Monday, June 4, 2018

Waspada Islamophobia yang Kian Merajalela


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamli mengatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikalisme. Dia menjelaskan pola penyebaran paham radikalisme yang berkembang di lingkungan lembaga pendidikan saat ini sudah berubah. Awalnya penyebaran paham tersebut dilakukan di lingkungan pesantren. Namun saat ini, kampus negeri maupun swasta menjadi sasaran baru dan empuk bagi penyebar radikalisme (https://m.cnnindonesia.com/nasional/20180525210629-12-301431/bnpt-kedokteran-dan-eksakta-di-7-ptn-terpapar-radikalisme).


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengakui sulit mengawasi penyebaran paham radikalisme yang berpotensi menyebar melalui sekolah informal, khususnya sekolahrumah atau homeschooling tunggal yang diadakan oleh orang tua dalam satu keluarga. Hal ini terkait anak-anak pelaku teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo yang merupakan korban indoktrinasi orang tuanya. Mereka tidak mendapat pendidikan formal dan dipaksa mengaku homeschooling.


Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar tak menampik homeschooling tunggal mungkin menjadi sarana baru bagi orang tua mengajarkan radikalisme pada anak. (https://m.cnnindonesia.com/nasional/20180518184741-20-299392/pemerintah-sulit-awasi-radikalisme-lewat-homeschooling)


Setelah para ustadz dan ulama dengan pesantren dan dakwahnya, kampus dengan mahasiswa dan dosennya, parpol dan ormas islam dengan aktivisnya, sekolah dengan rohisnya, keluarga dengan kaum perempuan dan anak-anak nya, kini homeschooling pun difitnah jadi ladang semaian benih terorisme. Ini semacam menjadi bukti rezim saat ini tengah mengidap Islamophobia akut.


Islamophobia merupakan suatu sikap ketakutan terhadap semua hal yang berbau Islam. Istilah Islamophobia sebenarnya mulai ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Istilah ini dianut oleh sebagian besar orang di Barat, mereka  terus mengopinikan bahwa Islam itu berbahaya, kejam dan radikal ke berbagai dunia, termasuk negeri-negeri kaum Muslim sendiri.


Padahal kalau kita cermati, Islamophobia sebenarnya adalah mental bawaan para penjajah. Kita lihat sejarah. Ketika zaman penjajahan, Belanda juga memusuhi Islam, karena banyak kiyai dan para santrinya yang begitu dekat dengan Islam terus berjuang membela dan membebaskan negeri tercinta ini dari penindasan para penjajah. 


Sebagai Muslim kita harus memahami Islam yang sesungguhnya. Jangan sampai terseret arus yang sengaja digulirkan oleh Barat. Bentengi diri agar tidak begitu saja termakan oleh stigma negatif tentang Islam.Sejatinya Islam adalah agama yang sempurna, yang tidak ada satupun keraguan di dalamnya. Islam lah yang mampu menyelamatkan negeri ini. 


Islamophobia telah menutup pandangan bahwa problem dasar bangsa ini bukan Islam tapi paham sekularisme dan hegemoni sistem kapitalisme yang bukti-bukti kerusakannya sudah nampak telanjang di depan mata. Sehingga siapapun bisa dengan begitu jelas melihatnya. 


Sekularisme adalah paham yang berusaha memisahkan aturan agama dari segala aspek kehidupan. Agama itu hanya diberikan kesempatan dalam mengatur urusan ibadah terhadap Pencipta saja. Sedangkan, terkait urusan kehidupan, maka agama tidak dibiarkan ikut campur.


Kapitalisme merupakan turun dari sekularisme, juga bukan berasal dari Islam dan bertentangan dengan aqidah Islam harus kita jauhi. Dampak kerusakan yang ditimbulkan Kapitalisme sangatlah nyata. Maraknya pergaulan bebas, prostitusi, miras dan narkoba semakin mengancam generasi bangsa. Kekayaan alam negeri ini dicengkram dan terus-menerus dikeruk oleh penjajah asing dan aseng. Angka pengangguran, kemiskinan, dan kriminalitas yang semakin meroket. 


Segala permasalahan yang menimpa negeri tentus saja menggerakkan orang-orang untuk peduli. Namun, para aktivis, kelompok dakwah ulama dan kaum intelektual yang mencoba memberikan muhasabah dan solusi terhadap masalah negeri tersebut malah dipersekusi, dihalang-halangi dan dikriminalisasi. Mau jadi apa negeri ini? Malah bangga mengambil aturan hidup Barat dan mengabaikan aturan syariat.  


Firman Allah SWT: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (TQS. Al-A'raf: 96). 


Islam telah terbukti membawa rahmat semenjak masa Rasulullah saw sampai para khalifah setelahnya. Kaum Muslim dan non-muslim dapat hidup aman dan sejahtera hidup berdampingan bersama. Mereka dapat menikmati berkah dalam naungan sistem Islam hingga sekitar 13 abad lamanya. 


Sekarang mari wujudkan ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasulullah Saw, dengan mengikuti apa yang Beliau saw bawa, yakni Al-Quran dan As-Sunnah. Dan jadikan keduanya sebagai pedoman dalam kehidupan secara keseluruhan. Gunakanlah syariah Islam sebagai landasan bersama dalam mengatur kehidupan kita saat berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. 


Sebagai Muslim, kita mestinya harus percaya pada petunjuk yang telah Allah SWT berikan akan membawa keberkahan pada seluruh umat manusia. Islamophobia harus kita lawan dengan proses penyadaran yang lebih gencar dengan dakwah memahamkan Islam kaffah, sekaligus bersama membuka mata terhadap kerusakan dan bahaya nyata sistem kapitalisme. Kemudian, menerapkan sistem Islam yang akan menyelamatkan negeri ini.[]




*) Pegiat di Komunitas Muslimah Banua Menulis. Berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!