Monday, June 4, 2018

Kontroversi Daftar Mubaligh


Oleh : Ummu Enzi (Komunitas Muslimah Peduli Generasi)


Beberapa waktu lalu Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, melalui Kementerian Agama  merilis daftar 200 mubaligh. Bukannya mendapat dukungan positif, yang terjadi justru banyak polemik paska rilis daftar mubaligh tersebut. Menag berpendapat bahwa maksud dikeluarkannya daftar mubaligh adalah untuk memenuhi tuntutan masyarakat akan kebutuhan terhadap mubaligh  atau penceramah yang sering ditanyakan ke Kementerian Agama. Menurut Menag, ada tiga kriteria dalam penentuan 200 mubalig yakni, mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, reputasi yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi. Lukman juga menegaskan bahwa daftar nama mubalig tersebut merupakan rilis awal. Daftar tersebut dihimpun dari masukan tokoh agama, ormas keagamaan, dan tokoh masyarakat. Ia menambahkan bahwa jumlah daftar 200 mubalig tersebut bisa terus bertambah seiring masukan dari berbagai pihak. Harapan dari rilis daftar nama muballigh ini bisa memudahkan masyarakat dalam mengakses para penceramah sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan langkah ini, Menag juga berharap dapat memperkuat upaya peningkatan kualitas kehidupan beragama sesuai misi Kementerian Agama.

 

Alih-alih bisa memudahkan mendapatkan penceramah dan menjawab tuntutan masyarakat tersebut, ternyata rilis daftar 200 mubaligh justru menuai polemic serta pro kontra hingga saat ini. Bagaimana tidak menimbulkan pro dan kontra jika dari  daftar tersebut malah banyak da'i yang selalu dibanjiri jamaah saat bercemah tidak masuk daftar. Ada Ustaz Abdul Shomad, Ustaz Adi Hidayat, dan Ustaz Felix Siauw yang selalu padat jamaah justru tidak masuk dalam daftar tersebut. Malah ada mubaligh yang sudah meninggal masih masuk dalam daftar. Hal ini seperti diungkapkan oleh CEO AMI Foundation, Azzam Mujahid Izzulhaq, melalui akun Facebooknya, Selasa (22/5/2018). Dalam status FB itu, Azzam Mujahid Izzulhaq menyebutkan, mubaligh yang telah almarhum tersebut adalah Dr. H. Fathurin Zen, M.Si di nomor urut 68 telah wafat sejak September 2017 lalu. 


Yang tak kalah mengejutkan adalah masuknya nama mantan terpidana dalam kasus korupsi sekaligus mantan Menteri Agama, Said Agil Husin Al Munawar dalam daftar 200 nama mubaligh yang dirilis Kemenag berada pada nomor urut 160. Pada 7 Februari 2006, Said Agil Husin divonis hukuman 5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena dinyatakan terbukti melakukan korupsi dana Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dan Dana Abadi Umat (DAU) pada tahun 2002-2004. 


Dari beberapa dai atau mubaligh yang tercantum dalam daftar tersebut ada beberapa yang ingin dihapus atau tidak menginginkan namanya masuk dalam daftar. Seperti disampaikan oleh Danil Anhar Simanjuntak yang justru merasa tak pantas dan lebih merekomendasikan ustad Abdul Somad dan Ustaz Adi Hidayat. Menurut  Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) tidak perlu membuat rekomendasi penceramah yang terkesan menghidangkan selera satu kelompok kepada kelompok lain dan menyampaiakn juka Kemenag penting mendengar semua pihak. Masih menurutnya, bahwa rekomendasi yang dikeluarkan kemenag itu justru membuat curiga dan berpotensi memecah belah umat. Sedangkan ustaz Yusuf Mansur yang biasa disapa UYM merasa belum pantas masuk daftar mubaligh. Masih banyak mubaligh lain yang lebih berkompeten. Menurut UYM, dengan adanya dafar tersebut para dai akan terbelah menjadi berseberangan yang akhirnya justru merugikan dakwah yang semakin menantang dan perlu kerjasama semua pihak.


Ustaz fahmi Salim yang masuk dalam daftar 200 mubaligh mengungkapkan bahwa beliau memiliki idealisme dalam berdakwah yang tak bisa diatur atau dibeli oleh siapapun dengan harga dunia berapapun dan kecintaannya kepada NKRI tak usah dipamerkan atau diteriakkan.  


Ustaz Felix sendiri menyikapi dirinya yang tidak masuk daftar serta sering mendapat persekusi dakwah, tidak terlalu mempedulikan hal tersebut. Menurutmya ada daftar yang lebih penting yang kita inginkan. Daftarnya mereka yang berjuang di jalan Allah, dakwah Islam hingga kapanpun.


Mengatasi Polemik


Walaupun sudah dihujani kritik dari banyak pihak, Menteri Agama menyatakan tidak bakal mencabut daftar nama 200 mubaligh yang telah terbit meski menimbulkan perdebatan di ranah publik. Dia tetap bersikukuh bahwa masyarakat membutuhkannya dan daftar mubaligh tersebut akan bisa terus bertambah dengan banyaknya masukan dari masyarakat. Lukman sendiri hanya menyampaikan permintaan maaf jika ada nama mubaligh yang belum masuk dafar bukan berarti tidak sesuai kriteria Kemenag namun karena belum ada yang mengusulkan. 


Amien Rais ikut mengomentari pro kontra tersebut dengan mengimbau agar Kemenag menarik rekomendasi 200 mubaligh sesegera mungkin. Karena kalau ditambah lagi, nanti akan menjadi ribuan yang semakin menambah kegusaran dan kegaduhan. Bahkan Amien Rais menyarankan bahwa Menag lebih baik mundur jika tidak mampu mennuntaskan masalah ini. 


Bisa kita bayangkan dengan 200 mubaligh yang dirilis Kemenag akankah mampu menangani kajian atau khutbah Jumat sekitar 800.000 masjid? 


Dengan adanya daftar mubaligh malah akan mempersulit masyarakat yang butuh penceramah karena harus mengikuti daftar yang ada di Kemenag. Selain itu dengan adanya daftar mubaligh bisa mengkotak-kotakkan di antara para dai menjadi kubu yang berseberangan. Melihat sejak awal dikeluarkannya daftar mubaligh yang terus menimbulkan polemik, alangkah baiknya jika Menag segera mencabut dan menghapus daftar mubaligh. Sebagai Menteri Agama, seharusnya bisa lebih bijak dengan merangkul semua pihak untuk duduk bersama membicarakan hal ini. Menyamakan tentang persepsi ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin serta tidak mendikotomikan ajaran Islam antara yang radikal dan modernis. Ajaran Islam adalah ajaran yang sama dalam masalah aqidah namun masih boleh berbeda dalam masalah cabang yaitu masalah fiqih. Para mubaligh atau dai juga harus sering menjalin silaturrahim dalam melakukan dakwahnya sehingga masyarakat akan lebih bisa terbina Islam dengan lebih baik. Dakwah pun menjadi lebih harmonis dan sinergis baik di antara sesama para dai maupun masyarakat yang sangat membutuhkan bimbingan para dai dalam memahami ajaran Islam.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!