Tuesday, June 5, 2018

Save Kids Zaman Now


Oleh: Dian Puspita Sari


Kids zaman now. Begitulah istilah yang biasa dan sering digunakan untuk menyebut anak muda zaman sekarang. Para pemuda dan pemudi yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan negara ini. Generasi muda harapan bangsa. Dari merekalah, suatu peradaban akan tercipta, entah baik atau buruk. Membawa dunia kepada perubahan karena mereka adalah agen-agen perubahan.


Namun apa jadinya saat melihat fakta generasi muda sekarang. Masih adakah harapan agar mereka mampu menjadi agen perubahan dan membawa negeri ini menuju ke arah yang lebih baik serta keluar dari kekacauan yang ada.


Masa muda memang masa yang berapi-api. Setidaknya itu yang diungkapkan oleh salah satu penyanyi kondang Indonesia dalam salah satu syair lagunya. Namun seharusnya hal itu tidak menjadikan wajar kenakalan dan penyimpangan yang saat ini terjadi dengan sangat mengerikan. Sudah banyak sekali kasus kenakalan remaja, diantaranya seks bebas, narkoba, tawuran, hura-hura, termasuk LGBT yang saat ini marak dibicarakan. Pelakunya mulai dari yang seragamnya putih merah sampai putih abu.


Pacaran pun jadi aktivitas yang wajar di kalangan anak muda. Bagi mereka 'gak keren' kalau tidak pacaran, alias 'jomblo'. Padahal sebagai muslim yang mengimani Allah dan Al Quran, Allah sudah berfirman, Janganlah kamu mendekati zina (QS. Al Israa: 32). Mendekati saja tidak boleh apalagi melakukannya. Pacaran memang tidak selalu berujung zina, tapi zina berawal dari pacaran. Dari zina berlanjut ke seks bebas, gonta ganti pasangan hingga meningkatkan angka pengidap HIV Aids. Aborsi pun terjadi dimana-mana. Narkoba dan minuman keras jadi pelarian mereka saat ada masalah. Akhirnya perkelahian bahkan tindak kriminal lainnya pun menggiring hasil perbuatan mereka.


Inilah sebagian potret kehidupan generasi muda sekarang. Generasi yang tidak punya arah tujuan dan pandangan hidup yang benar. Kerusakan generasi ini merupakan buah dari penerapan sistem Sekular di negara ini. Keprihatinan, kemirisan, dan kebobrokan ini tentunya menyulut hati-hati mereka yang peduli terhadap generasi, terutama generasi muda yang akan menjadi cikal bakal peradaban. Bila masalah ini tidak segera ditangani, maka jangan heran kalau satu dekade ke depan peradaban kita akan menjadi peradaban yang semakin bobrok dan rusak, karena sejatinya permasalahan generasi muda ini adalah permasalahan yang sistemik.


Inti dari permasalahan generasi muda ini sebenarnya adalah kapitalisme global atau ideologi kapitalisme yang lahir dari akidah sekuler. Barat terus menggencarkan propaganda ideologi kapitalismenya dengan berbagai macam cara dan dari berbagai sisi. 


Suatu hal yang pasti dari kapitalisme adalah munculnya masyarakat hedon yang berorientasi pada kenikmatan-kenikmatan materi. Untung rugi hanya melihat aspek materi serta kosong dari nilai-nilai moral dan spiritual. Dan para pemuda sangat rentan teracuni oleh hal semacam ini.


Untuk itulah, solusi Islam harus diambil. Islam mampu melahirkan generasi shalih dan muslih melalui peran tiga pilar: keluarga, kontrol masyarakat dan negara.


Peran keluarga amat dibutuhkan dalam membimbing anak memilih lingkungan pergaulan. Keluarga adalah tempat pertama setiap manusia memahami makna hidup. Peran orangtua yang vital dalam keluarga memang menjadi kunci kesuksesan keluarga, masyarakat juga bangsa. Tak hanya itu kesuksesan keluarga membina generasi pemimpin akan membawa pengaruh pada pembentukan peradaban dunia. 


Namun sayangnya tak mudah mewujudkan kesuksesan keluarga tersebut pada masa sekarang. Saat ini keluarga muslim sudah mengalami disfungsi dan disorentasi, hingga berujungnya pada hancurnya institusi keluarga tersebut. Tentu ini sebuah malapetaka besar bagi kaum muslimin. 


Sumber malapetaka yang menimpa keluarga muslim  bermula ketika hukum Islam dalam keluarga tidak dijadikan pedoman dalam kehidupan keluarga muslim. Nilai-nilai Islam di tengah keluarga pun sedikit demi sedikit menjadi luntur. Di sisi lain derasnya arus globalisasi turut menggerus nilai-nilai Islam dalam keluarga.


Negara-lah yang sejatinya memiliki peran yang sangat sentral dalam masalah pemuda ini. Negaralah yang paling bertanggung jawab setelah adanya kontrol di masyarakat. 


Namun negara saat ini seolah abai bahkan terkesan melindungi kerusakan generasi muda tersebut. Ini karena negara mengekor pada ideologi kapitalisme yang lahir dari akidah sekuler dan mengadopsi sistem yang bertentangan dengan akidah Islam. 


Sistem dan ideologi yang bertentangan dengan akidah Islam tidak akan pernah berhasil menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan manusia karena ideologi dan sistem tersebut datang dari akal manusia yang lemah, bukan dari Allah yang maha sempurna. Sehingga sistem dan ideologi tersebut hanya akan memunculkan berbagai macam kerusakan dan kezaliman juga kesengsaraan.


Allah berfirman: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar Ruum: 30)


Dengan demikian, solusi tuntas bagi permasalahan generasi muda saat ini adalah dengan penerapan Islam kaffah. Keterlibatan individu, masyarakat dan yang paling penting adalah keterlibatan negara, mutlak diperlukan dalam penerapan hal-hal tersebut agar generasi muda penerus peradaban dan pemimpin masa depan ini dapat terselamatkan.


Pertanyaannya sekarang, siapkah kita menyelamatkan generasi muda dengan Islam? Sedang membela dan memperjuangkan Islam saja masih banyak yang enggan.

Wallahu'alam bisshawwaf []



*) Aktivis Muslimah, Pembina Komunitas Remaja Shalihah Kab. Banjar,  Warga Pesayangan Martapura


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!