Saturday, June 9, 2018

Perisai Diri adalah Puasa, Perisai Ummat adalah Penguasa (Khalifah)


Oleh: Lilik Ummu Aulia, M.Sc. (Komunitas Menulis Mojokerto_KMM)


Ramadhan, sudah dipenghujungnya. Beruntunglah bagi orang-orang yang senantiasa bersungguh-sungguh mengisinya dengan ibadah dan kebaikan. Berbahagialah bagi orang-orang yang masih memiliki energi penuh untuk menuntaskan pertarungan di bulan nan mulia ini. Pertarungan antara hawa nafsu dan ketaatan. Pertarungan antara kemaksiatan dan ketaqwaan. Pertarungan antara kebenaran dan kebathilan. Tetapi, sudahkan ibadah puasa di ramadhan ini menjadi perisai bagi kita? Ataukah hanya menjadi ritual dan rutinitas semata?

Puasa bagi seorang muslim dan mukmin adalah perisai (junnah). Perisai di dunia dan juga perisai di akhirat. Di dunia, puasa ini akan mencegah seseorang dari melakukan tindak maksiat dan aniaya. Menjauhkan seseorang dari perilaku yang mendholimi orang lain dan diri sendiri. Menahan seseorang dari melakukan tindakan keji dan munkar. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda (yang artinya): “…Puasa itu perisai, dan jika salah seorang dari kalian berpuasa pada suatu saat, maka janganlah dia melontarkan perkataan keji, dan jangan pula berteriak-teriak. Jika seseorang mencercanya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa…” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Jika puasa yang kita lakukan sudah mampu mencegah diri ini dari bermaksiat kepadaNya di dunia, maka kita pun berharap Allah membalasnya dengan menjadikan puasa itu sebagai perisai kita ketika di akhirat kelak. Dari Utsman bin Abdil ‘Ash ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda (yang artinya): “Puasa itu perisai (yang akan melindunginya) dari api neraka, laksana perisai salah seorang dari kalian (yang melindungi kalian) dari serangan musuh”. (HR. an-Nasai)

Jika perisai seorang muslim di dunia adalah puasa, maka perisai ummat islam di dunia adalah penguasa (khalifah). Rasulullah bersabda (yang artinya): “sesungguhnya seorang imam (penguasa) itu (bagaikan) perisai (junnah). Orang-orang berperang di belakangnya, dan juga berlindung dengannya. Maka jika ia memerintah (berdasarkan) takwa kepada Allah ta’ala dan berlaku adil, maka baginya pahala.  Akan tetapi jika jika ia memerintah tidak dengan (takwa pada Allah dan tidak berlaku adil), maka ia akan mendapatkan balasannya.” (HR. Muslim) 

Imam nawawi menjelaskan bahwa perisai (junnah) bermakna sebuah pelindung bagi orang-orang yang berada di belakangnya. Seorang imam menjadi sebuah perisai yang melindungi ummat Islam dari musuh-musuh mereka. Perlindungan tersebut dilakukan oleh seorang penguasa dengan menyusun pasukan/tentara, menjaga perbatasan, serta menyerukan jihad fii sabilillaah. Imam ibnu Hajar menjelaskan bahwa berfungsinya penguasa sebagai perisai adalah dengan melindungi ummat Islam agar mereka tidak saling menganiaya satu sama lain. Hal ini dilakukan dengan menyelesaikan persengketaan di antara mereka, mengangkat para qadli (hakim), serta menerapkan syariat Islam.

 Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di atas, dalam redaksi bahasa arabnya di awali dengan sebuah kata “innama”. Menurut kaidah bahasa arab, kata “innama” bermakna pembatasan. Maka, hadits tersebut memberikan sebuah batasan bahwa selain imam (penguasa), tidak ada lagi orang yang dapat menjalankan fungsi sebagai perisai bagi ummat Islam.   

Saat ini, ummat Islam terpecah-pecah. Saat ini, ummat Islam hidup hampir di lima puluh Negara yang dipisahkan oleh garis geografi atas nama nation state (Negara bangsa). Ketiadaan pemimpin tunggal, yakni khalifah, yang menjadi perisai seluruh ummat Islam di dunia menjadi bencana yang dahsyat bagi ummat ini. Padahal, Allah telah mewajibkan bagi ummat Islam hanya memiliki seorang pemimpin. Tidak boleh berbilang. Rasulullah bersabda (yang artinya): “jika dibai’at dua orang khalifah, maka bunuhnya yang terakhir dari keduanya.” (HR. Muslim). Kalimat “bunuhlah yang terakhir dari keduanya” merupakan sebuah indikasi yang sangat kuat agar ummat Islam menjaga persatuan dan kesatuan serta tidak boleh terpecah-belah.

Karena ketiadaan khalifah, dunia Islam saat ini menangis dan berlumuran darah. Ummatnya meronta, menjerit dan menderita karena kedholiman yang menimpa mereka. Ummat Islam hampir di seluruh belahan negeri mengalami ketidakadilan. Ummat islam hampir di seluruh belahan dunia diperlakukan secara dholim oleh penguasa-penguasa mereka. Bahkan, di bulan suci Ramadahan ini, bulan di mana perang diharamkan di dalamnya, tentara Israel telah mengarahkan moncong senapan-senapan mereka kepada rakyat palestina. Sungguh perih diri ini menyaksikan ummat Muhammad SAW dicabik-cabik oleh orang-orang yang benci dengan Islam. Maka, keberadaan penguasa sebagai perisai (junnah) ummat Islam di seluruh dunia merupakan sebuah keniscayaan. 

Ramadhan, cahaya bulannya sudah mulai menghilang. Pertanda ia akan segera pamit dari tempat-tempat persinggahan ummat Islam. Jika di Ramadhan tahun ini, 1439 H, kita hanya mampu menjadikan puasa sebagai perisai di dunia. Semoga, di Ramadhan tahun depan, kita tidak hanya memiliki puasa sebagai perisai, tapi sekaligus penguasa (khalifah) sebagai junnah (perisai) kita. 

Wallahua’lam bish showab

   



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!