Monday, June 18, 2018

Pacaran Islami, Adakah? (Bag. 1)


Oleh : Muhammad Rivaldy Abdullah


Assalamu’alaykum ust.. baca tulisan ustad saya jadi ingat pernah baca tulisan tentang pacaran islami. Distiu penulisnya bilang kalo pacaran itu dalam islam tidak haram.. Karena nabi juga berduaan dan pegangan tangan dengan bukan muhrim, dengan catatan tidak menimbulkan hasrat/syahwat. Benarkah nabi pernah berduaan dengan bukan muhrim?


Jawaban :


Waalaykumussalaam.warahmatullaahi wabarakatuh.. Kami menemukan pendapat semisal itu dalam karya tulis seorang penulis website liberal asal Malaysia. Di website tersebut penulis dengan percaya diri memaparkan bahwa khalwat(berduaan bersama perempuan bukan mahrom) diperbolehkan dalam Islam.  Wal’iyadzu billah.


“Pendapat fiqh” nyeleneh ini tidak pernah muncul dari kalangan salafusshalih. Sesungguhnya pendapat-pendapat semisal itu muncul dari pemikiran orang-orang “zaman now” yang bermudah-mudah dalam berpendapat. Karena itu, seringkali kami tegaskan bahwa fiqh yang mesti kita ambil adalah fiqh yang berasaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, di atas pemahaman ulama salafusshalih (sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan imam madzhab yang empat). Dalam memahami nushus(Al-Qur’an dan Hadits), manhaj yang kita gunakan adalah manhaj ulama salafusshalih ahlussunnah wal jama’ah (aswaja). Bukan dengan kreasi kita sendiri atau kreasi ustadz zaman now.


Ya. Memang ada hadits-hadits yang seolah menyiratkan bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam berduaan dengan bukan mahrom. Tapi, dalam memahami hadits ini tentu harus dengan ilmu nya para ulama. Mengikuti metode fahmun nushus madzhab yang empat. Bukan sembarangan main comot hadits.


Dari Anas Ibn Malik radhiyallaahu ‘anhu :


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ، فَتُطْعِمُهُ وَكَانَتْ أُمُّ حَرَامٍ تَحْتَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، فَدَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَأَطْعَمَتْهُ ثُمَّ جَلَسَتْ تَفْلِي رَأْسَهُ، فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: مَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟، قَالَ: " نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ، يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا الْبَحْرِ مُلُوكًا عَلَى الْأَسِرَّةِ أَوْ مِثْلَ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ "، يَشُكُّ أَيَّهُمَا، قَالَ: قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، فَدَعَا لَهَا ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ، فَنَامَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: مَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟، قَالَ: " نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَا قَالَ فِي الْأُولَى "، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، قَالَ: " أَنْتِ مِنَ الْأَوَّلِينَ "، فَرَكِبَتْ أُمُّ حَرَامٍ بِنْتُ مِلْحَانَ الْبَحْرَ فِي زَمَنِ مُعَاوِيَةَ، فَصُرِعَتْ عَنْ دَابَّتِهَا حِينَ خَرَجَتْ مِنَ الْبَحْرِ فَهَلَكَتْ


 Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam pernah menemui Ummu Haram binti Milhan - isteri ‘Ubadah bin Ash-Shamit – yang kemudian ia (Ummu Haram) menghidangkan makanan untuk beliau. Setelah itu Ummu Haram membersihkan rambut beliau (dari kutu), hingga Rasulullah shallallaahu 'alayhi wasallam tertidur. Tiba-tiba beliau terbangun sambil tertawa. Ummu Haram bertanya : "Apa yang menyebabkanmu tertawa wahai Rasulullah ?". Beliau bersabda : “Sekelompok umatku diperlihatkan Allaah Ta'ala kepadaku. Mereka berperang di jalan Allaah mengarungi lautan dengan kapal, yaitu para raja di atas singgasana atau bagaikan para raja di atas singgasana" - perawi ragu antara keduanya - . Ummu Haram berkata : "Wahai Rasulullah, doakanlah agar aku termasuk di antara mereka." Kemudian beliau mendoakannya. Setelah itu beliau meletakkan kepalanya hingga tertidur. Tiba-tiba beliau terbangun sambil tertawa. Ummu Haram berkata : Lalu aku kembali bertanya : "Wahai Rasulullaah, apa yang membuatmu tertawa ?". Beliau menjawab : "Sekelompok umatku diperlihatkan Allah Ta'ala kepadaku, mereka berperang di jalan Allah…" - sebagaimana sabda beliau yang pertama - . Ummu Haram berkata : Lalu aku berkata : "Wahai Rasulullah, doakanlah agar aku termasuk di antara mereka !". Beliau bersabda : "Kamu termasuk dari rombongan pertama". Pada masa (kepemimpinan) Mu'awiyah, Ummu Haram turut dalam pasukan Islam berlayar ke lautan (untuk berperang di jalan Allah). Ketika mendarat, dia terjatuh dari kendaraannya hingga meninggal dunia (HR. Muslim No. 1912).


Dalam hadits ini seolah-olah Nabi berduaan bersama non mahram(Ummu Haram). Bahkan Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam tidur didekatnya dan Ummu Haram menyeka-nyeka rambut beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam. Menurut penggagas ‘pacaran islami’, inilah dalil bolehnya berduaan selama tidak menimbulkan fitnah dan diantara mereka berdua telah terjalin hubungan keakraban.


Betul bahwa perbuatan Nabi merupakan syari’at bagi kita. Tapi ingat bahwa pemahaman kita atas teks hadits ini terbatas. Bisa jadi Nabi tidak betul-betul berduaan bersama Ummu Haram. Atau, bisa jadi Ummu Haram adalah mahram bagi Nabi.


 Kemudian jangan punya prinsip bahwa SEMUA YANG DILAKUKAN NABI adalah contoh bagi kita. Tidak. Bisa jadi Nabi berbuat sesuatu, itu khusus bagi beliau (khususiyat) dengan beberapa alasan yang dapat diterima.


Sebagai contoh, Nabi menikahi perempuan lebih dari empat. Tapi itu bukan contoh bagi kita dan kita haram mengikutinya. Mengapa?karena ada dalil-dalil lain yang melarang. Sebab itu, berbicara masalah hukum mesti komperehensif(tuntas). Dan itu lahannya ulama. Bukan awwam seperti kita.


Dalil lain yang secara tekstual seolah menunjukkan bahwa Nabi berduaan dengan non mahram adalah hadits Ummu Sulaim. 

Dari Anas Ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ، فَيَنَامُ عَلَى فِرَاشِهَا، وَلَيْسَتْ فِيهِ، قَالَ: فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ، فَنَامَ عَلَى فِرَاشِهَا، فَأُتِيَتْ، فَقِيلَ لَهَا: هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ فِي بَيْتِكِ، عَلَى فِرَاشِكِ، قَالَ: فَجَاءَتْ وَقَدْ عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ عَلَى قِطْعَةِ أَدِيمٍ عَلَى الْفِرَاشِ، فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا، فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذَلِكَ الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ فِي قَوَارِيرِهَا، فَفَزِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَا تَصْنَعِينَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ ؟ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا، قَالَ: أَصَبْتِ "


Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam pada suatu hari pernah masuk ke rumah Ummu Sulaim. Beliau lalu tidur di atas alas tidur Ummu Sulaim ketika ia tidak ada di rumah. Pada hari lainnya beliau juga datang dan melakukan hal yang sama. Ketika Ummu Sulaim datang, ada yang melapor bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidur di alas tidur di rumahnya. Segera saja Ummu Sulaim masuk dan mendapati Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersimbah keringat yang sangat banyak sehingga mengenai sepotong kulit yang berada di dekat alas tidur tersebut. Kemudian Ummu Sulaim menyeka keringat tersebut lalu memerasnya ke dalam botol-botol yang terbuat dari kaca. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terbangun dan merasa kaget. Beliau bertanya : “Apa yang sedang kamu lakukan wahai Ummu Sulaim ?”. Ia menjawab : “Wahai Rasulullah, kami mengharapkan barakahnya untuk anak-anak kami”. Maka beliau berkata : “Engkau benar”. (HR. Muslim No. 2331).


Dari Anas Ibn Malik :


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا يَدْخُلُ عَلَى أَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِ، إِلَّا أُمِّ سُلَيْمٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا، فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ، فَقَالَ: إِنِّي أَرْحَمُهَا، قُتِلَ أَخُوهَا مَعِي "


Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam tidak pernah masuk menemui seorang wanita pun kecuali istrinya dan Ummu Sulaim. Sesungguhnya beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam biasa menemuinya. Dikatakan kepada beliau tentang hal tersebut, maka beliau menjawab : ‘Sesungguhnya aku mengasihinya (yaitu : Ummu Sulaim). Saudara laki-lakinya terbunuh bersamaku (di medan jihad)”. (HR. Muslim No. 2455).


Kalangan penggagas ‘Pacaran Islami’ itu pun mengatakan bahwa ini bukan kekhususan bagi Nabi. Terbukti dengan adanya riwayat yang menunjukkan bahwa sahabat melakukan hal yang sama(khalwat dengan bukan mahram).


Dari Abu Musa Al-Asy’ari, ia berkata :


فَطُفۡتُ بِالۡبَيۡتِ وَبِالصَّفَا وَالۡمَرۡوَةِ، ثُمَّ أَتَيۡتُ امۡرَأَةً مِنۡ بَنِي قَيۡسٍ، فَفَلَتۡ رَأۡسِي، ثُمَّ أَهۡلَلۡتُ بِالۡحَجِّ


Aku pun thawaf di Ka’bah dan sai di Shafa dan Marwah. Kemudian aku mendatangi seorang wanita dari Bani Qais lalu dia mencari kutu di rambut kepalaku. Setelah itu aku memulai ihram untuk haji.. (HR. Bukhari No. 1221)


Diriwayat Muslim disebutkan :


فَطُفۡتُ بِالۡبَيۡتِ وَبِالصَّفَا وَالۡمَرۡوَةِ، ثُمَّ أَتَيۡتُ امۡرَأَةً مِنۡ قَوۡمِي فَمَشَطَتۡنِي وَغَسَلَتۡ رَأۡسِي


Aku pun thawaf di Ka’bah, sai di Shafa dan Marwah, kemudian aku datang kepada seorang wanita dari kaumku. Lalu dia menyisiri rambutku dan mengeramasiku. (HR. Muslim No. 155)


Menurut mereka, Abu Musa Al-Asy’ari berkhalwat dengan perempuan asing dan itu hal yang wajar karena tidak ada fitnah/syahwat diantara mereka.


Para penggagas ‘pacaran islami’ ini mati-matian mencari dalih untuk membenarkan pendapat mereka. Sampai mereka dengan seenaknya menta’wil hadits-hadits Nabi yang mulia.

Menurut mereka, hadits larangan berkhalwat tidak mutlak menunjukkan haramnya berkhalwat.


Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :


لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما


“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syetan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad [1/18], At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshath [2/184], dan Al-Baihaqi dalam sunannya [7/91]).


Menurut mereka, makna ‘syetan’ disini bukanlah hakikat. Tapi makna ‘syetan’ disini adalah isyarat akan bahaya yang bisa muncul dari berduaan.


Untuk membenarkan pendapat mereka, mereka mengutip hadits :


اَلرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ


“Satu pengendara (musafir) adalah syetan, dua pengendara (musafir) adalah dua syetan, dan tiga pengendara (musafir) ialah rombongan musafir.” (HR. Abu Dawud No. 2607; At-Tirmidzi No. 1674; dll.)


Nyatanya, perjalanan seorang diri tidaklah haram, meski disebutkan dalam hadits dengan istilah “syetan”. Ini lah pendapat fiqh mereka yang nyeleneh lagi suka mencari dalih(bukan dalil).


Lantas, bagaimana menjawab syubhat mereka? In Sya Allah akan kita paparkan di bagian kedua.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!