Friday, June 8, 2018

Meraih Sukses di 10 Hari Terakhir Ramadhan


Oleh: Sadja’ah

“Sungguh rugi seseorang yang ketika (nama)ku disebut disisinya, dia tidak bersalawat atasku. Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan berlaly darinya sebelum dosa-dosanya diampuni. Sungguh rugi seseorang yang mendapati kedua orang tuanya dalam keadaan renta, tetapi keduanya tidak (menjadi sebab yang) memasukkan dia ke dalam surga.” (HR. at Tarmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan al Hakim)

“Sungguh bulan (Ramadhan) ini telah datang kepada kalian. Didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. siapa saja yang tidak mendapatkan (kebaikan)-nya maka dia tidak mendapat kebaikan seluruhnya. Tidak ada yang diharamkan dari kebaikannya kecuali orang yang bernasib buruk.” (HR. Ibnu Majah)

Kesuksesan dapat kita dapatkan diantaranya melalui dua pendekatan. Pertama; meninggalkan segala perkara yang haram atau sia-sia, yaitu apa saja yang membatalkan atau menggagalkan pahala puasa kita. Karena puasa itu adalah perisai bagi kita untuk menjauhi semua hal yang tidak Allah sukai. Kedua, menunaikan perkara-perkara yang wajib maupun sunnah. Yang utama tentu menunaikan puasa, kemudian qiyamul lail dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridho Allah swt. Apalagi sekarang waktunya kita mengencangkan ikat pinggang untuk berburu Lailatul Qadr. Rasulullah saw bersabda, “..Siapa saja yang menghidupkan lailatu qadr dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridho Alah swt, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. at Tirmidzi)

Tak hanya itu, jika kita memaknai takwa yang menjadi tujuan selama Ramadhan. Takwa bisa dimaknai sebagai kesadaran akal dan jiwa serta pemahaman syar’I atas ewajiban mengambil halal haram sebagai standar bagi seluruh aktivitas yang diwujudkan secara praktis dalam kehidupan. Untuk meraih takwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kunci mewujudkan ketakwaan individu, keluarga maupun masyarakat tidak lain dengan menerapkan syariah Islam secara formal dan menyeluruh (kaffah) di bawah pimpinan seorang imam atau khalifah yang dibaiat umat. 

Keberadaan imam yang dibaiat oleh umat ini merupakan perkara wajib berdasarkan sabda Rasul saw, “Siapa saja yangmati sementara dilehernya tidak ada baiat (kepada Khalifah/Imam), maka matinya adalah mati jahiliah” (HR. Muslim). Sebagai sebuah kewajiban, yang sama dengan kewajiban sholat dan puasa pada bulan Ramadha, bahkan dikatakan kewajiban yang agung karena dengannya bisa terwujudkan untuk menerapkan Islam secara kaffah dalam sistem kehidupan. Maka atifitas dawah dan perjuangan untuk mewujudkannya harus masuk dalam daftar amal paling utama yang harus kita lakukan. Agar kesuksesan di penghujung Ramadhan ini bisa benar-benar kita raih.

Wallahua’lam bish shawab

 



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!