Tuesday, June 26, 2018

Once Upon A Time


By. Lulu


Once upon a time there was a little frog.  He lived in a little pond.  Near the pond was a tall tree.  The little frog was very happy. Ini kisah 'The Frog and The Thunder'. Kisah-kisah untuk anak-anak, beberapa diawali dengan kata itu, 'once upon a time'. Jika dibacakan dengan intonasi yang indah, mata-mata mungil dengan kaki dan tangan kecil mereka yang bersih setelah dicuci menjelang tidur, dengan segera akan terasa berat. Kemudian terpejam.

Lucu ya. Jadi ingat anak-anak saat mereka kecil. Saya biasa cerita tentang kelinci merah dan kelinci biru. Selalu itu. Kelinci merah dan kelinci biru sebagai pemeran utama ciptaan saya. Kenapa dinamakan merah dan yang satunya biru? Karena atribut yang mereka pakai itu. Jadi ketika saya cerita tentang kelinci merah dan kelinci biru, serta merta mereka terbayang kelinci merah dengan baju merah, sepatu merah, tas merah. Kelinci biru dengan yang serba biru. 

Tema cerita bisa saya ganti setiap malam. Kadang mereka yang tentukan tema. Malah kadang mereka berlomba tentukan alur cerita. 'Kelincinya pergi sekolah ya bun', kata Danie si sulung. Lalu kemudian adiknya, Dinda menyela, 'Yaaa...kemarin kan sudah ke sekolah, ke rumah nenek aja deh'. Maka imajinasi mereka terbang, dipenuhi dengan kisah anak-anak tersebut. Hingga pada akhirnya mewarnai kepribadian mereka.

Itu baru kisah tentang kelinci. Dongeng sebelum tidur. Bayangkan jika kita sampaikan kisah para sahabat. Kisah Rasul. Kisah kegemilangan Islam. Tentu warna Islam memenuhi benak mereka. Bukan sekulerisme seperti yang ada sekarang. Menghasilkan generasi bingung tanpa identitas Islam.

Terlihat ya betapa bacaan dan kemampuan menyampaikan kata-kata, penting untuk membangun pemikiran. Mempunyai kekuatan sendiri untuk membentuk pemikiran umat. Yang pada akhirnya membentuk pemahaman. Menghasilkan tingkah laku dan kepribadian Islam.

Tulisan dan kata-kata sebagai sarana dakwah. Jika sejak kecil anak-anak muslim mendengar bacaan tentang kemuliaan Islam. Serta dalam keseharian mereka yang didengar adalah kalimat thayibah yang datangnya dari syariat. Maka mewujudkan kebangkitan bagi umat tidaklah sulit.

Menulislah, kembalikan anak-anak kaum muslim ke dalam Islam. Isi kepala dan hati mereka dengan pemikiran Islam. Sehingga jika telah terbentuk kepribadian Islam, maka setiap kali mereka menghadapi masalah, hanya Islam yang mereka jadikan solusi. Pun ketika mereka melihat fakta. Mendengar berita tentang kaum muslim di belahan dunia yang jauh, yang dihujani bom dan mesiu sepanjang waktu. Mereka akan berpikir untuk segera bergerak menuntaskan persoalan itu juga dengan Islam.

Sampaikan dengan lisan dan tulisan tentang keindahan Islam. Sampaikan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Once upon a time, there was a beautiful country, Daulah Islamiyah. Conquered more than half part of the country. We lived together, moslem and non moslem. And there was not sad and difficulty under Islamic Government. We lived happily ever and after.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!