Friday, June 1, 2018

Membantah Fitnah Kaum Orientalis terhadap Al-Quran


Oleh Ammylia Rostikasari, S.S. (Akademi Menulis Kreatif/Komunitas Penulis Bela Islam)


Bulan Al-Quran merupakan satu di antara predikat yang disematkan kepada Bulan Ramadhan. Karena turunnya petunjuk hidup kalamullah Al-Qur’an turun pada 17 Ramadhan pada 14 abad silam.


Maka amalan yang dianjurkan untuk dilakukan dalam menghormati Nuzulul Quran ialah dengan bertilawah Al-Quran. Mentadaburi makna guna mengamalkan dalam kehidupan nyata. Adapun dalil anjuran untuk tilawah telah disabdakan oleh Rasulullah SAW.


Bacalah oleh kalian Al-Quran, sungguh Al-Quran itu akan datang pada Hari Kiamat menjadi syafaat bagi pembacanya (HR Muslim)


Namun, seribu sayang Al-Quran di zaman kekinian diperlakukan dengan beragam. Meski masih banyak yang memegang erat untuk jadi pedoman, kini Al-Quran dijadikan bahan fitnahan bahkan dijadikan alat bukti tindakan kejahatan. Astaghfirullah. Mereka yang melakukannya sungguh telah menghinakan Sang Pemilik Jagat Raya.


Kaum orientalis sering menyerang kesucian Al-Quran. Mereka dengan pongahnya melontarkan dua tuduhan yang Jelas tak beralasan.


Pertama, mereka meragukan akan kesucian Al-Quran sebagai firman Allah SWT. Mereka ujarkan bahwa kitabullah sekadar rekaaan perkataan bangsa Arab, termasuk di dalamnya Muhammad SAW.


Kedua, mereka menyangsikan kesempurnaan Al-Quran sebagai pedoman dan rambu-rambu kehidupan yang sesuai dengan zaman.


Jelas bahwa tuduhan pertama telah langsung disanggah oleh Allah dalam firman-Nya. Terdapat sejumlah ayat dalam Al-Quran yang menantang umat manusia baik bangsa Arab maupun non Arab untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran. Selain itu, Allah pun menegaskan bahwa Al-Quran bukanlah karangan Muhammad SAW. 


“Tidakkah mereka merenungkan Al-Quran?Andai Al-Quran itu bukan berasal dari sisi Allah, tentu mereka akan menemukan di dalamnya pertentangan yang banyak” (TQS An-Nisa: 82)


Adapun mengenai tuduhan yang kedua, kaum orientalis dan para pengikutnya menganggap bahwa hukum yang ada dalam Al-Quran hanya bersifat lokal, temporal juga kondisional. Mereka mencontohkan mengenai hukum waris, poligami, jihad, qishosh juga hijab.


Menyayangkan sekali, tuduhan ini justru diadopsi oleh sebagian umat Muslim yang terjangkiti paham liberal, terkhusus mereka yang menjadi anak didik dari kaum orientalis.


Digunakanlah kaidah-kaidah untuk menjustifikasi guru orientalisnya, seperti

 “La yunkaru taghayyur al-makan wa az-zaman” yang artinya tidak diingkari perubahan hukum karena perubahan temoat dan zaman.

“Al ‘adat muhakkamah” artinya adat adalah hukum.

“Al Umuru bi maqashidiha” artinya setiap perkara bergantung pada tujuannya.


Dengan kaidah tersebut, mereka dengan seenaknya menafsirkan ajaran Islam hanya bersandar pada logika semata. Menyatakan hijab itu budaya Arab sehingga tidak cocok badi wanita di luar Arab. Menyatakan jika bunga pinjaman bukanlah riba jika niatnya sebagai tanda terima kasih dan nilainya tidak berlipat ganda. 


Yang lebih miris adalah penolakan mereka kepada Islam kaffah yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Mereka berargumen, jika demokrasi sudah dianggap sesuai Islam sehingga syariat Islam tak perlu diterapkan dalam aspek kenegaraan. 


Sungguh, kengerian yang luar biasa tuduhan dan imbas yang dihasilkan dari pemikiran orientalis yang liar ini. Parahnya ini didukung oleh kaum Islam liberal yang menjadi kaki tangangnya.


Sebagai seorang Muslim yang berupaya takwa, seharusnya sikap tunduk patuh kepada semua ayat dalam Al-Quran adalah konsekuensinya. Janganlah kita mengambil sebagian isi Al-Quran lalu mencampakkan sebagian lainnya. Jelas ini dikatakan akan menjerumuskan pada kekafiran (lihat An-Nisa:150-151) naudzubillah.


















Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!