Wednesday, July 4, 2018

Cermat Sebelum Berpendapat


Oleh : Binti Adib,S Pd


Saya teringat cerita orang buta ditanya bentuk gajah. Diceritakan di sebuah negeri ada seorang   raja memiliki gajah yang perkasa. Suatu hari sang raja melalui suatu wilayah. Banyak penduduknya yang ingin tahu gajah tersebut. Penduduknya yang buta juga ingin tahu bentuk gajah. Karena sama sekali tak tahu rupa atau bentuk gajah, mereka hanya bisa meraba-raba, mencari kejelasan dengan menyentuh bagian tubuhnya. Masing-masing hanya menyentuh satu bagian, tetapi berpikir telah mengetahui sesuatu.

Sekembalinya dari  kota, orang-orang yang hendak tahu segera mengerubungi mereka. Orang-orang itu tidak sadar bahwa mereka mencari tahu tentang kebenaran kepada sumber yang sebenamya telah tersesat.Mereka bertanya tentang bentuk dan wujud gajah, dan menyimak semua yang disampaikan.Orang yang tangannya menyentuh telinga gajah ditanya tentang bentuk gajah. Ia menjawab, "Gajah itu besar, terasa kasar, luas, dan lebar seperti permadani."Orang yang meraba belalai gajah berkata, "Aku tahu yang lebih benar tentang bentuk gajah. Gajah itu mirip pipa lurus bergema, mengerikan dan suka merusak."Terakhir, orang yang memegang kaki gajah berkata, "Gajah itu kuat dan tegak, seperti tiang."Masing-masing hanya menyentuh satu bagian saja, dan keliru memahaminya. 

Demikianlah kesimpulan yang diambil dari data yang tidak lengkap.

Ada bermacam-macam  pandangan  bagaimana   penerapan Islam  mencontoh  Rosululloh. Ada yang mengira  menerapkan Islam ala  Rosululloh  berarti cebok dengan batu. Orang yang seperti ini  mungkin   belajar fiqih baru sampai  bab thaharoh ,sub bab istinja’.  Atau  mungkin membacanya kurang teliti.  Kalau berpikirnya seperti ini ,bisa jadi ia berkesimpulan kendaraan yang ada hanya onta dan kuda.   

Ada juga yang mengatakan kalau Islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari nanti orang non Muslim akan didzalimi, disuruh pindah agama,dipaksa menjalankan syariat Isam, dan lain sebagainya..  Betulkah kesimpulan ini? 

Mencermati perbuatan Rosululloh perlu dibedakan antara perbuatan  yang mubah dan wajib. Perbuatan yang harus diikuti umatnya  atau perbuatan yang boleh diikuti dan boleh tidak. Sholat lima waktu,puasa romadlon termasuk perbuatan yang wajib bagi Rosululloh dan juga bagi umatanya. Sholat duha merupakan amal sunah. Puasa wisol( siang dilanjukan malam tanpa berbuka) dilarang bagi umat belioa,tapi boleh bagi belio. Ada juga perbuatan yang boleh bagi belio dan juga umatnya,misalnya minum air putih,dan lain-lain.

 Perbuatan itu ada yang sifatnya teknis(uslub) dan metode. Yang teknis bagi umat Islam boleh kreatif.  Ada juga yang terkait sarana prasarana . Hal ini boleh menyesuaikan perkembangan jaman. Tidak semua yang dilakukan Rosulullah mesti harus kita lakukan.

Metode (tharîqah) adalah cara untuk merealisasikan ide sehingga sebuah ideologi menjadi aplikatif (membumi), tidak menjadi falsafah kosong. Rasulullah saw. tidak hanya sekadar menjadi penyampai berbagai penjelasan Tuhannya semata, tetapi juga menjadi seorang hakim pelaksana atas berbagai penjelasan tersebut. Rasulullah saw., misalnya, tidak hanya sekadar menjelaskan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa yang harus disembah, tetapi juga berusaha agar hal itu bisa direalisasikan ke dalam dunia nyata.  Uslûb (cara) adalah cabang dari metode (tharîqah). Uslûb berbeda dengan tharîqah; ia tidak memiliki pijakan dalil secara khusus, tetapi mengikuti hukum tharîqah. Contohnya adalah dalam konteks jihad, yakni ketika Allah SWT memerintahkan kaum Muslim menyiapkan kekuatan apa saja yang mungkin dapat digunakan untuk menggentarkan, melawan, dan mengalahkan musuh. Kalau dulu pedang, saat ini tentu harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada.


Siapkanlah kekuatan yang mungkin kalian siapkan untuk (menghadapi) mereka. (QS al-Anfal [8]: 60).

Kalau kita buka kitab-kitab fiqih klasik dari bab pertama sampai terakhir akan kita jumpai banyak bab disana. Mulai bab thoharoh(bersuci) hingga bab Jihad. Jika dipelajari secara lengkap akan tergambar bagaimana seorang Muslim menyembah Alloh, syarat ,rukun, beserta tata caranya secara lengkap dan detail. Juga akan tergambar bagaimana seseorang muslim harus  bermuamalah ,menyelesaikan persengketaan,mengatur kehidupan bermasyarakat.   Yang semua hukumnya tetap relevan dengan problem kekinian. Untuk masalah baru,ada kebolehan ijtihad asal tetap menjadikan al Qur’an dan As Sunah sebagai sumber  hukum.

 Dalam buku Syakhsiyah Umar wa Aruhu (dalam edisi Indonesia berjudul The Great Leader of Umar bin Al Khathab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua), Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi menulis bahwa dulu Khalifah Umar pernah memiliki seorang budak laki-laki yang beragama Nasrani. Namanya Asyiq. Asyiq bercerita: Saya adalah seorang budak beragama Nasrani milik Umar. Umar berkata kepada saya; “Masuk Islam lah kamu agar kami dapat menugaskan kamu untuk menangani beberapa urusan kaum Muslim. Sebab, kami tidak pantas menugaskan untuk mengurusi urusan kami dengan orang yang bukan dari golongan kami.” Akan tetapi, saya menolak tawaran Umar. Lalu Umar membacakan firman Allah (yang artinya): Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam. Tatkala Umar akan meninggal, Dia memerdekakan saya dan berkata, “Pergilah kamu ke mana saja kamu inginkan!”.

Para penganut Ahlul Kitab juga bebas menjalankan syiar-syiar agama dan upacara-upacara keagamaan mereka di tempat-tempat ibadah dan rumah-rumah mereka. Tidak ada seorang pun yang berani melarang mereka untuk melakukan aktivitas tersebut karena syariah Islam menjamin kebebasan keyakinan mereka.

Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Khalifah Umar ra. pernah menulis sebuah perjanjian dengan penduduk Ilia (Qudus). Dalam surat perjanjian tersebut Khalifah Umar ra. menjelaskan tentang pemberian jaminan keamanan bagi penduduk Ilia atas diri, harta, salib dan gereja-gereja mereka.

Gubernur Umar di Mesir, Amr Bin al-Ash, pernah menulis surat perjanjian yang ditujukan kepada penduduk Mesir. Surat perjanjian itu berbunyi; “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah apa yang diberikan oleh Amr Bin al-Ash kepada penduduk Mesir berupa jaminan keamanan atas diri, agama, harta benda, gereja-gereja, salib, darat dan laut mereka.”

Para ulama fikih telah sepakat bahwa Ahludz Dzimmah berhak menjalankan syiar-syiar agama mereka. Mereka tidak dilarang untuk menjalankan aktivitas tersebut selama mereka tidak menampakkan secara terang-terangan. Bila mereka ingin menjalankan syiar-syiar agama mereka secara terang-terangan seperti mengeluarkan tanda salib mereka, maka para ulama fikih melarang mereka melakukan hal tersebut di daerah-daerah Islam dan tidak melarang mereka untuk melakukannya di daerah dan perkampungan mereka.

Dalam data sejarah disebutkan bahwa Khalifah Umar ra. adalah khalifah yang sangat perhatian terhadap Ahludz Dzimmah. Khalifah Umar ra. membebaskan mereka dari kewajiban bayar pajak ketika mereka tidak mampu untuk membayarnya. Dalam kitab Al-Amwâl, Abu Ubaid mengatakan: Suatu hari, Khalifah Umar ra. melintas di sebuah pintu gerbang rumah suatu kaum. Di situ terdapat seorang laki-laki tua yang buta sedang mengemis. Umar menepuk pundak laki-laki tua itu dan bertanya, “Dari golongan Ahlul Kitab mana Anda berasal?” Laki-laki tua itu menjawab, “Aku adalah seorang Yahudi.” “Mengapa Anda mengemis?” tanya Umar. “Aku mencari uang untuk bayar pajak dan untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari,” jawab laki-laki tua itu. Setelah itu Khalifah Umar menggandeng tangan dan membawa laki-laki tua itu ke rumahnya. Umar memberikan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan si laki-laki tua tersebut kemudian Umar menyuruh si laki-laki tua itu untuk menemui petugas Baitul Mal. Kepada petugas Baitul Mal, Khalifah Umar mengatakan, “Perhatikanlah kebutuhan orang ini dan orang-orang yang seperti dia! Demi Allah, kita tidak pantas memakan hartanya (dari hasil pembayaran pajak) ketika dia masih muda, lalu kita menelantarkan dia ketika dia ya sudah

T.W. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam, menuliskan bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Dia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”.

Arnold kemudian menjelaskan; “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman -selama kurang lebih dua abad setelah penaklukkan Yunani- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa. Kaum Kalvinis Hungaria dan Transilvania, serta negara Unitaris (kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada di bawah pemerintahan Hapsburg yang fanatik; kaum protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki, dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam… kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.”

Agar  tidak salah menyimpulkan   kita harus mengumpulkan informasi yang cukup.  Kita harus dengan cermat memahami. Jangan sampai narasi kebencian menjadikan kita gagal paham, menyimpulkan sangat jauh berbeda dengan realitas dan fakta yang ada.  Bagaimana mungkin syariah Islam yang berasal dari Sang Pencipta alam semesta ini berlaku tidak adil dan diskriminatif. Jika demikian adanya maka akan bertentangan dengan sifat Allah Yang Mahaadil dan Mahasayang kepada semua makhluk-Nya. Keyakinan kebenaran Al Qur’an dan ajaran Rosulullah menjadi pondasi utama. Wallohu a’lam.

 



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!