Saturday, June 23, 2018

Suara Kritis tak Lekang oleh Kebijakan Represif


Oleh: Arin RM, S.Si*

Belakangan ini, semakin terasa bahwa arus kesadaran dan sikap kritis dunia intelektual semakin menguat. Keterwakilan kaum intelektual yang secara lahiriah kerap duduk dan memenuhi dunia kampus semakin sering menyuarakan pendapatnya. Kendati pendapat yang kontra kebijakan tersebut tak ramai di media layar kaca, namun beritanya rata-rata viral di dunia maya. Kasus kartu kuning yang diberikan oleh mahasiswa UI lalu misalnya. Hanya sekelumit melintas di layar kaca televisi nasional, namun bertahan dengan durasi yang cukup lama di berbagai akun dunia maya. 

Yang terbaru adalah ramainya pemberitaan tentang professor UNDIP yang pada 23 Mei 2018 menjalani Sidang Dewan kehormatan Kode Etik (DKKE) Universitas Universitas Diponegoro (mediaindonesia.com, 23/05/2018). Kasus yang berujung pada pembebas-tugasan sang professor ini pun senyap di media mainstream. Padahal terdapat sekian kejanggalan dari apa yang disanksikan. Lantaran sang professor menggunakan kepakarannya untuk menjadi saksi ahli di sebuah sidang ormas melawan pemerintah. Sang dianggap berlawanan dengan ide yang puluhan tahun diajarkannya. Dan lagi-lagi dunia maya dengan sosial medianya yang justru meramaikan. 

Semuanya menjadi bukti bahwa suara kalangan intelektual sebenarnya mulai bangkit. Dan yang menjadi kabar baiknya, ada sinyal mengarah pada semakin menguatnya solusi kritik ke arah yang dikehendaki Islam. Namun teramat disayangkan langkah kritis ini justru dijawab dengan ketidakramahan terhadap kritik. Terkesan ada aksi bungkam siapa yang kontra. Seolah ada upaya pencegahan agar tak ada lagi yang bersuara beda. Parahnya sosial media pun juga kena batunya. Bahkan secara tegas pemerintah awasi nomor HP dan medsos mahasiswa (republika.co.id, 04/06/2018). 

Kebijakan yang direncakan akan dilaksanakan oleh Kemenristekdikti tersebut pun sebenarnya mendapat kritik dari salah satu anggota komisi X DPR RI. Kebijakan yang mewajibkan mahasiswa baru melaporkan nomer HP dan akun medsosnya dinilai tidak jelas targetnya. Terlebih ia menilai bahwa kebijakan itu “ngawur” karena menganggap seluruh mahasisa baru terpapar radikalisme, sehingga perlu diwajibkan mendaftarkan medsosnya (antaranews.com, 11/06/2018). 

Jika alasan radikalisme yang kemudian disikapi dengan masuknya pemerintah pada ranah privasi mahasiwa, terlebih mahasiswa baru, maka secara tidak langsung menunjukkan bahwa disamping takut dengan kritik yang umumnya menderas melalui medsos, ada indikasi islamophobia yang semakin akut. Ibarat kata senjata makan tuan. Apa yang dihembuskan menjadi momok sendiri. Arus negatif yang diawali dengan pengkaitan radikalisme dan Islam justru melahirkan kebijakan yang terkesan represif. Seolah mencegah munculnya kritik, terlebih yang bernuansa Islam. 

Padahal arus kesadaran intelektual sejatinya tak bisa dibendung meski dihadang dengan kebijakan represif. Pun andaikan media sosial diawasi, penggunaan internet masih terbuka lebar. Masih ada peluang memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut untuk menyebarluaskan informasi ke sesama rekan. Termasuk informasi yang dikategorikan tidak berpihak bagi rakyat atau pun yang merugikan negara. Sampainya kebenaran tak melulu harus menggunakan HP dan medsosnya. Apa yang terjadi di tahun 1998 dulu adalah contoh tersebarnya suara kritis meski tanpa melalui medsos. 

Sudah menjadi ciri khas bagi kalangan kampus dan interletualnya, bahwa mereka adalah pelopor perubahan. Merekalah penggulir informasi yang seharusnya berpihak pada kebenaran. Mereka harus kritis terhadap kebathilan, terlebih jika itu merugikan. Intelektual memang harus berperan memimpin perjuangan. Dan tentunya perjuangan akan sampai pada kebenaran hakiki jika dilandasi pada aturan Islam. Yang bersumber pasti dari sang Mahapengatur. Sehingga upaya represif terhadap kritik sudah sepatutnya tak menyurutkan kegigihan intelektual dalam menyuarakan kebenaran Islam. [Arin RM]


*freelance author, member TSC



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!