Sunday, June 17, 2018

Mudik Selamat Dengan Islam


Oleh : Endah Murtisari 


( Member Writing Class With Has)


Tak terasa Ramadhan sudah di penghujung jalan. Berbagai aktivitas dilakukan. Dari mulai beri'tikaf di masjid, mangkhatamkan Al quran sampai sibuk melakukan persiapan mudik. Ya, mudik salah satu tradisi masyarakat Indonesia yang dilakukan ketika hari Raya. Khususnya Idul Fitri. 


Masyarakat menjadikan libur hari raya idul Fitri yang cukup panjang untuk mudik. Mudik dilakukan dalam rangka bersilaturahmi kepada orang tua, sahabat, dan sanak saudara.


Allah berfirman: "Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturrahmi. (QS An Nisa: 1).


Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturrahmi. (HR Muslim).


Pun mudik juga dijadikan momen anak untuk birrul walidain kepada orang tua. 


Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu lah kembalimu." (QS Luqman: 14).


Rasulullah alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, lalu Allah berwasiat agar berbuat baik kepada ibu-ibumu, kemudian Allah berwasiat kepada bapak-bapakmu, dan kemudian Allah berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu. (HR Ibnu Majah).


Mudik  biasanya dilakukan oleh orang yang berdomisili  cukup jauh dengan orang tua dan saudara. Bukan hanya berjarak antar kota bahkan antar pulau sampai negara. Untuk itu diperlukan sarana transportasi menuju tempat tujuan. 


Tersebab mudik adalah agenda rutin yang dilakukan serempak oleh kebanyakan umat muslim.  Tak ayal kemacetan pun terjadi sampai bermil mil jaraknya. Pun kecelakaan tak bisa dihindari. Seperti yang dialami  oleh satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak tewas setelah mengalami kecelakaan di Jalan Raya Tajur, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Ketiga korban merupakan pengendara motor yang hendak mudik ke kampung halamannya di Cilacap, Jawa Tengah. Di lokasi, diduga motor yang dikendarai oleh Rayitno ini bersenggolan dengan motor lain. Kemudian korban terjatuh ke jalur kanan dan akhirnya dihantam atau tertabrak mobil minibus yang melaju dari arah berlawanan," terang Kasubag Humas Polresta Bogor Kota, AKP Yuni Astuti, ketika dimintai konfirmasi, Rabu (13/6/2018). (Detiknews).


Sebuah bus jurusan Bondowoso-Surabaya/Malang mengalami kecelakaan tunggal dan terjun ke jurang sedalam sekitar enam meter di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada Jumat (8/6/2018). Insiden tersebut terjadi akibat rem bus tidak berfungsi dengan baik. Kejadian ini juga mengakibatkan tiga orang penumpang mengalami luka berat seperti patah tulang di kaki hingga luka robek. Sementara dua penumpang lainnya mengalami luka ringan.


Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal mengatakan total 70 kecelakaan terjadi di seluruh Indonesia pada H-7 Lebaran.  Kelakaan tersebut mengakibatkan 14 orang meninggal dunia, 12 orang luka berat dan 84 orang mengalami luka ringan. (Antara)


Kecelakaan maut terjadi di ruas tol Cipali dari arah Jakarta yang akan menuju ke Cirebon, kali ini korbannya adalah dua orang petugas tol. Kecelakaan sendiri terjadi pada Selasa (12/06) siang sekitar pukul 12.05 WIB. Kecelakaan diduga karena supir mengantuk.


Kecelakaan beruntun juga terjadi di ruas Tol Cipali KM 181 arah Palimanan sekitar pukul 13.30 WIB. Ada enam kendaraan yang saling bertabrakan pada insiden tersebut, tiga di antaranya adalah bus panjang dan tiga lainnya adalah mobil minibus milik pemudik. (IDN Times).


Padahal menteri perhubungan mengatakan bahwa angka kecelakaan  turun dari 1409 menjadi 719 berarti 31%, sedangkan untuk korban meninggal dunia dari 278 menjadi 140 turun 49%, khusus wilyah Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah belum menghitung secara nasional. (Tribun News).


Kecelakaan saat mudik terjadi karena beberapa hal diantaranya melakukan kegiatan yang menggangu konsentrasi berkendara, yaitu mengoperasikan ponsel sambil menjalankan kendaraan.  Berkendara terlalu cepat sehingga sulit memberikan reaksi jika terjadi sesuatu. Tidak memperhatikan marka jalan, menerobos lampu merah. Sopir dalam keadaan lelah dan mengantuk. Keadaan kendaraan yang kurang prima. Sampai kondisi jalan yang kurang baik seperti adanya lubang jalan dimana-mana.


Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam rangka menanggulangi kemacetan dan mengurangi angka kecelakaan mudik diantaranya melakukan penghentian sementara kegiatan konstruksi jalan tol selama periode mudik lebaran, pemerintah juga melakukan pengaturan pagar lokasi konstruksi untuk meningkatkan kapasitas jalan dan tidak mengganggu lalu lintas. Pemanfaatan pelebaran lajur pada proyek Jakarta-Cikampek elevated juga menjadi salah satu solusinya.  Peningkatan layanan transaksi. Kondisi lalu lintas akan dipantau melalui CCTV dan RTMS, sedangkan untuk pengaturan lalu lintasnya akan berkoordinasi dengan korlantas. Juga disediakannya  tempat istirahat sementara dengan tempat parkir, toilet, dan mushola di beberapa lokasi bagi para pemudik dan peningkatan layanan informasi.


Bahkan melalui akun facebooknya, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa beberapa tol sudah mulai bisa dioperasikan demi kelancaran mudik lebaran 2018. (TribunWow.com).


Untuk mengatasi persoalan mudik ini, Islam pun punya solusi tuntas yang harus dilakukan oleh Negara. Dengan melakukan dua kebijakan yaitu perencanaan pemerataan pembangunan dan perbaikan infrastruktur.


Pemerataan pembangunan pada setiap wilayah harus dilakukan merata. Mulai dari desa ke kota. Sampai wilayah terpencil dan terpelosok. Pembangunan yang merata dan ketersediaan lapangan kerja di setiap wilayah akan menghindari konsentrasi warga negara pada satu wilayah tertentu, juga dapat mengatasi urbanisasi dari desa ke kota yang berlebihan. Sehingga mudik besar besaran tidak akan terjadi.


Persoalan infrastruktur adalah merupakan tanggung jawab Negara, bukan tanggung jawab investor swasta. Infrastruktur Negara wajib menggunakan teknologi terkini yang dimiliki. Teknologi yang ada meliputi navigasi, telekomunikasi, fisik jalan hingga kendaraannya itu sendiri.

Teknologi navigasi perjalanan menjadi aman, nyaman dan tidak tersesat dan jika ada masalah sepanjang perjalanan mudik dapat ditolong oleh patroli. Negara juga harus bersungguh-sungguh memperhatikan pembangunan jalan untuk meminimalisasi kecelakaan. Khalifah yang mulia, Umar bin Khattab ra pernah berkata, “Seandainya ada kambing yang terperosok lubang di Hadramaut, maka aku bertanggung jawab terhadapnya.“


Negara juga harus menjadikan jarak tempuh antar kota dan wilayah lebih pendek. Hal ini bisa dilakukan dengan cara misalnya mencanangkan proyek “Railway”. Khalifah Utsmaniy Abdul Hamid II, pada tahun 1900 mencanangkan proyek “Hijaz Railway”. Jalur kereta ini terbentang dari Istanbul ibu kota Khilafah hingga Mekkah, melewati Damaskus, Jerusalem dan Madinah.  Di Damaskus jalur ini terhubung dengan “Baghdad Railway”, yang rencananya akan terus ke timur menghubungkan seluruh negeri Islam lainnya.  Proyek ini diumumkan ke seluruh dunia Islam, dan umat berduyun-duyun berwakaf.  Dengan kebijakan ini dari Istanbul ke Makkah yang semula 40 hari perjalanan tinggal menjadi 5 hari! (Fahmi Amhar, MU-Online).


Wallahu a'lam bishowab


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!