Monday, June 4, 2018

MENINGKATNYA KRIMINALITAS DI BULAN RAMADAN


Oleh : Sri Purweni, SP 


Sepulang mengantar anak yang ada kegiatan di sekolah aku langsung mencari kue untuk konsumsi bapak-bapak setelah tadarus, tanpa pikir panjang kubelokkan kendaraan melewati jalan pintas agar cepet pulang karena khawatir susah membawa si bungsu jika ngantuk. 


Jalanan sepi membuat aku bisa kendaraan agak laju namun di depanku ada seorang lelaki seperti sedang menunggu,  ragu...... Namun agak susah jika aku harus membelok arah mengingat belanjaanku juga penuh di setang kendaraan. 


Bismillah aku melaju sambil ngomong sama si kecil, "Pegangaan ya nak."


Benar saja lelaki itu seperti kaget saat aku melaju tapi tak ku tengok lagi yang penting melaju hingga sampai ke jalan raya...Aman! 


Teringat diramadan tahun lalu juga kejadian seorang laki-laki yang meminta sumbangan untuk istrinya yang melahirkan karena nggak bisa nebus darah di PMI ......Alhamdulillah masih bisa lolos dengan melaju saat dia ngajak ngomong, terkejut aku pergi lelaki itu mengumpat dengan kata" kotor.


Di lain waktu aku liat emak-emak teriak tapi nggak kencang berebut tas dengan seorang lelaki, saat kuhampiri emak baru teriak.... Copet! 


Ah ......ramadan tak dijadikan momen buat mendekatkan diri dan semakin taqwa pada Nya. 


Kesulitan hidup yang menghimpit yang memaksa sebagian orang untuk melakukan tindak kriminal. 


Lapangan pekerjaan yang semakin sempit, persaingan yang ketat hingga membuat mereka yang tak mengingat Allah menghalalkan segala cara.


Namun dalam Islam telah diatur hukuman bagi pencuri  sehingga akan menimbulkan efek jera bagi pelakunya dan tak akan mengulangi lagi perbuatannya, selain itu menjadi contoh buat yang lain untuk tidak meniru perbuatan terhina itu. 


Mencuri dalam hal ini termasuk juga korupsi uang negara yang marak terjadi dalam pemerintahan saat ini. 


Hukuman potong tangan merupakan hukuman pokok untuk tindak pidana pencurian. Ketentuan ini didasarkan pada ketentuan firman ALLOH subhanahu wa ta’ala dalam surat Al Maaidah ayat 38;

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari ALLAH. Dan ALLAH Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Maaidah [5]:38}


Hukuman potong tangan merupakan hak ALLAH subhanahu wa ta’ala yang tidak dapat digugurkan, baik oleh korban maupun oleh ulil amri (kepala negara), kecuali menurut Syi’ah Zaydiyah. Menurut mereka hukuman potong tangan bisa gugur apabila dimaafkan oleh korban (pemilik barang).


Andai diterapkan hukum potong tangan dapatkah para koruptor itu masih merasa nyaman dengan memakan uang rakyat yang mengakibatkan kesengsaraan orang banyak? 


Wallahualam bishawab.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!