Thursday, July 12, 2018

Kapitalisme Penyebab Tercerabutnya Naluri Seorang Ibu


Oleh : Yuliyati Sambas

Member Akademi Menulis Kreatif



Dituding curi uang, bocah dipukul pake gayung hingga tewas oleh Ibunya. Itu adalah judul salah satu tulisan di salah satu surat kabar Tribun Jawa Barat yang terbit 21 Juni 2018 lalu.


Yang pertama kali dirasakan ketika membaca judulnya saja rasa ngeri, miris, campur sedih dan tak habis fikir dengan kelakuan bejat yang telah dilakukan oleh sosok yang bernama ibu terhadap anak kandungnya sendiri. Setan apa gerangan yang sudah merasuki fikirannya sehingga demikian tega menghabisi darah dagingnya sendiri, buah hati yang selama ini ia kandung, besarkan, dan ia didik.


Diceritakan bahwa yang menjadi penyebabnya adalah bentuk kekesalan sang ibu karena anaknya yang masih berusia 8 tahun telah berani mencuri uangnya sebanyak Rp 51.000, lantas sang ibu dengan serta merta memukulinya menggunakan gayung hingga anak malang itu tersungkur dan kepalanya terbentur lantai.


Tetangga yang mendengar kegaduhan segera melerai kejadian naas tersebut namun sayangnya nyawa si anak sudah hampir di tenggorokan dan didapati bagian kepalanya mengeluarkan cairan kental dan ia telah kejang-kejang.



Ini bukanlah permasalahan kasuistik karena telah ada begitu banyak contoh lain yang serupa yakni kasus penganiayaan, penelantaran, bahkan pembunuhan antar anggota keluarga.



Seorang ibu sejatinya memiliki naluri mencintai, menyayangi, dan senantiasa ingin melindungi putra putrinya sebagai buah hati belahan jiwanya.


Jika naluri yang fitri dari seorang ibu  dapat tercerabut demikian dahsyat, maka dapat dipastikan ada problematika yang demikian akut, beban hidup yang teramat berat untuk dipikulnya.


Kesulitan ekonomi sistemik dari kapitalisme yang dianut di negeri ini  menjadi beban yang teramat berat untuk dipikul oleh keluarga-keluarga kaum muslimin.



Sosok ibu yang secara fitrahnya ditugasi untuk menjalankan amanah dalam mengasuh, membersamai, dan mendidik anak-anaknya dengan landasan kasih sayang harus rela untuk ditambah beban tugasnya bekerja membanting tulang demi terpenuhinya kebutuhan hidup yang demikian sulit.


Budaya sekularistik yang dianut menjauhkan rasa takut manusia ketika melanggar batasan-batasan aturan yang telah Allah tetapkan.


Tipis dan keroposnya iman dan takwa tidak mampu menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi gempuran problematika hidup yang bertubi-tubi.


Maka sistem kapitalisme yang menjadi akar permasalahannya wajib kita buang jauh-jauh. Lantas kaum muslimin wajib kembali pada sistem kehidupan yang menjamin tersalurkannya naluri-naluri yang fitrah dari manusia, dan ia adalah sistem khilafah islam yang mengikuti manhaj kenabian.

 _Allahu_ _Akbar_.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!