Wednesday, June 6, 2018

Ramadhan hari ke 22, bersama Pak Min dan Mak Tum (Nasehat Ringan)


Oleh : Sunarti PrixtiRhq

Ngawi, 7 Juni 2018


Ibu-ibu tidak kalah heboh. Mereka berdatangan dengan membawa makanan. Mereka taruh di meja serambi rumah Pak To. Mereka menggelar tikar di belakang barisan Bapak-bapak yang ada di serambi. Kebetulan, halaman Pak To sudah dopasang atap dari seng. Sehingga Ibu-ibu berada di luar, di dapam mushala hanya bapak-bapak dan anak laki-laki saja.


Shalat Ashar selesai diimami oleh Pak To. Dilanjutkan dengan doa dan zikir. Setelahnya, Pak To mengumumkan kalau hari ini bukber. Ngabuburitnya adalah mendengarkan tauziyah. Pak Min segera berdiri dan menuju tempat Pak To. Sementara Pak To mempersilahkan tempatnya pada Pak Min.


Pak Min segera mulai tauziyahnya.

"Assalamualaikum wr wb. Ashadu ala ilahailallah, waashadu ana Muhammad darrosulullah. La nabiya bakda.


Bapak, Ibu jamaah ingkang minulnyo, alhamdulillah sore ini kita bisa bertemu dalam keadaan sehat dan dalam suasana keimanan. Semoga apa yang kita niatkan dan kita laksanakan, menjadi amal sholih di sisi Allah SWT.

Sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. 


Bapak soho Ibu engkang dahat kinurmatan. Hari ini bulan Ramadhan sudah hampir selesai di hari ke 21. Semoga sampai berbuka nanti, keberkahan akan selalu bersama kita.


Pada sepuluh hari terakhir ini, semoga kita tidak menyia-nyiakan sisa hari di bulan Ramadhan ini. Mari kita manfaatkan dengan amal kebaikan. Kita telah lewati dua puluh hari penuh berkah. Dan kita diberikan sepuluh hari keberkahan lagi oleh Allah. Itupun apabila Allah masih memanjangkan umur kita hingga Ramadhan usai. Maka dari itu selalu takutlah kepada Allah. Karena ajal itu tidak datang dengan pemberitahuan. Uapayakan kita selalu dalam ketaatan. Setiap saat dan setiap waktu. 


Ibu-ibu, pernah mencari kayu bakar?" Pak Min bertanya pada jamaah ibu-ibu. 


Di belakang ibu-ibu agak umyes. Tapi masih ada yang memperhatikan. "Pernah", jawab Mbok Warni dan Mak Sumi. Yang lain pada kaget. Malu-malu mereka yang umyes, akhirnya tertunduk diam. 


"Enggih, Ibu-ibu. Coba, cari kayunya setiap hari. Dikumpulkan dan diitumpuk di belakang rumah. Kayunya jangan dibakar dulu, biarkan saja sampai satu bulan. Kira-kira kayunya tambah banyak apa tambah sedikit, Ibu-ibu?" tanya Pak Min lagi.


"Banyaaaakk" kali ini hampir semua menjawab kompak. 


"Kalau buat merebus air, bisa mendidih apa tidak?" tanya Pak Min lagi. 


"Bisaaaa", jawab mereka lagi. 


"Nah, begitulah Bapak dan Ibu. Kalau sehari-hari kita tidak dalam ketaatan apalagi sampai pada kemaksiatan (meskipun sedikit), lambat laun akan bertumpuk dosa kita. Tak terasa dari maksiat kecil, karena sering dilakukan, maka akan menjadi dosa besar. Ada hadist begini Bapak dan Ibu :


"Jauhilah Muhqirat Dzunub (dosa-dosa yang diremehkan). Sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil yang diremehkan itu seperti suatu kaum yang singah di satu lembah, lalu satu orang datang membawa satu dahan (kayu bakar) dan yang lainnya juga demikian sampai mereka mengumpulkan banyak kayu bakar yang bisa mematangkan roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil yang diremehkan itu, kapan pelakunya dibalas maka akan menghancurkannya." (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Al-Shahihah).


Maka dari itu, mari kita segera memohon ampunan Allah dan bertaubat. Bulan Ramadhan penuh berkah, jangan disia-siakan. Jangan sampai juga sisa umur kita terendam dalam kemaksiatan. Astagfirullah. Astagfirullah. Astagfirullah", Pak Min masih dalam tauziyahnya.


Paimo sedari tadi masih tertegun. Dalam benaknya berputar-putar masalahnya dengan istrinya. Berbagai kesulitan dia lampaui bersama istrinya. Sekarang dia justru menyakitinya. Bulu kuduqnya berdiri. Rasa takut menggelayuti jiwanya. Jangan-jangan dia sudah bermaksiat dan itu sudah lama. Aduh, berkecamuk di benak Paimo. "Iblis-iblis, kae kok ono suami istri podho selingkuh?" kata seseorang.


"Oh, niko, lha niko raine sing estri kulo tutupi kersane katon awon. Lha, kosok baline, raine bojone uwong, kulo tutupi supados katon kinclong lan semlohai. Begitu juga saya lakukan pada kaum laki-laki. 

Suaminya saya tutupi mukanya agar kelihatan buruk. Dan saya tutupi muka suami orang lain agar kelihatan tampan dan menggoda" jawab Iblis.


Sekilas percakapan itu terlintas di benak Paimo. Tauziyah Leknya sudah sayup-sayup pergi dari lintasan pikirannya. Dia ingat betul dialog itu. Tapi dia tidak ingat itu percakapan siapa dengan Iblis. Yang dia ingat adalah Pak Leknya waktu itu menyampaikan tauziyahnya.


Salah satu upaya setan dalam menggoda manusia adalah dengan tazyin. Yaitu memperindah atau menjadikan tampak indah suatu tampilan serta kejahatan. Diriwayatkan dari Jabir Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya perempuan itu menghadap ke muka dalam bentuk setan, dan (menghadap) ke belakang dalam bentuk setan (pula). Maka apabila salah satu di antara kalian melihat seorang perempuan (yang membuat tertarik), hendaklah ia datang ke isterinya, karena hal itu akan menenangkan apa yang ada pada dirinya --yakni gejolak syahwat". Hadits Riwayat Muslim.


"Ketika perempuan menghadap ke depan (datang), maka setan duduk di atas kepalanya lalu menghiasinya (memperindah) untuk orang yang melihatnya, dan ketika perempuan itu menghadap ke belakang (pergi), setan duduk di atas bagian belakangnya lalu ia memperindahnya untuk orang yang melihatnya".


Paimo ingat itu semua. Nasehat ringan tapi sangat menyayat. Sangat "katon kawelo-welo" di matanya. Baris-baris kalimat Pak Leknya, bagai berita TV berjalan yang bisa dia baca. Tiba-tiba tubuh Paimo menggigil. Tasa dingin menggerayangi tubuhnya. Keringat bercucuran dari dahi dan lehernya. Matanya sudah basah dengan cairan bening. Sebagian sudah menetes di sarungnya.


====sekian====


#RamadanBulanBerkah

#RamadanBersamaRwvowriter

#GerakanMedsosUntukDakwah


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!