Friday, June 8, 2018

Pendidikan Terbaik untuk Generasi Terbaik


Oleh : Siti Ruaida. S.Pd


Persoalan pendidikan dan generasi saat ini membuat guru mengurut dada. Banyak sekali persoalan yang dihadapi didunia pendidikan , kalau kita tarik satu tahun kebelakang misalnya tentang narkoba, dulu tingkatan anak-anak hanya sebagai  pemakai, sekarang siswa SD  langsung sebagai peracik narkoba.yang membuat Guru dan BNN pusing tujuh keliling . Khok bisa anak SD meracik narkoba, Ternyata mereka belajar lewat youtube ,bener- bener sttt bikin pusing.

Lalu bagaimana dengan bergaulan bebas, kekerasan pada guru , menganiaya guru seperti kasus guru budi di Sampang Madura., tawuran, geng motor, aksi vandalisme dan sederet kasus  lain yang bikin geleng-geleng kepala.separah ini kondisi kenakalan remaja yang terus berinovasi sesuai perkembangan zaman.

 Berdasarkan hal ini perlu ada kepedulian dari seluruh elemen masyarakat baik orang tua, pemangku kebijakan dan terutama guru untuk membahas pesoalan pendidikan dan mencari solusi tuntas.guru harus peduli akan generasi dan berupaya untuk urun rembok untuk mendudukan persoalan dan mencari solusi untuk menyelesaikan kasus rusaknya generasi. Puluhan pelatihan , diskusi terus diadakan untuk menyelesaikan persoalan .Bahkan tentang pendidikan karakter terus digaungkan karena dianggap dapat menyelesaikan masalah.

Mengapa generasi terus berinovasi dalam kerusakan, melakukan hal-hal tersebut. Padahal pendidikan karakter sedang dicanangkan dan lagi giat-giatnya diterapkan dalam dunia pendidikan hari ini.guru dibuat bingung bahkan Presiden pun juga bingung . Ada apa ini mengapa ini terjadi. Pendidikan budi pekerti bisa dikatakan masih menjadi PR dalam dunia pendidikan, artinya belum selesai dan perlu diselesaikan. Jadi kemungkinannya  mengapa hal ini bisa terjadi, bisa jadi karena tidak tahu apa jawabannya, sehingga tidak selesai dan menjadi PR, kemudian  siapa yang mau dan mampu menyelesaikan atau menjawab berbagai persoalan tersebut.

Adapun penyebab kerusakan generasi sebenarnya ada dua sisi. Pertama arus sekularisasi dalam pendidikan dan remaja. Kedua kebijakan pendidikan tidak mengarah kepada perbaikan.

Pertama pemikiran remaja dijejali dengan gaya hidup yang tidak sesuai dengan ajaran agama, mulai dari sinetron yang tayang setiap hari mendawahkan budaya pacaran dan gaya hidup bebas. hura-hura, berkelahi, pesta, melawan orang tua dan sebagainya. Diperankan oleh aktor yang dibayar mahal untuk menggiring generasi ke pemikiran Liberalisme Sekulerisme, kemudian guru dibayar murah untuk memperbaiki generasi.

Seperti contohnya  film DILAN 1990 yang  diserbu para remaja hingga dalam  6 hari sudah ditonton  satu juta orang lebih. Apa kontribusi positif film ini bagi remaja, yang ada mengajarkan pacaran  dan romantisme murahan. Yang menambah berat beban guru dan orang tua untuk meluruskan kembali pemikiran remaja yang tersihir oleh film tersebut. Belum lagi  drama korea yang digandrungi dan menghabiskan waktu pelajar hingga malas belajar.

Diperparah lagi dengan menjamurnya media berkonten pornografi . Semakin menambah rumit persoalan.

Kedua kebijakan pendidikan seperti pendidikan agama belum mengarah pada sasaran sesuai yang dibutuhkan anak. Seharusnya pendidikan agama mengajarkan tata càra pergaulan  islami Seperti larangan berdua-duaan, infisol pemisahan antara laki-laki dan perempuan ditempat khusus. Batasan aurat laki-laki dan perempuan. Pemahaman tentang mahrom dan sebagainya yang intinya membuat mereka mengerti dan terkondisi dalam bergaul agar sesuai syariah.Aturan pergaulan yang sesuai syariah adalah hal mendasar untuk membentuk pemikiran yang akan menjadi pemahaman dan akan dipraktekkan dalam pergaulan mereka.

Pandangan hidup yang sesuai aqidah dan keimanan harus diambil dari Islam begitu juga pandangan tentang kebahagian atau tujuan nilai kebahagian serta aturan baik buruk terhadap sesuatu harus sesuai dengan syariah.

Kalau ukuran hanya pada penilaian bagaimana mungkin anak didik dapat  berpikir kritis. Sehingga pendidikan  karakter akhirnya tidak nyambung dengan perbaikan moral.  Kita lihat bagaimana aksi mereka setelah kelulusan. Dilarang corat coret tetapi tetap melakukan aksi corat coret dan konvoi. Misal pada aspek religius  Pada prakteknya nilai-nilai ini seperti  menjadi duta perpustakaan tapi tetap berani dengan guru. Jadi ketua kelas atau ketua osis supaya mandiri, tapi giliran ujian nyontek.




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!