Monday, June 4, 2018

ROMANTISME DAKWAH DI DUNIA KAMPUS 


Oleh:  Siti Maisaroh, S.Pd. 

(Alumni Mahasiswi Universitas Muhamadiyah Buton).

 

Mengajak saudara kita dalam keta’atan memang tak mudah. Berbagai rintangan selalu menghadang. Baik itu dari sekitar, maupun dari mereka langsung yang kadang memilih menghindar daripada bertemu dengan kita. Begitupun ketika kita mencoba mengajak teman-teman di kampus untuk tunduk pada syari’at. 

 

Ada-ada saja alasan mereka ketika diajak kajian. “Maaf, ada kelas.” “Maaf, saatnya kerja makalah.” “Maaf, tugas sedang menumpuk.” “Maaf, mau pulang kampung.” Ah! pokoknya ada 1001 alasan yang bermunculan untuk menolak saat diajak bikin janji untuk sekedar duduk melingkar berdiskusi seputar Islam. Banyak yang seketika menjadi manusia paling sibuk. Padahal yang berdakwah juga bela-bela’in untuk menangguhkan urusan pribadi demi urusan dakwahnya. Ah! biar Allah saja yang tahu. 

 

Tetap tidak bisa disalahkan. Alasan itu muncul karena dari awal sudah terpatri oleh kebanyakan mahasiswa. Kalau kuliah hanya dijadikan sebagai ajang untuk mencari ilmu secara formal. Sebatas mengetahui teori dari para ilmuan, menghafalkan, lalu berdebat saat presentasi ketika ada logika yang bersinggungan. 

 

Hanya itu, yah. Ketika ilmu hanya dijadikan sebagai informasi belaka tanpa aksi nyata. Belum lagi yang paling parah, saat kampus hanya dijadikan pasar untuk berjual beli ijazah. Yang ada difikiran mahasiswa, lulus cepat, dapat ijazah, langsung cari kerja. Aman. 

 

Ini tantangan untuk mereka yang sedang berjuang keras. Berdakwah dilaga dunia intelektual. Menghadapi orang-orang cerdas, tetapi hatinya mati untuk memikirkan nasib masyarakat diluar sana. Bertemu dengan orang-orang pintar, tetapi krisis solusi ketika ditanya mengenai problematika yang menimpa negeri ini. 

 

Ini tantangan mereka, yang sedang menebar benih-benih Islam kaffah dibilik-bilik kampus. Mengajak para intelektual berfikir kritis. Peduli pada permasalahan negeri, turut terlibat dalam memberikan solusi. 

 

Tebar bulletin, mengisi madding kampus dengan tulisan bernutrisi. Membuat forum diskusi. Menjadi pilihan pasti untuk mencari simpati. Tak kenal, mereka berkenalan. Tebar senyum, sapa, salam, juga saliman. Bukan untuk sok kenal, tetapi agar maksud hati (menyampaikan Islam) punya kedekatan emosional. 

 

Indah nian. Fenomena mereka yang menjadikan kampus sebagai lahan untuk menebarkan benih cinta kepada Islam. Mereka menahan lelah ketika harus menaiki tangga dengan berlari ketika berusaha menepati janji. Untuk sebuah urusan dakwah yang semuanya dianggap penting. Walaupun, terkadang mereka harus menarik nafas panjang dan tak membiarkan rasa kecewa mendera. Saat ia mengetahui, ternyata yang akan ditemuinya untuk diisi kajian membatalkan pertemuan. Dengan alasan, “Maaf kak, sebenarnya saya ada kelas. Kemarin saya lupa untuk menyampaikan.” Oh Tuhan, kenapa baru disampaikan. 

 

Padahal apa susahnya. Hadir. Duduk melingkar. Serius mendengarkan. Layangkan pertanyaan agar diskusi kian berkembang. Tapi ini sangat berat. Bahkan lebih berat dari sekedar mengangkat mengangkat beras sekarung kiriman dari kampung. Bagi mereka yang malas menyelami dan mensyukuri nikmat dari Tuhan yang sampai detik ini masih diberikan. 

 

Ah! ya sudahlah. Toh Allah Maha Adil. Melihat bagaimana proses bukan  mengenai bagaimana hasil. Mereka menghibur diri sendiri dengan mengingat kenikmatan yang Allah persiapkan untuk para penolong agamaNya dalam sebuah janji. “Siapa yang menolong agama Allah. Maka Allahpun akan menolongnya juga mengokohkan kedudukannya.” (Muhammad ayat 7). Inilah salah satu ayat penghibur hati para pengemban dakwah ketika semangat mereka mulai melemah. 

 

Bahkan. Dari kepercayaan akan dahsyatnya janji itu, pengemban dakwah kampus bermain matematika. Agar Allah menolong ujian akhirku, aku harus berjuang terus untuk menolong agamaNya. Aku ingin Allah selalu ada untuk mengurusi urusanku, maka aku harus selalu siap sedia untuk menolong agamaNya. 

 

Pengemban dakwah didunia kampus, pergantian generasinya sangat cepat. Tongkat estafet bermain kilat beralih dari senior ke juniornya. Wajah-wajah baru menggantikan wajah lawas yang siap terjun dakwah di tengah masyarakat luas yang persiapannya tak boleh kalah ampuh. 

 

Teruslah berdakwah dimanapun kita berada. Jangan sia-siakan masa-masa indah ketika masih mengemban status mahasiswa. Jadikanlah kritikanmu sebagai penyambung lidah dari aspirasi rakyat kepada kesewenangan pemerintah. Status pengemban dakwah lebih istimewa ketimbang nilai almamater yang melekat ditubuhmu. Ucapan dan hafalan dalil sebagai hujah dalam menyampaikan kebenaran lebih dibutuhkan dari sekedar koleksi teori barat yang jauh dari ajaran Islam. 

 

Apakah Anda siap sebagai penggengam tongkat estafet dakwah kampus digenerasi sekarang??


------------------------------------------------ Like and share, Smoga menjadi amal sholeh.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!