Tuesday, June 5, 2018

Trendsetters, Kudu Waspada~


Oleh : Ires Restu IF


Di jaman serba gadget ini, menjadi seorang trendsetter dianggap sebagai sebuah prestasi yang amat menguntungkan. Dengan modal jempol, telefon pintar dan koneksi internet dan wush! Sekejap menjadi booming. Sebut saja mannequin challenge, ticktock, atau ragam trend fashion dari berbagai dunia yang menyebar melalui jejarang sosial. Kemarin kemarin yang sedang booming adalah celana jeans wanita dari korea yang robek robek di bagian belakang. Jelas memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya ditutupi. Tapi celana ini tetap laku di pasaran. Atau hijab pocong yang dirancang seorang designer wanita asal Malaysia. Sebagian orang merasa ngeri. Tapi jumlah yang tertarik untuk mengikuti tren ini juga tidak kalah banyak. 


Naluri eksistensi diri (gharizah baqa) yang ada dalam diri manusia memang senantiasa melandasi munculnya banyak trend. Manusia seolah berlomba-lomba untuk mengikuti trend tersebut supaya tetap eksis dan diakui oleh masyarakat luas. Celakanya, paham sekulerisme (paham yang memisahkan agama dari kehidupan) yang kadung bercokol di kepala manusia, khususnya muslim, telah berhasil membuat manusia terbius dan tidak lagi mampu membedakan trend mana yang boleh dimunculkan dan diikuti serta trend mana yang tidak boleh dimunculkan atau diikuti. Sebagai ummat yang mengimani adanya hisab sudah selayakya membuat muslim lebih hati hati dalam bertindak. Karena setiap perbuatan sekecil biji dzarrah pun disisi Allah tetap akan dimintai pertanggung jawabannya.


Jika trend itu baik dan sesuai syariat, maka baginya pahala dari sisi Allah. Ia juga mendapat bagian pahala dari orang yang mengikut trend tersebut, karena disisi Allah, trend baik yang tidak melanggar syariat sama dengan mengajak pada kebaikan dan mentaati syariat. Sebaliknya, jika trend tersebut buruk dan melanggar syariat, maka baginya dosa atas perbuatannya dan mendapat bagian dosa dari orang orang yang mengikuti trendnya. Karena disisi Allah, ia telah melanggar syariat dan mengajak manusia pada pelanggaran syariat.


Dari Ibn Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda “Tidak ada seorang pun dibunuh dengan cara zhalim, terkecuali bagi anak adam yang pertama bagian dari dosa darah yang mengalir darinya, karena dialah yang pertama melakukan pembunuhan” (Muttafaqun Aleih)


Dari hadist ini, Rasulullah mengabarkan bahwa dosa dan pahala akan mengalir kepada orang pertama yang mencetuskannya. Atau biasa kita sebut sebagai trendsetter. Trendsetter disini berlaku umum, bukan hanya soal fun, food atau fashion semata. Melainkan segala sesuatu yang dimunculkan oleh manusia yang melanggar atau sesuai syariat. Contoh seperti program one day one juz. Kegiatan ini adalah kegiatan yang baik. Menggalakkan masyarakat Indonesia untuk rutin mebiasakan tilawah 1 juz/hari. Maka bagi pencetus gerakkan ini, ada pahala yang besar dari orang orang yang mengikuti dan menyebarkan gerakkan tersebut. Atau contoh lainnya adalah sekulerisme demokrasi yang memisahkan agama dari kehidupan dan menyerahkan pembuatan hukum sepenuhnya kepada manusia. Karena paham ini bertentangan dengan syariat Islam, maka bagi pencetusnya, ada dosa yang ia dapat dari pengikut dan pengembannya. Sebagaimana hadist di atas, dosa dan pahala akibat trend ini akan terus mengalir meski sudah meninggal.


Wallahu'alam.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!