Tuesday, June 5, 2018

Pilih Diburu Atau Berburu?


Oleh : Mia Ummu Faqih


Tidak terasa kita sudah memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Allah SWT menjadikan sepuluh hari terakhir penuh keberkahan, karena di dalamnya ada Lailatul qadar yang dijanjikan.Yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. 


Allah berfirman.


إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ


“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala usrusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar” [Al-Qadar : 1-5]


Barang siapa yang melakukan kebaikan di malam itu, maka nilainya lebih baik dari seribu bulan. Bayangkan seribu bulan Maaak 😱


 Adakah yang tidak tergiur untuk mendapatkannya? Coba kita hitung dalam perhitungan Matematika, maka seribu bulan itu kurang lebih 83 tahun. Jadi mendapatkan kebaikan Lailatul qadar ini, seperti melakukan ibadah selama 83 tahun. Padahal rata-rata usia umat Rasulullah SAW adalah seputar usia beliau yaitu 63 tahunan. Kalaupun seseorang mendapat bonus usia 83 tahun atau lebih, tidak mungkin dia melakukan ibadah terus menerus selama itu. 


Jadi Lailatul qadar ini adalah bonus pahala yang luar biasa besar bagi umat Islam.sangat di sayangkan kalau di lewatkan begitu saja. Siapapun yang ingin mendapatkannya maka dia harus berusaha untuk menjaringnya, harus memburunya dengan kekuatan maksimal.


 Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda.


تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” [3]


Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, (dia berkata) : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.


الْتَمِسُوْ مَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُ كُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي


“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya” [4]


Sepuluh hari terakhir inilah kesempatan untuk mendapatkannya. Karena Allah tidak memastikan di hari ke berapa, Lailatul qadar akan hadir. Hal ini agar kaum Muslimin berlomba-lomba melakukan kebaikan untuk mendapatkannya.


 Dia harus memaksimalkan ibadah di hari-hari itu, baik di siang-siangnya maupun di malam-malamnya. Rasulullah SAW adalah contoh terbaik bagi kita. Beliau memberikan contoh bagaimana memperlakukan sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ibunda Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, mengisahkan


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ


Artinya, “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir, suatu hal yang beliau tidak bersungguh-sungguh (seperti itu) di luar (malam) tersebut.” (HR. Muslim)


Syaikh DR Muhammad Adnan as-Saman menjelaskan, kesungguhan Rasulullah ﷺdi sepuluh akhir bulan Ramadhan adalah dalam segala bentuk ibadah. Beliau bersungguh-sungguh dalam tilawah Qur’an, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan shalat wajib dan sunnah, bersungguh-sungguh dalam berdzikir, bersungguh-sungguh dalam berdo’a dan bermunajat kepada Allah ﷻ.


 Dan kesungguhan-kesungguhan pada amal lainnya juga dilaksanakan oleh Rasulullah ﷺ, (Makalah: ma’alaim fi ‘asyri alawakhir).


Rasulullah, para sahabat dan salafus shalih, mereka mengencangkan ikat pinggangnya di sepuluh hari terakhir, fokus melakukan ibadah dengan i'tikaf di sepuluh hari terakhir demi menjaring Lailatul qadar. 

Mereka memperbanyak shalat malam, Tilawah al quran, Membaca doa, Memperbanyak Istighfar. 


Hal itu seringkali berbeda dengan realita yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin saat ini. Godaan sistem Kapitalisme sangat luar biasa.Gaya hidup kapitalis memburu Kaum muslimin. Apalagi bagi Emak-emak, ini sangat berat.Betul Maak?😊


 Faktanya keramaian di Masjid, berpindah di Mall-mall dan di dapur. Shaf shaf tarawih di Masjid semakin berkurang, tadarus al quran sudah di khatamkan. Dari berburu pahala menjadi berburu diskon. 


Belum lagi kesibukkan di dapur mempersiapkan kue-kue lebaran. Dengan alasan siang hari berat, maka aktifitas membuat kue lebaran sering di lakukan di malam hari. Laah..terus berburu lailatul qadarnya kapan Maak? Self reminder 😊


Mumpung masih ada waktu dan kesempatan, mari kita manfaatkan sepuluh hari terakhir ini untuk berburu lailatul qadar. Para Emak juga punya kesempatan yang sama untuk mendapatkannya.


 Perbanyak shalat malam, tilawatil alquran, berdoa, beristighfar dan berdzikir. Kalaupun Para wanita berhalangan, maka masih banyak aktifitas ibadah yang lain yang bisa di lakukan. Apapun itu, asalkan sepuluh hari terakhir ini tidak terlewatkan begitu saja. 


Karena godaan gaya hidup kapitalistik saat ini memburu para Emak, maka pilihan  Emak harus mustanir. Pilih berburu pahala adalah pilihan terbaik 😍


#CemilanUntukBatin

#WritingClassWithHas


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!