Saturday, June 16, 2018

Lebaran dan Jerat Kemewahan


Oleh: Arin RM, S.Si


Datangnya Syawal adalah kebahagiaan bagi setiap muslim. Sebab ia nya adalah hari raya, Ied yang ditetapkan untuk bergembira dan kembali berbuka (setelah sebelumnya, selama Ramadan tak diperkenankan makan dan minum di siang hari nya). Gempita terasa menyelimuti berbagai penjuru di hari yang berjuluk lebaran ini. Berbagai cara dilakukan untuk turut menyambut gegap gempita tersebut. Mulai dari penyiapan rumah yang kembali dipoles agar indah. Perabot rumah yang ditata ulang hingga apik, menyiapkan baju lebaran nan cantik, hingga menyajikan aneka makanan melebihi keseharian. Semuanya serentak dan kompak, seirama dan satu suara meleburkan diri dalam perayaan. Meskipun harus meningkatkan list daftar belanjaan, termasuk biaya bahan bakar kendaraan saat jalan-jalan. Salah satu buktinya adalah konsumsi BBM yang diprediksi naik sekitar 20-30% jelang lebaran (wartaekonomi.co.id, 10/06/2018).


Sayangnya, di zaman now, esensi bergembira menikmati hari raya cenderung tak seimbang. Di satu sisi banyak yang berasal cukup dengan materi dan makanan seadanya. Disisi lain banyak yang sekali yang berlebihan, bahkan dikatakan bermewah-mewah dalam memaknai kebahagiaannya. Baik mewah dalam hal baju barunya, kendaraan nya, juga banyaknya makanan yang disajikan. Semuanya diupayakan wow luar biasa, supaya tidak malu saat bertemu sanak saudara. Disinilah jerat kemewahan mulai memainkan perannya. Mengikis sedikit demi sedikit capaian perbaikan iman yang telah dibangun sebulan sebelumnya. Menggagalkan kesempatan memenangkan derajat takwa.


Tentu bukan tanpa sebab mengapa jerat kemewahan bertaburan di hari raya. Sejak awal bulan puasa, aneka iklan sudah membombardir hasrat konsumen. Potongan diskon aneka rupa, model aneka gaya senantiasa melintas di media cetak dan juga spanduk jalanan. Semuanya mengarah dan mengajak pada pola hidup konsumtif yang adakalanya tidak sewajarnya. Bahkan tidak jarang pula diantaranya memainkan iklan dengan jargon "tampil beda", agar paling ini paling itu nantinya. Maka bisa bisa dimaklumi jika gaya beserta kemewahan  menjadi tolak ukur "beda" di hari raya. 

Tampilan beda nan mewah menjadi prestis. Seolah perlu dikejar meski dengan dana yang diadakan adakan atau bahkan main riba tatkala berurusan dengan "gressnya kendaraan". Ujung prestis ini pun akhirnya menggeser nilai ridlo Allah dalam setiap kegiatan. Keren di mata manusia menjadi standar sementara. Inilah sebenarnya  salah satu wujud sukses gempuran kapitalisme dengan konsep sekulernya.  Menempatkan perintah Allah dan larangan nya di kamar tersendiri, menguncinya dari eksistensi duniawi. Padahal salah satu sukses puasa adalah mendapatkan takwa. Standar nya jelang dalam Al Imran ayat 102. Ibnu Katsir menafsirkan hendaklah taat dan janganlah bermaksiat. Sedangkan Imam Jalalain menafsirkan: Hendaklah taat, maka janganlah bermaksiat; hendaklah bersyukur, maka janganlah kufur; hendaklah ingat (kepada Allah), maka janganlah lupa. (Tafsir Jalalain, Juz I, hlm, 394).

Sehingga seharusnya dalam kondisi berhari raya pun tetaplah harus taat. Menjadikan keridloan Nya sebagai satu satunya standar bahagia. Bukan larut terbawa bahagia ala kapitalis yang mengajak bermewah-mewah ria meski bermodal riba. Sebab jika ini yang terjadi, justru maksiat lah adanya. Dan seperti inilah yang dilarang, sebagaimana dalam surat Al Waqiah ayat 45 dan semisalnya. [Arin RM]




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!