Monday, July 2, 2018

Bocah Ngapa Yak


Oleh : Tri Silvia (Ummahat Peduli Umat)


Disuruh sholat gak pernah mau

Disuruh zakat juga gak mau

Bulan puasa batal melulu

Diajak ngaji bilangnya malu

Bocah ngapa ya. Bocah Ngapa Yak. Bocah Ngapa Yak.

Pasti pada tau kan lirik lagu di atas. Lagu yang dibawakan grup band Wali ini menjadi viral di masyarakat karena lirik yang mudah diingat dan sedikit jenaka.

Terkait dengan judul 'Bocah Ngapa Yak?', secara bahasa pun sudah menjadi istilah biasa di tengah masyarakat, terutama masyarakat Betawi. Istilah 'Bocah Ngapa Yak' menggambarkan rasa kebingungan amat sangat orang tua atas perilaku anak-anak yang tidak lazim.

Kids Zaman Now sebutannya. Banyak tingkah laku mereka yang tidak lazim. Tingkah laku yang buat geleng-geleng orang dewasa di sekitarnya. Tak percaya?

Jum'at (01/5), disebutkan bahwa seorang remaja berinisial MSA (19) harus menjalani perawatan intensif di RSU Tangerang karena mengalami luka serius di bagian depan lehernya.

Ia menjadi sasaran pelampiasan kemarahan SB (16) saat berusaha melerai perkelahian pelaku dengan temannya, MUS (18), di Jalan Raya Kecamatan Sukadiri (tangerangnews.com, 01/06/08).

Lalu sebelumnya beredar video dua orang anak Sekolah Dasar yang berciuman sambil guling-guling. Sebuah adegan yang sangat tidak pantas dilakukan oleh anak-anak. Apalagi mereka melakukannya di halaman sekolah dan disaksikan oleh teman-temannya. Terkait dengan adanya video ini Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia bidang Pengasuhan, Rita Pranawati sudah melaporkan video tersebut ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri (akurat.co, 28/04/2018), namun sayangnya video yang dimaksud tetap saja menjadi viral di tengah-tengah masyarakat.

Lalu ada pula kisah dua orang bocah yang batal nikah karena permintaannya ditolak oleh KUA dengan alasan usia yang belum matang. Bocah yang pertama adalah bocah SMP (Sekolah Menengah Pertama), usia 13 tahun yang diketahui telah hamil 6 bulan oleh pacarnya anak kelas V SD (Sekolah Dasar). Ia telah hamil 6 bulan setelah melakukan hubungan intim dengan pacarnya tersebut. Yang membuat tambah geleng-geleng kepala adalah sang ayah bocah SD yang menghamili pacarnya itu justru mengatakan bahwa ulah anaknya adalah bagian dari uji kejantanan pasca disunat. (jabar.tribunnews.com, 23/05/2018)

Selain ketiga kasus di atas, ada banyak lagi kisah dan kasus yang meliputi para bocah alias anak-anak Indonesia saat ini. Hanya satu kata yang mampu dikatakan mengenai tingkah laku mereka. Miris.

Ada empat hal yang harus diperhatikan dan menjadi pemikiran semua orang sebagai solusi permasalahan anak-anak saat ini. Yakni;

1. Merevisi penentuan usia dewasa

Undang-undang Indonesia telah menetapkan batas usia dewasa seseorang adalah 18 tahun. Jadi orang yang berusia di bawah 18 tahun masih terkategori anak-anak. Mereka memiliki hak untuk mendapat keringanan dalam berbagai hal.

Berbeda dengan Islam, yang mengkategorikan orang usia dewasa dengan bahasa baligh. Artinya telah sampai batas kesempurnaan. Orang yang telah mengalami baligh, maka ia telah mendapatkan taklif hukum syariat yang sama dengan orang usia dewasa. Dengan kata lain, mereka akan mendapatkan sangsi hukum yang sama dengan orang dewasa saat melakukan kesalahan.

Adapun baligh di dalam Islam ditandai dengan keluarnya darah haid (bagi wanita) dan mimpi basah (bagi lelaki). Jika tidak, maka 15 tahun menjadi batasannya.

“Ketiga tanda baligh tersebut adalah sempurnanya umur lima belas tahun bagi anak laki-laki dan perempuan, keluarnya sperma setelah berumur sembilan tahun bagi anak laki-laki dan perempuan, dan menstruasi atau haid setelah berumur sembilan tahun bagi anak perempuan”.(lihat Salim bin Sumair Al-Hadlrami, Safiinatun Najah, (Beirut: Darul Minhaj: 2009), hal. 17).

2. Pembinaan Keislaman Orang Tua 

Peran orang tua sangat penting dalam hal ini. Dibandingkan orang-orang dewasa lain di sekitar mereka, orang tua adalah sosok yang paling dekat. Keduanya adalah orang yang pertama dikenal sang anak. Sehingga pendidikan orang tua kepada anaknya adalah poin paling krusial bagi masa depan sang anak.

Selain itu, model pendidikannya pun harus sesuai dengan apa yang diajarkan sang Pencipta, bukan yang lain. Model pendidikan seperti yang dicontohkan Rasulullah saw dan dituliskan dalam Alquran dan hadis.

InsyaAllah dengan penerapan yang baik, orang tua akan mendapati sang anak menjadi sosok tangguh yang mampu menanggulangi buruknya lingkungan sekitarnya.

3. Lingkungan Sekolah yang Kondusif

Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Hadis di atas menjelaskan tentang bagaimana menjaga lingkungan pergaulan. Dalam konteks ini pergaulan di sekolah. Siapa temannya menjadi pertanyaan yang cukup sering keluar dalam proses penilaian seseorang. Penting untuk orang tua dan pihak sekolah mengontrol pergaulan sang anak di lingkungan sekolah.

Selain itu, masalah kurikulum yang dirasa kurang memberikan ruang untuk pendidikan akidah dan tsaqofah keislaman, juga kental dengan muatan kapitalis sekuler menjadi masalah lain yang perlu dituntaskan.

4. Kontrol Masyarakat

Dulu, jauh ketika norma-norma masyarakat masih diberlakukan, masyarakat hidup tenteram damai di bawah kontrol masyarakat yang baik. Mereka saling bahu membahu menolong tetangganya yang kesulitan. Mereka begitu peduli satu sama lain. Namun kini? 

Jauh berbeda, masyarakat kini cenderung individualis. Mereka tak mau repot dengan urusan tetangganya. Mereka tak suka diganggu. Akhirnya aktivitas saling menasehati pun tercerabut dari tengah mereka.

Ini adalah awal bencana. Masyarakat yang abai akan menghasilkan keabaian umum. Orang dewasa akan bertindak sesuka hati, tak perduli halal haram, wajib, mubah, makruh, sunnah. Anak-anak tidak faham tentang aktivitas anak seusianya, mereka cenderung melakukan hal yang membuat mereka senang, tak perduli baik buruk, sesuai atau tidak sesuai dengan usianya.

5. Kebijakan Penguasa

Poin penting yang seringkali dilewatkan. Penguasa adalah orang yang memiliki wewenang khusus dalam sebuah wilayah pemerintahan, dimana mereka punya hak untuk mengatur rakyatnya dengan berbagai kebijaksanaan.

Banyak faktor yang menyebabkan tingkah laku konyol bahkan membahayakan bocah alias anak-anak. Salah satunya adalah penggunaan gawai yang tidak semestinya. Tontonan yang tidak tersaring dapat dengan mudah dikonsumsi anak-anak, yang kemudian dijadikan tuntunan oleh mereka sebagai ganti orang tua yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi nya.

Disanalah salah satu letak pentingnya penguasa. Sebagai usaha pencegahan, para penguasa harusnya bisa ciptakan lingkungan kondusif untuk masyarakat, terutama kalangan anak-anak. Bagaimana seluruh tontonan yang ada (baik dalam gawai maupun media lainnya) bisa disaring sedemikian rupa sehingga tidak ada yang melanggar aturan syariah.

Selain itu, adanya penerapan hukum yang setimpal dengan pelanggaran, harus dilakukan sesuai dengan aturan Sang Pencipta. Allah Sang Pencipta telah menetapkan aturan sangsi dalam Alquran dan hadis, dimana kesemuanya memiliki dua fungsi yakni sebagai penebus dan pencegah. Sebagai penebus artinya hukuman yang diberikan akan menjadi penebus atas segala dosa yang dilakukan. Adapun sebagai pencegah maksudnya bahwa hukuman yang diberlakukan pada pelaku bisa jadi peringatan untuk orang lain yang melihatnya.

Begitulah kiranya lima poin yang harus dijalankan sehingga tak akan ada fenomena Bocah Ngapa Yak lagi di kemudian hari. Perlu diperhatikan bahwa kelima poin di atas harus dilaksanakan semua, tidak setengah-setengah. Penting kiranya keberadaan sebuah sistem yang bisa mengakomodir terciptanya lima poin di atas agar kedamaian dan keamanan masyarakat dapat tercapai, tingkah laku anak-anak pun bisa dijaga agar lurus sesuai dengan prinsip Islam, menjadi para pejuang pembela Islam di kemudian hari. Hanya satu sistem yang dapat melakukannya yakni Islam rahmatan lil 'alamiin. 

Wallahu a'lam bis shawab


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!