BI, Selasa (15/5), kenaikan terutama terjadi pada utang pemerintah yang naik 11,6 persen menjadi US$181,14 miliar atau sekitar Rp2.535 triliun. Sementara itu, utang luar negeri swasta hanya naik 6,3 persen menjadi US$174,05 miliar atau sekitar Rp2.437 triliun. ( CNN Indonesia)


Jumlah utang yang ditanggung Indonesia jauh melampaui jumlah pendapatan negara. Total pendapatan dalam APBN 2018 adalah sebeesar 1.894,7 triliun rupiah. Terdiri dari pendapatan pajak 1.618,1 triliun rupiah dan pendapatan bukan pajak 275,4 triliun rupiah. Ibarat pepatah mengatakan besar pasak daripada tiang yang artinya besar pengeluaran daripada pemasukan. Inilah realita yang terjadi di negeri kita tercinta.


Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry mengomentari jumah utang luar negeri(ULN) Indonesia pada akhir April 2018.

Dari catatan BI, ULN tersebut berada pada angka 356,9 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp 4996, trilliun (kurs Rp 14.000 per dollar AS). Menurut Perry, ULN tersebut masih dalam kategori aman jikadilihat dari rasio produk domestik bruto (PDB). Perry menambahkan dengan rasio PDB sekarang maka outsanding utang tersebut masih aman. Saat ini kemampuan membayar debt service ratio atauDSR Indonesia masih aman. Indikator berikutnya yang membuat ULN Indonesia masih batas aman adalah adanya ketentuan tentang kehati-hatian dalam pengelolaan utang. (Kompas.com)


Menurut Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan dengan perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal, ekonomi Indonesia dalam rentang 2015 hingga 2017 rata-rata 8,74 persen per tahun. Sementara, total utang pemerintah pada periode yang sama rata-rata naik 14,81 persen per tahun. Akibatnya, laju penambahan utangyanglebih kencang dari PDB akan semakin menggerogoti stabilitas perekonomian ke depan. 


Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan pemerintah agar berhati-hati mengelola utang agar tidak salah manajemen yang bisa berakibat fatal. Sejarah krisis ekonomi Indonesia dan banyak negara di dunia karena persoalan utang luar negeri yang menumpuk, yang tidak mampu menahan fondasi nilai tukar dan tidak bisa membangun kepercayaan internasional. 

Contoh nyata banyak negara yang tidak bisa melunasi utang dan harus menebusnya dengan harga yang luar biasa.  Misalnya Zimbabwe harus menghapus buku utang-utangnya sebesar 40 juta dollar AS kepada Cina dan mengganti mata uangnya menjadi Yuan. Srilangka juga mengalami gagal membayar hutang sehingga saham pelabuhannya dikuasai BUMN Cina hingga 70%.


Abdurrahman al Maliki dalam kitab Politk Ekonomi Islam menjelaskan bahwa hutang luar negeri untuk pendanaan proyek adalah cara paling berbahaya bagi eksistensi negara. Pemberian utang juga merupakan jalan untuk menjajah sebuah negara. Utang  tidak menghasilkan apa-apa kecuali bertambahnya kemiskinan bagi negara yang berhutang.

Kalaupun utang tersebut digunakan untuk pembiayaan produktif, maka cara pembiayaan tersebut sangat berbahaya. Dampak jangka pendek adalah kekacauan moneter. Karena ketika jatuh tempo masa pelunasan, mata uang negara yang berhutang akan diserang sehingga anjlok dan gagal melunasi. Kondisi ini pernah terjadi di Indonesia 1997-1998 yang berujung pada krisis moneter. Adapun dampak jangka panjang, negara donor bersikap toleran saat pelunasan sehingga utang menumpuk dan APBN menjadi kacau. Sehingga harus dilunasi dengan berbagai aset  negara  dan harus menerima untuk didikte oleh negara/ lembaga pemberi utang. 


Lalu bagaimana solusi untuk mengatasi ini?. Selama negeri ini masih menjadikan utang sebagai alat fiskal untuk menstimulasi perekonomian karena negara tidak memiliki dana untuk membangun roda ekonomi sehingga berhutang, maka tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini.  Untuk menyelesaikan masalah utang ini, dibutuhkan perubahan yang mendasar dan menyeluruh sehingga memiliki sistem keuangan yang kokoh. Sistem keuangan yang kokoh akan terbangun jika sebuah negara memiliki sistem politik yang kuat dan tidak akan didikte oleh negara lain. Sistem yang kokoh ini hanya bisa berasal dari Sang Maha Kuat dan Maha Pencipta manusia.

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman : 

اَفَحُكْمَ  الْجَـاهِلِيَّةِ يَـبْغُوْنَ ۗ  وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّـقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ


“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang menyakini (agamanya)?” 

(QS. Al Ma’idah 5:ayat 50)


  Sistem keuangan bisa kokoh karena terbebas dari utang yang mengandung bunga atau riba. Kita mengetahui setiap utang yang diberikan lembaga keuangan dunia tidak akan lepas dari bunga. Inilah yang menyebabkan negara berkembang semakin terlilit hutang karena harus membayar bunga terus menerus sebelum pokok utangnya terlunasi. Padahal sudah jelas hukum riba di dalam firman Allah SWT QS Al Baqarah ayat 275

“ Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukkan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba......”(TQS. 2:275)


Sudah saatnya kita menyadari bahwa kemaslahatan dan kemuliaan hidup hanya akan didapatkan dengan menerapkan aturan  Islam. Seharusnya kita menjadikan  Islam tidak hanya sebagai aqidah ruhiyah saja, melainkan menjadikan Islam sebagai pedoman dalam aktifitas kehidupan kita termasuk dalam ekonomi. Karena Islam adalah agama yang sempurna dalam mengatur sistem kehidupan kita. 


Wallahu’alam


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!