Tuesday, June 12, 2018

Ujian Ramadan


Oleh : Indri Faaza


Tidak terasa ramadan telah di penghujung waktu. Di mana bulan yang mulia ini menjadi bulan yang dinanti dan akan dirindui lagi kedatangannya. Kini kepergiannya kian dekat, sedang mengisinya dengan amalan-amalan terbaik masih jauh dari harapan.

Hakikatnya ramadan adalah berpuasa, menahan diri dari lapar dan dahaga. Dan hakikatnya Hari raya Idul Fitri adalah berbuka dan kemenangan dari segala ujian dahaga dan lapar serta ujian lainnya. Hingga menghantarkan kita pada hakikat takwa selepasnya. 

Sayangnya, di ramadan kali ini ada yang berbeda. Umat Islam seakan tidak hanya dihadapkan pada ujian lapar dan dahaga saja. Melainkan juga dengan berbagai ujian dan fitnah lainnya. Seolah ada sebuah orkestra yang sedang ditampilkan untuk mengecohkan konsentrasi umat Islam dari ibadah dan dakwahnya di bulan yang mulia ini. Berat nian rasanya ramadan tahun ini. Padahal, di ramadan inilah, atmosfer taqarub ilallah (kedekatan dengan-Nya, mentadaburi Alquran, red) harusnya terbangun dengan kondusif. 

Sehingga, melalui momen ramadan, umat Islam menjadi semakin dekat dan bangga akan identitasnya. Ukhuwah (persatuan red) dan kebangkitan Islam hendaknya menjadi kian nyata. Tetapi, fakta justru berkata lain. Umat Islam dibuat takut dengan isu Islamophobia, terorisme dan radikalisme.

Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan nilai-nilai kekerasan ataupun kebencian. Islam adalah rahmatan lil alamiin. Jadi rahmatnya bukan hanya untuk kaum muslim saja, melainkan untuk seluruh alam, termasuk non muslim.

Bahkan diceritakan dalam sejarah bagaimana saat Islam diterapkan, maka kesejahteraan itu merata. Dan keharmonisan itu nyata. Tidak seperti saat ini. Digadang-gadang Islam intoleran, nyatanya justru Islam yang lebih banyak tolerannya. Lihat saja bagaimana saat kita melaksanakan ibadah puasa dan ada umat lain yang tidak berpuasa, maka kita tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Hanya saja dalam hal teknis memang perlu dibuat lebih tertutup tempat makan yang menyediakan makanan untuk yang sedang tidak berpuasa ataupun non muslim.

Contoh lain seperti pada saat umat lain melaksanakan ibadah besarnya dengan keamanan ketat dari keamanan negara ataupun ormas. Umat Islam tidak pernah merasakan iri ataupun dengki. Justru kita sedih, mengapa dalam perayaan umat lain penjagaan sedemikian wow, untuk antisipasi atas bom ataupun terorisme. Padahal, umat Islam tidak pernah sedikitpun diajarkan untuk melakukan teror ataupun pemboman khususnya untuk tempat ibadah dan mengorbankan rakyat sipil. Sungguh ini benar-benar fitnah dan ujian yang berat sekaligus kado pahit di bulan yang harusnya umat Islam fokus dengan ibadah terbaiknya.

Semestinya pun, saat mendapati seorang muslim yang berseberangan dengan pedoman syariat Islam yang agung, melenceng dari thoriqoh Rasulullah dalam berdakwah dan mengemban Islam, hal pertama yang harus dikroscek adalah pemahamannya atas Islam. Bukan menggeneralisir dan mengkambing hitamkan Islam. Karena sejatinya Islam itu sempurna dan penyempurna. 

Sebagaimana firman-Nya di dalam surat Al Maidah ayat 3,

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.” (TQS : Al Maidah [5] : 3).

Semoga Allah jadikan ramadan kita tahun ini sebagai bulan untuk menempa dan memantaskan diri. Membersihkan diri dari dosa-dosa kecil maupun besar. Sehingga Pertolongan-Nya segera hadir seiring dengan kesungguhan kita untuk melayakkan diri dalam memperjuangkan Syariat-Nya di muka bumi-Nya ini. 

Wallahua'lam bishawab. 



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!