Tuesday, June 19, 2018

Tradisi Petasan dan Kembang Api di Hari Idulfitri


Oleh: Trisnawati (Revowriter Aceh)

Di hari idulfitri kaum muslim menyambutnya dengan penuh suka cita. Kedatangannya pun disambut dengan gema takbir sebagai wujud syukur yang terhingga. Syukur karena telah melalui bulan suci ramadan dengan suasana penuh iman serta dengan kondisi fisik yang sehat, karena belum tentu semua dapat melaksanakan ibadah di bulan ramadan karena kelemahan fisik atau sakit.

Kebahagiaan menyambut idulfitri pun dilakukan dengan  berbagai cara. Baik dengan meningkatkan dan menjaga suasana spiritual dengan memperbanyak takbir dan zikir. Ada yang menyambutnya dengan kepuasan material dengan persiapan pakaian baru, berbagai makanan, dan merenovasi rumah serta prabot. Bagi kalangan anak-anak tak mau ketinggalan memeriahkan suasana idulfitri dengan suara petasan dan kembang api. Seolah menjadi tradisi yang siap tahunnya dilakukan ketika menyambut ramadan dan hari raya idulfitri.

Tidak hanya tradisi bakar kembang api dan petasan, bahkan lilin dan meriam bambu tak ketinggalan hadir menambah suasana riuh bersahut-sahutan. Belum lagi senjata mainan yang menjadi andalan bagi anak laki-laki yang digunakan untuk menembak sasaran mainnya. Bukan tidak ada korban. Secara materi sebenarnya orang tua sudah menjadi korban dari tradisi kembang api dan petasan. Karena harganya yang terbilang beragam sesuai merek dan jenisnya. Mulai dari 50rb yang paling murah sampai dengan puluhan juta. Namun namanya juga orang tua yang terkadang membeli karena "sayang" anak dengan alasan pembenaran cuma setahun sekali. Atau ada rasa kebanggaan tersendiri ketika bisa membelikan anak petasan atau kembang api dengan harga yang fantastis. 

Ditambah lagi dengan suara riuh yang membuat tidak tentram dan tenangnya suasana menyambut idulfitri terutama bagi nenek, kakek serta bayi -bayi yang kondisi jantungnya masih lemah dan tidak stabil. Mungkin tak banyak orang tua mengetahui bahwa sebenarnya tradisi menyambut idulfitri dengan membeli kembang api, lilin dan petasan bukanlah tradisi yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Dalam sabdanya Rasulullah menyampaikan:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Bahkan MUI juga telah mengeluarkan fatwa tentang Hukum Petasan dan Kembang Api (Fatwa MUI No. 31 Tahun 2000, penyempurnaan fatwa tanggal 24 Ramadhan 1395/30 Sep.1975), sebagai berikut:

1. Membakar, menyalakan atau membunyikan petasan dan kembang api dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri, Tahun Baru dan Walimah (Resepsi), seperti yang dilakukan oleh umat Islam adalah suatu tradisi atau kebiasaan buruk yang sama sekali tidak terdapat dalam ajaran Islam, bahkan merupakan suatu perbuatan haram yang sangat bertentangan dan dilarang ajaran Islam. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

a. Tradisi membakar, menyalakan atau membunyikan petasan dan kembang api adalah bersumber dari kepercayaan umat di luar Islam untuk mengusir setan yang dianggap mengganggu mereka. Hal ini jelas merupakan suatu kepercayaan yang bertentangan dengan Aqidah Islam. Padahal Islam memerintahkan umatnya untuk menghindari kepercayaan yang bertentangan dengan Aqidah Islam, karena hai itu dinilai sebagai langkah setan dalam menjerumuskan umat manusia, sebagaimana difirmankan dalam Qur'an:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar." (QS. An-Nur[24] : 21)

b. Membakar, menyalakan atau membunyikan petasan dan kembang api merupakan pemborosan (tabdzir) terhadap harta benda yang diharamkan Allah, sebagaimana difirmankan :

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra [17] : 27)

c. Membakar, menyalakan atau membunyikan petasan dan kembang api sangat membahayakan jiwa, kesehatan, dan harta benda (rumah, pabrik, dan lain-lain). Padahal agama Islam melarang manusia melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Membakar, menyalakan atau membunyikan petasan dan kembang api sangat membahayakan jiwa, kesehatan, dan harta benda (rumah, pabrik, dan lain-lain). Padahal agama Islam melarang manusia melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Sebagaimana difirmankan dalam :

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah [2]:195.)

Demikian juga sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut:

"(Kamu) tidak boleh membuat bahaya bagi dirimu sendiri dan juga tidak boleh membuat bahaya bagi orang lain".

d. Membakar, menyalakan atau membunyikan petasan dan kembang api bahayanya (mudharat) lebih besar dari pada manfaatnya (kalau ada manfaatnya). Padahal di antara ciri-ciri orang muslim yang baik adalah orang yang mau meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Sebagaimana didasarkan pada makna umum ayat Al-Quran sebagai berikut:

"Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir."

Dan hadits Rasulullah SAW:

"Di antara ciri-ciri orang muslim yang baik adalah orang yang mau meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat".

2. Sehubungan dengan haramnya membakar atau menyalakan petasan dan kembang api, maka haram pula memproduksi, mengedarkan dan memperjualbelikannya. Hal ini didasarkan pada Kaidah Ushul Fiqh: "Sesuatu yang menjadi sarana, hukumnya mengikuti sesuatu yang menjadi tujuan." 

Sudah seharusnya kita menjauhi perbuatan-perbuatan yang tidak dicontohkan oleh uswatun hasanah kita yaitu Rasulullah Saw dan meninggalkan tradisi-tradisi yang tidak bermanfaat dan menimbulkan mudhorat.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!