Friday, June 1, 2018

Yang Muda Yang Melawan Begal


Oleh: Arin RM, S.Si*

Pemuda kembali menjadi korban kejahatan begal. Apa yang terjadi di jembatan Summarecon, Bekasi lalu adalah contohnya. Dua pemuda yang tengah berswa foto melihat pemandangan kota dari atas jembatan disatroni begal. Tak terima ponsel pintarnya dirampas, salah satu korban melawan hingga berhasil melukai pelaku begal dan beujung pada kematiannya. Sambungan kejadian ketika peristiwa ini tercium aparat lah yang menjadikan berita ini viral. Sempat tersiar kabar justru korban yang ditetapkan sebagai tersangka lantaran menewaskan pelaku (nasional.republika.co.id, 28/05/2018). Sontak fenomena ini mendapat sambutan hangat netizen, hingga akhirnya status tersangka bagi korban di rubah dan digantikan dengan penghargaan. Apa yang dilakukan oleh Irfan  disebut sebagai aksi bela paksa, dan dibenarkan secara hukum (jawapos.com, 31/05/2018). 


Menarik untuk dicermati. Sesungguhnya dalam kasus yang dialami oleh Muhammad Irfan Bahri, korban begal tidak bisa ditersangkakan. Namun apa yang terjadi memang di luar nalar. Beruntungnya pihak aparat segera merubah kebijakan, bisa menjadi kedzaliman ganda jika tidak demikian. Sudahlah korban masih diperlakukan sebagai tersangka. Padahal meskipun mereka memiliki kemampuan bela diri, sebenarnya mereka juga warga yang seharusnya dilindungi. Dan tanggung jawab pengayoman serta perlindungan ini adanya di pundak aparat keamanan. 


Dari sudut pandang Islam, begal adalah pelaku kriminal (jarimah). Oleh karenanya, Islam menganjurkan perlawanan tegas atasnya. Ketegasan Islam terhadap begal tercermin pada Sabda Nabi berikut: “Wahai Rasulullaah, bagaimana jika ada orang merebut hartaku? ‘jangan kamu berikan’ Bagaimana jika ia menyerangku? ‘balaslah menyerangnya’ bagaimana jika ia berhasil membunuhku? ‘berarti kamu mati syahid’ bagaimana jika aku membunuhnya? ‘dia berada di neraka” (HR. Muslim no 1914).


Belajar dari kasus begal di atas, setiap generasi muda sekiranya perlu memiliki bekal untuk melawan setiap aksi kejahatan, termasuk begal sekalipun. Diantaranya adalah bekal kemampuan bela diri. Jenis apapun bela diri boleh dikerjakan, selama tidak mengandung unsur syirik dalam pelatihan ataupun ritual kenaikan levelnya. Peningkatan kemampuan bela diri perlu dikerjakan dengan waktu proporsional agar tidak mengebiri kewajiban yang lainnya. Perlu pula disertai niat kuat, semata-mata karena Allah, dalam rangka membekali diri dan perlindungan darurat. Agar ilmu dan kekuatan fisik yang didapatkan tidak disalahgunakan dan justru dijadikan ajang adu kesaktian atau menjadi pemicu terperosoknya memasuki kehidupan gangster.


Benteng penjaga niat di atas adalah kekuatan aqidah Islam. Konsep keimanan yang hanya bisa digali personal dengan ketekunan mengkaji dan mempelajari Islam secara rutin. Tak bisa kekuatan aqidah ini didapat serta merta layaknya ilmu laduni. Tak bisa juga diperoleh seketika dan langsung dalam jumlah banyak layaknya harta yang diwarisi. Semuanya perlu proses, perlu pengorbanan waktu, tenaga, dan harta. Kegigihan dan semangat masa muda lah yang bisa dijadikan bekal untuk memperolehnya. 


Pengarahan dan ketelatenan dari senior dalam membimbing jiwa muda penuh gejolak adalah kuncinya. Kolaborasi apik keduanya nantinya akan melahirkan kedalaman pikir dan kekuatan pemahaman Islam. Pemahaman akan agama Islam lah menjadikan pemuda berlaku dan bertindak sebagaimana yang Islam ajarkan. Pola jiwa dan pola sikap nya sebagai mutaabid akan menjadikan ketaqwaan sebagai pakem dalam setiap laku perbuatan dan keputusan yang akan diambil. Akan mewujud pemuda berkepribadian Islam, berkarakter dan berlabel Islam santun tanpa kekerasan. Tak akan sekiranya mudah goyah oleh hempasan badai hedonisme, sekulerisme, dan isme isme di luar Islam lainnya. 


Apa yang dipersiapkan bagi pemantapan bekal fisik dan kepribadian Islam pemuda ini, sekiranya akan semakin joss jika didukung dengan simbiosis antara masyarakat dan negara sekaligus. Sama-sama menghidupkan kebiasaan mengontrol kebaikan dan mencegah kemaksiyatan di level masyarakat, dan membuat kebijakan sekaligus merealisasikan jaminan keamanan oleh level negara. Semuanya diupayakan bisa sepakat dalam interaksi konsep kebaikan, satu perasaan, satu pemahaman, dan satu pemikiran. Tak ada lagi ketakutan membela diri akan ditersangkakan. Sehingga cita-cita yang muda yang melawan kejahatan bisa diwujudkan secara nyata. [Arin RM]




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!