Tuesday, June 12, 2018

Rindu Pada Saudara


Oleh : Sunarti PrixtiRhq

Ngawi, 11 Juni 2018


Siang itu suasana rumah Mak Tum ramai. Anak-anak Mak Tum yang sudah libur sekolah membantu Emak dan Bapaknya membersihkan rumah. Sesekali tampak bersenda gurau di rumah depan.


Rumah itu kini tertata rapi. Genting sudah baru, dicat warna hijau lumut. Dindingnya juga sudah dari batu bata. Dilapis semen dan dicat warna putih tulang. Lantai rumah sudah diplester (dipasang batu bata, atasnya dilapis pasir dicampur semen). Meja dan kursi yang di dalamnya sudah dicat hijau muda. Dan ditata rapi di sisi bagian dalam sebelah kiri. Sedangkan bagian sebelah kanan, dibuat dua kamar. Kamar Siti dan kamar Adit.

Bagian depan dinding rumah dipasang kaca hitam transparan, sehingga warna remang-remang ketika berada di dalam rumah. Pintunya sudah terbuat dari kayu jati. Diplitur warna coklat tua, tampak semakin "porem" dan rapi.


Rumah bagian belakang (mah ngguri), juga sudah rapi. Sama, atap hingga lantai sudah dibikin seperti rumah depan (mah ngarep). Hingga dapur, sudah direhab semua.


Mak Tum tampak membersihkan tikar-tikar dari karung bekas. Dilipatnya dan dimasukkan dalam karung lagi. Setelah itu dibawanya ke sumur untuk dicuci. Siti dan Pandi membersihkan lantai. Sementara Adit membersihkan halaman. Pak Min mengecat pagar. Pagar yang dulu dari bambu, kini juga sudah direhab jadi pagar dari batu bata berlapis semen. Dicatnya pagar itu berwarna hijau muda.


Anida, sedari tadi duduk murung di meja ruang depan. Siti yang melihat gelagat itu segera menghampirinya. "Lho, ada apa kamu termenung? Sakit ya?" tanya Siti. Yang ditanya cuma membalas dengan menggelengkan kepala. "Lantas kenapa?" tanya Siti lagi. Anida malah meneteskan air mata. "Lhoh, kok malah nagis. Ada apa?" Siti mendekat dielusnya kepala adiknya pelan-pelan.


"Mbak, teman-teman di TPAku, kemarin semua bercerita. Kata mereka hari ini saudara jauhnya sudah mudik ke rumah mereka. Ada yang dari Jakarta, Surabaya, Bandung terus ada lagi yang dari luar Jawa. Kita kok tidak punya saudara yang mudik ke sini ya, Mbak? Apa Mboke dan Pake tidak punya saudara jauh, ya Mbak?" tanya Nida.


"Punya, tapi kan Beliau tidak musti pulang ke sini, Nid", jawab Siti sambil duduk di kursi samping Nida. "Saudara Mboke itu ada yang jauh. Tapi Beliau belum bisa mudik ke sini, Nid. Belum tahu,Budhe, tahun ini pulang ke sini apa pulang ke mertuanya", jelas Siti.


"Kalau saudara Pake?" tanya Nida. Kali ini diusapnya air mata yang hampir jatuh lagi. Wajah muramnya agak sumringah. Tersungging senyum manis di bibir mungilnya.


"Saudaranya Bapak kan itu yang di Kasreman. Itu lho yang Masjid Al Falah, kamu sering main ke sana. Mbahe kan dekat situ, cuman 5 menit sampai. Kalaupun ada saudara Bapak yang pulang, ya pulangnya ke rumahe Mbahe", kata Siti, sambil tersenyum. Yang diajaknya bicara manggut-manggut.


Saat itu Mak Tum datang. Beberapa kalimat Siti sudah didengar Mak Tum. "Eh ada apa?" tanya Mak Tum.


"Ini lho, Mbok, Nida pengen temen-temenya. Hari ini saudara mereka datang dari kota", jelas Siti. Tiba-tiba Nida menyela, "Aku pengennya rumah kita rame, banyak saudara gitu lho, Mbok. Kita selama ini ke rumah Mbahe Bapak terus. Memangnya Mboke tidak punya saudara to?" kali ini wajah Nida cemberut.


Dari rumah belakang, Pandi menyahut saja "Padune Mbak, njaluk sangu wi. Nek dulure akeh, oleh sangu akeh hehehe..."


"Pandi nakal", jawab Nida. "Ora Mbok, ora ngono", sambung Nida.


"Iyo, pancen cedhak sedulur kuwi seneng. Rame. Iso guyon, iso padu. Iso utang dhuwit. Hehehe", Mak Tum sambil bercanda.


"Hahaha.... Mboke iso wae", sahut Siti sambil tertawa kecil.


"Sak jane, moment ketemu saudara itu tidak harus waktu lebaran. Namun ketika Idul fitri memang moment untuk saling meminta maaf. Terlebih kepada orang tua dan sanak saudara. Namun, diperbolehkan untuk saling memberi hadiah dan bersedekah kepada sanak saudara. Lhah, sekarang sudah banyak yang beranggapan, kalau saudara mudik itu pasti bawa uang banyak terus dibagi-bagi. Padahal pertimbangan mudik kuwi ora arep andum dwit. Atau sekedar tradisi. Ada hal penting kenapa saudara kita itu mudik. Yang baku adalah menyambung silaturahim  dengan keluarga besar. Selain itu juga, menjalin ukhuwah dengan tetangga dan teman yang sudah lama ditinggalkan. Setelah lama di perantauan juga menyimpan rasa rindu yang mendalam. Nah, hari lebaran digunakan untuk melepas rindu juga dengan sanak saudara", Mak Tum menjelaskan sambil duduk di kursi sebelah Nida.


"Mbok, Budhe sing neng Sidoarjo kae gak mudik to?" wes pirang-pirang tahun gak mudik. Sampek Nida gedhe, durung tau ketemu. Mok tilpun wae" tanya Siti.


"Oh, Budhe Sri, to. Lha kuwi wonge neng kono marung, Ti. Nek wayah rame yo rame. Wayah sepi yo sepi. Penguripane kurang luwihe yo koyo awake dhewe. Sak ploke Mas Jo gak kerjo, yo mok ngandhalno warung karo tambal bane. Nah wonge yo ngragati cah sekolah neng kutho sing mesthi yo larang. Kae Masmu Opick iki rak yo lulus SMA. Kae wae sik durung dikuliahne opo arep kerjo. Winginane tilpun kae ngabarne", jelas Mak Tum.


"Siji meneh, nek wonge wes mudik nggone morotuwone, yo otomatis gak muleh rene, Ti", jelas Mak Tum. Sebenarnya Mak Tum juga menyimpan rasa rindu pada kakaknya, namun apa daya keadaan yang belum bisa membuatnya bisa bertandang ke rumahnya.


"Sebenarnya, Mak, selaku adik, harusnya Emak yang sowan ke Beliau. Tapi Emak belum punya cukup biaya untuk ke rumahnya. Apalagi moment lebaran, kita sebagai keluarga yang dituakan di keluarga Bapakmu. Sehingga setiap lebaran, kita juga berada di rumah Embahmu", kata Mak Tum. Kali ini suaranya agak parau. Serasa ada yang tercekat di lehernya. Matanya yang bulat mulai berkaca-kaca. "Selama ini, Emak sebenarnya juga sudah menabung, biar bisa sowan Budhemu di kota. Tapi belum terlaksana. Mungkin Allah punya rencana lain, untuk mempertemukan kita dengan Budhe Sri", kata Mak Tum. Air matanya kali ini sudah tak tertahan.


Angan-angannya melayang pada masa lalu dengan Mbakyunya. Bermain bersama, berangkat sekolah bersama. Hingga usia mereka dewasa tak pernah terpisahkan. Suatu ketika, teman sekolah Mbaknya melamar dan dibawalah  kakaknya oleh suaminya. Semenjak saat itu, pertemuan tidak lagi setiap hari. Meskipun masih tehubung lewat surat, namun seolah tak bisa sebagai pengobat rindu Mak Tum pada kakaknya. Ditambah, setelah meninggalnya kedua orang tuanya, pertwmuan dengan kakaknya sangatlah jarang.


"Paribasane wes podho kabotan buntut, Ndhuk. Masio kangen, yo diempet.

Aku karo Budhe Sri, wes podho dongo-dinongo soko kadohan. Sak jane nek mok layang sworo, kuwi ra iso nambani kangen. Nanging piye meneh, kabeh wes ginaris ngene. Tak syukuri, najan mok ketemu neng hp", kali ini Mak Tum berusaha untuk menahan tangisnya. Namun air mata itu ternyata tidak bisa dibendung sekali atau dua kali. Rasa panas di mata semakin bertambah. Unjal napas, Mak Tum, berusaha bersabar dan menenangkan diri, agar tidak berkeluh. Dan bisa bersyukur dengan apa yang terjadi.


Sekian

Ramadan hari ke 26, bersama keluarga Mak Tum


#RamadanBersamaRevowriter

#RamadanBulanPerjuangan

#RamadanPenuhBerkah

#GerakanMedsosUntukDakwah


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!