Tuesday, June 19, 2018

Konglomerat ‘Disuntik’ Subsidi, Rakyat ‘Disuntik’ Mati


Oleh : Ana Harisatul Islam


Beras mahal! Elpiji langka! Apa harus stop masak?! Udah, gak usah makan aja sekalian. -kerasa banget bagi anak kosan-.  Masih ingat keluhan Ibu dua hari lalu, via telepon beliau berkata, “Opo wong cilik gak dioleh mangan?” (Apa orang miskin gak dibolehin makan?). 


Benar saja. Beras adalah makanan pokok bagi masyarakat. Artinya, mau orang kaya, miskin, menengah, semuanya pasti butuh beras. Bagi orang kaya, mungkin tidak begitu berpengaruh, namun bagi rakyat kecil?.


Biro Pusat Statistik (BPS) pun mengakui, harga beras berpengaruh besar terhadap garis kemiskinan: 73 persen. Dengan demikian, setiap kenaikan harga beras pasti akan berdampak langsung pada kemampuan rumah tangga dalam memastikan ketersediaan bahan makanan pokok untuk keluarganya.


Hal ini akan sangat terasa pada perempuan dari keluarga miskin. Bayangkan, dengan pendapatan keluarga yang pas-pasan, kaum perempuan ini diharuskan bisa memastikan ketersediaan makanan bagi keluarganya. Seringkali, soal pangan ini memicu kekerasan dalam rumah tangga.


Nah, apa namanya gak ‘disuntik’ mati tuh rakyat? Kok kayaknya gak seneng banget gitu pemerintah ngelihat rakyatnya sejahtera dikit. 


Beda rakyat, beda pula konglomerat. Kabarnya, ada Lima Konglomerat Sawit 'Disuntik' Subsidi Mega Rp7,5 Triliun (CNN Indonesia). Kajian soal sawit milik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2016 menemukan bahwa penggunaan dana yang berlebihan bagi perusahaan biodiesel bisa menimbulkan ketimpangan dalam pengembangan usaha perkebunan sawit.


Kebayang kan kemana arah para penguasa berpihak? Apa rakyat harus jadi konglomerat dulu biar diperhatiin?


Inilah dampak dari penerapan sistem kapitalisme, dimana hubungan antara rakyat dan penguasa adalah hubungan jual beli. Pemerintah jual, rakyat yang beli. Penting negara untung. Gak peduli rakyat pada terkatung-katung. Duh duh gak inget di akhirat kali ya?.


Lain halnya dengan sistem Islam. Dalam Islam, penguasa adalah pemelihara rakyatnya.

Seorang pemimpin adalah pemelihara atas manusia dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas (pemeliharaan kemaslahatan) mereka (HR al-Bukhari dan Muslim).

Bahkan Rasulullah saw. juga pernah bersabda:

Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka. (HR Abu Nu‘aim).


Para penguasa kaum Muslim sangat memahami dan memegang teguh fungsi itu. Umar bin al-Khaththtab sering berkeliling memeriksa kondisi rakyatnya.  Bahkan ketika ia mendapati seorang ibu dan anak-anaknya yang kelaparan, ia memanggul sendiri sekarung gandum dari Baitul Mal untuk ia berikan kepada ibu itu.  Beliau sangat peka. Hingga bisa memahami syair seorang wanita yang sedang kesepian karena suaminya sedang berjihad, lalu beliau menetapkan masa tugas suatu pasukan maksimal empat bulan. Beliau juga pernah berkomentar, "Seandainya ada seekor unta yang terperosok di lubang jalan, sungguh aku harus bertanggung jawab di hadapan Allah."


Betapa jauhnya perbedaan fungsi kepemimpinan dalam Islam dibanding selainnya. Karena sungguh, sistem dari sang Maha sempurna, tak ada yang mampu menandingi. Jika sudah jelas begini, kenapa masih ragu berjuang menegakkannya? Karena tegaknya sistem Islam bukan sekedar Allah mewajibkan. Tapi sejatinya kitapun amat membutuhkan. 


#KompakNulis

#OPEyDay4

#Revowriter


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!