Friday, June 1, 2018

Muslimah Milenial : Antara Gemilang Sejarah Dengan Tantangan Kekinian


Oleh : Vivin Indriani (Member Komunitas Revowriter)


Ada begitu banyak tantangan dihadapi para muslimah di era milenial kini. Mereka berpadu dengan tantangan zaman menembus berbagai kesukaran demi untuk bertahan hidup. Meski kadang harus melawan kodrat dan fitrah, apalah daya berjibaku di riak kehidupan zaman kekinian mesti dijalani jika tak ingin eksistensi meredup dan tak diakui.


Muslimah milenial punya segebung tanggung jawab. Tidak saja sebagai muslimah, yang dibebankan padanya surat tugas pelaksana dari Yang Kuasa, menjadi Al-Umm wa Rabbatul Baith (ibu dan pengatur rumah tangga). Atau jika masih tertanggung orangtua, berbakti pada mereka dengan segenap kemampuan sebagai bukti ketundukan pada aturanNya.


Namun di era dengan tuntutan materi tidak lagi sebagai gaya hidup, melainkan telah menjelma menjadi kebutuhan hidup dan mati ini, muslimah pun wajib menyingsingkan lengan untuk membantu suami atau orangtua. Bekerja menjadi wajib dan dirumah itu aib tercela. Dianggap sama sekali tak berharga-tak bermanfaat. Meski dengan bekerja diluar rumah, tak cukup menjadikannya berharga dan mulia. Bahkan kadang berbuah derita.


Padahal di era silam, ketika peradaban Islam dalam masa-masa keemasan, perempuan menyandang predikat mulia dan berharga. Mereka dijaga sesuai alur penjagaan yang ditetapkan oleh Islam. Banyak lelaki diseputar kehidupannya menyandang gelar Al Haris. Penjaganya, pelindung kehormatannya, walinya  serta penjamin nafkah dan seluruh kebutuhan hidupnya. Mereka inilah para suami, ayah, saudara laki-laki dan anak laki-laki. Sungguh pengaturan yang memuliakan wanita.


1300 tahun lamanya perempuan merasakan pengayoman dan penjagaan luar biasa dalam era-era kejayaan peradaban Islam. Terpenuhinya seluruh hak, terjaga kemuliaan dan kehormatan. Bahkan terjamin untuk menghasilkan karya berupa ilmu pengetahuan dan teknologi sama imbang dengan hak berkarya para lelaki. Yang tidak kalah penting adalah bahwa semua hal ini tidak hanya dirasakan oleh perempuan muslim tapi juga oleh perempuan nonmuslim. Kebahagiaan dan kesejahteraan dirasakan oleh seluruh masyarakat.


Tersebutlah dalam kisah-kisah indah dimasa para khalifah. Ketika seorang wanita dilecehkan kehormatannya serta ditawan oleh tentara Amuria, maka Khalifah Al-Mu'tashim Billah segera kirimkan 20.000 bala tentara untuk membebaskannya. Sungguh berharganya perempuan dalam syariat Islam. Hanya demi membela kehormatan seorang muslimah, ribuan pasukan dikirim untuk menjadi penyelamatnya.


Atau bagaimana para Shulthan Bani Utsmaniyyah menyediakan satu tempat, dimana para wanita bebas berkarya disana. Mereka belajar, menuntut ilmu, berkarya, menghasilkan penemuan-penemuan untuk kegemilangan peradaban Islam didalamnya. Hanya wanita saja yang ada di tempat itu, dan tak seorang lelakipun boleh masuk dan mengganggu aktivitas mereka seharian.


Kita pun mengenal ilmuwan muslimah Maryam Al-Asturlabi. Perempuan muslimah cerdas penemu astrolube. Tanpa penemuannya, maka hari ini tak akan ada kapal-kapal yang sampai tepat waktu karena tak ada penunjuk arah buah karya beliau. 


Sutayta al-Mahamali. Ia adalah sosok muslimah multitalenta yang lebih dikenal sebagai pakar matematika, khususnya aritmatika. Memecahkan solusi sistem persamaan dalam matematika adalah salah satu karyanya sebagai seorang ilmuwan. Catatannya tentang sistem persamaan pun banyak dikutip oleh para matematikawan lainnya.


Zubaida binti Jafar al-Mansur (istri dari Khalifah kelima dinasti Abbasiyah, Harun al-Rasyid). Penggagas dibuatnya jalan raya penghubung antara Kufah dan Mekkah, yang bernama Darb Zubaidah (Arab: درب زبيدة‎). Jalan raya ini lebarnya sekitar 18 meter, yang membentang sejauh 1500 Km, dan sudah melayani perjalanan haji jutaan kaum muslimin selama berabad-abad. Di sepanjang jalan tersebut, ia membangun sumur-sumur air dan menara api untuk memberi penerangan ketika malam tiba.  .


Begitu juga di India ketika kekuasaan Islam membentang disana. Ada tokoh perempuan bernama Mahrunnisa’, istri Emir Saliem yang dikenang melalui bangunan megah Taj Mahal. Suaminya menggelari Mahrunnisa’ dengan sebutan Nur Mahal. Rakyat menggelarinya Nur Jehan atau Nurud Dunya (cahaya alam). Nur Mahal sangat ahli dalam soal hukum, pandai bahasa Arab dan Persia. Ia pun sering keluar istana untuk menginspeksi kelengkapan tentara, menerima kedatangan panglima-panglima perang, para penguasa dan bahkan gemar berkuda untuk berburu. Ketika suaminya ditawan musuh dalam suatu peperangan, Nur Mahal berhasil membebaskannya. Lantaran itu namanya disanjung dan dipuji di seluruh India, bahkan dunia.


Dunia pun mencatat, islam sampai pula ke Indonesia. Terlahirlah perempuan-perempuan Indonesia yang pernah merasakan hidup di bawah naungan kekhilafahan Islam. Mereka perempuan-perempuan hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Sebut saja Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pecut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Panglima Muslimah Malahayati. 


Demikian jauhnya kehidupan para muslimah dulu dengan era kini. Seolah tidak terbentang jarak untuk menjembatani keterpurukan kehidupan mereka hari ini dengan masa gilang gemilang di era silam.


Kini perempuan muslimah diharuskan bertanggung jawab atas dirinya sendiri secara penuh. Menanggung sendiri segala kesulitan hidup, kekurangan dan bahkan kadang merasai ketakberdayaan menghadapi gangguan dan pelecehan atas marwah kehormatannya tanpa pelindung yang kuat sebagaimana di era silam.


Namun masa silam adalah cambuk. Kenangannya bukan sekedar dongeng untuk diceritakan sebagai hiasan sebelum tidur. Namun dia adalah penyemangat dan pemikat. Agar muslimah hari ini mampu mewujudkan kehidupan mulia kembali dengan syariat  Islam.


Tantangan zaman yang kian berat hari demi hari seharusnya dihadapi dengan menajamkan pemikiran, mencerdaskan diri dan sekitarnya, agar semakin banyak muslimah tercerdaskan akan kemuliaan yang bisa diraih jika Islam kembali menyelimuti kehidupan.


Muslimah era milenial pun hendaknya tidak larut dalam geriuh hingar bingar zaman yang melenakan. Dia bergerak di tengah masyarakat mewarnai dan mengarus utamakan ide-ide keislaman agar tak lekang dalam gelombang zaman. Dia sukses bukan pada materi dan kedigdayaan, namun suksesnya adalah kesuksesan hakiki sebagai hamba Allah yang mengemban risalah Islam kepada masyarakat di sekitarnya, serta mengantarkan dirinya pada keridhoan Sang Pencipta, Allah SWT.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!