Monday, July 2, 2018

Bahaya Moderasi Islam 



Oleh : Masliati,  SPd (Pengurus Majelis Ta'lim Almunawawarah Banjarbaru, KalSel) 


Bukti bahwa Indonesia sebagai penja fbga dan pelaksana moderasi Islam atau Islam moderat, tidak diragukan lagi. Betapa tidak setelah Indonesia yang langsung dihadiri oleh Pa Jokowi dalam KTT Islam-Amerika di Riyadh Arab Saudi yang digagas oleh Trump pada tanggal 21 mei 2017, dan diikuti oleh 53 negara. KTT ini ditutup dengan kerja sama melawan terorisme, dan Jokowi sebagaimana pidatonya, mengedepankan pendekatan soft power (tanpa kekerasan) dalam kerjasama tersebut. Cara tanpa kekerasan ditempuh dengan menjadikan Indonesia sebagai model Islam Moderat. Karena itu Indonesia mendapat arahan AS dalam menderaskan Islam moderat.


Yang terbaru Indonesia turut mengirimkan delegasinya pada ahad malam 24 Juni 2018 menuju Baghdad, Irak. Delegasi tersebut terdiri dari tujuh orang, yang diketuai oleh Muklis M Hanafi yang mewakili menteri agama. Konferensi internasional ini berisi tentang wasatiyah dan Islam moderat . Konferensi ini digelar oleh Dewan  Wakaf Sunni Republik Irak. ( Republika. Co. Id. Jakarta).


Menurut Mukhlis nantinya setelah konferensi ini, melalui berbagai program terutama pendidikan dan keagamaan, Pemerintah Indonesia dengan di dukung oleh ormas-ormas Islam berkomitmen untuk terus memperkuat moderasi Islam sebagai sebuah manhaj keberagaman.


Konferensi ini akan membahas empat tema besar. Pertama, peran organisasi keagamaan dalam melindungi masyarakat dari paham ekstremisme. Kedua, perbaikan pemahaman konsep-konsep kunci dalamb memerangi ekstremisme ( kewarganegaraan, jihad, loyalitas dan kebebasan, ketundukan kepada Allah,  proses pemikiran dalam memahami dan memaknai ajaran Islam) . Ketiga, lingkungan sosial dan perannya dalam upaya memerangi ekstremisme. Keempat, peran lembaga pemerintah dan organisasi sosial masyarakat dalam mencegah kebangkitan ISIS.


Hal ini sejalan dengan program dalam melawan terorisme dan disahkan melalui UU terorisme,Terlebih setelah rentetan peristiwa bom bunuh diri yang ditengarai oleh terorisme, akhir- akhir ini sosialisasi Islam moderat semakin massif,  yaitu Islam yang digambarkan sebagai agama yang terbuka, damai, toleran, dan tidak radikal. Sosialisasi ini dilakukan baik melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Sasarannya dari pendidikan anak usia dini  sampai perguruan tinggi.  Juga marak dilakukan melalui pendidikan seperti seminar, diskusi, konferensi dan sebagainya. Penyebaran kian gencar karena dilakukan oleh pemerintah maupun organisasi non pemerintah.


sebenarnya Islam moderat atau moderasi Islam disebut juga Islam wasatiyah, gencar dilemparkan ke publik, menunjuk pada Islam yang baik , benar, sebagai " Rahmatan Lil ' Alamin ".  Sebagaimana diungkapkan  menteri agama RI Lukman Hakim dalam rakornas MUI di Bogor Tanggal 28 November 2017 " muslim wasathi atau Islam moderat adalah muslim yang mampu memberikan ruang bagi yang lain untuk berbeda pendapat, menghargai pilihan keyakinan dan pandangan hidup seseorang". Dalam acara yang sama KH. Makruf Amin pun mengatakan " Islam wasathi adalah Islam yang pandangannya moderat, tidak tekstual, tidak liberal,  gerakan-gerakannya juga moderat, santun, tidak galak, toleran, tidak egois, tidak memaksa, semua dikerjakan sesuai dengan konstitusi dan sesuai dengan mekanisme kehidupan masyarakat Indonesia dalam berbangsa". ( Antara News , 18/12/2017).


Sebenarnya Islam moderat ini tak lain wujud baru dari sekulerisme. Karena kata 'moderat' atau jalan tengah sendiri mulai dikenal luas pada masa abad pencerahan di Eropa. Sebagaimana diketahui konflik antara pihak gerejawan yang menginginkan dominasi agama dalam kehidupan rakyat dan kaum revolusioner yang berasal dari kelompok filosof yang menginginkan penghapusan peran agama dalam kehidupan menghasilkan sikap kompromi. Yakni pemisahan agama dari kehidupan. 


Islam moderat jelas bukan berasal dari Islam dan tidak dikenal dalam Islam. Pemahaman ini justru berkembang pasca diruntuhkannya negara Khilafah yang mendapat dukungan dari negara-negara barat. Tujuannya tidak lain agar nilai-nilai dan praktek Islam khususnya yang berhubungan dengan politik Islam dan berbagai hukum-hukum Islam lainnya dapat di eliminasi dari kaum muslim dan diganti dengan  pemikiran dan budaya barat.


Salah satu yang direkomendasikan Rand Corporation untuk memasarka  Islam moderat adalah mengentalkan kesadaran budaya dan sejarah mereka yang non Islam dan pra Islam ketimbang Islam sendiri. Perpaduan antara Islam dengan budaya lokal Indonesia dan nilai-nilai kearifan lokal , saat ini dimunculkan dengan nama Islam nusantara.


Maka benar saja bahwasanya buah dari moderasi Islam , menuju Islam moderat hingga Islam nusantara adalah ide yang berbahaya bagi umat Islam, diantara bahayanya adalah pertama, bisa mengarah pada sinkretisme Islam. Produknya Islam sinkretis yang tak lain adalah paduan Islam dengan adat atau budaya lokal. Tentu ini tidak sejalan dengan sifat Islam yang universal. Kedua, Islam nusantara akan memecah belah umat dan umat semakin sulit dipersatukan.


Maka bisa dirincikan bahaya dari Islam moderat ini yaitu,Mengebiri Islam, menimbulkan keraguan umat terhadap Islam, menyusupkan paham pluralisme yang memandang semua agama benar, memecah belah Islam dan umat, serta meminggirkan dakwah menerapkan syariat Islam.


Hasil pemikiran Islam moderat ini terjadi pada minggu 24Juni 2018 dimana terjadi dialog dan silaturahim dengan pihak Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), dalam mengamalkan gagasan gus dur tentang belajar toleransi, mereka masuk ke gereja dan diberikan suguhan makan orang kristen masih dalam rangka idul Fitri. (IslamNusantara. Com).


Islam adalah ajaran yang universal yang diturunkan oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia tanpa memandang suku, bangsa,ras dan lain-lain . Rasulullah diutus untuk semesta alam ( QS al anbiya 107).


Karena itu Islam hanya satu, syahadatnya sama, sumber hukumnya sama Al Qur'an dan As Sunnah. Allah SWT menegaskan di dalam Al Qur'an surah al Mu'minun ayat 52 yang artinya 

" Sesungguhnya umat (agama) kalian ini adalah umat (agama) yang satu. Aku adalah Tuhan kalian, karena itu takutlah kalian kepada Ku". 


Namun demikian, meski Islam sebagai agama yang satu, kita tidak menutup mata adanya perbedaan, tetapi perbedaan semata-mata karena perbedaan pendapat, pandangan dan mazhab. Sebabnya karena Nash syariah memungkinkan umat Islam untuk berbeda, akibat adanya nash-nash yang dzanni tsubut (sumber) dan dzanni dalalah (maknanya). Juga karena kemampuan intelektual umatnya juga berbeda-beda sehingga memungkinkan perbedaan dalam memahami nash-nash Syara'.

Namun demikian , ukurannya jelas, kata Sayyidina Ali Ra "jangan lah kamu mengenali kebenaran dengan melihat orang nya, kenalilah kebenarannya itu sendiri, maka kamu akan mengenali orangnya (Al Ghazali, Al - Munqidz min ad Dhalal, I /30)


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!