Wednesday, June 6, 2018

KETIKA ISLAM DIDAKWAHKAN NEGARA


Oleh: Deasy Rosnawati,S.T.


Ketika Islam didakwahkan Negara, maka upaya yang dicurahkan dakwah adalah upaya maksimal yang besar. Seperti yang terjadi pada tahun 840 M misalnya. Khilafah Abassiyah yang berpusat di Baghdad mengirim 100 orang dalam sebuah kapal yang bergerak menuju pantai Sumatera, dengan seorang nakhoda yang dikenal sebagai Nakhoda Khilafah. 


Kapal tersebut membawa para da’i yang berprofesi sebagai pedagang dan berlabuh di kerajaan Perlak Aceh Timur. Tujuan utamanya menyebarkan Islam. Maka, dalam waktu kurang dari setengah abad, raja dan rakyat Perlak pun berbondong-bondong meninggalkan agama mereka (Hindu Budha) dan menganut Islam. Lalu berdirilah kerajaan Islam pertama di nusantara yaitu kesultanan Perlak dengan ibu kota Bandar Khilafah.


Ketika Islam didakwahkan Negara, maka yang terpesona akan Islam pun dari kalangan para raja. Sebagaimana yang terjadi pada raja Sriwijaya, Sri Indravarman. Ia terpesona akan keagungan Islam. Sang raja pun menulis surat kepada Khalifah yang berbunyi, “Dari Raja Diraja…, yang adalah keturunan seribu raja.…kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.”


Sayangnya, pengaruh Hindu dan Budha sangat kuat, hingga sepeninggal raja Sri Indravarman, kerajaan Sriwijaya kembali menjadi kerajaan bercorak Hindu dan Budha.


Ketika Islam didakwahkan Negara, maka da’i-da’i yang diutus berdakwah ke berbagai penjuru adalah da’i-da’i yang kapabel. Bukan sekedar da’i untuk mengajar membaca dan menulis huruf al-qur’an, bukan hanya da’i yang mampu menjelaskan hukum-hukum Islam, tapi Da’i yang ahli tata Negara. Da’i yang dipersiapkan kemampuannya dalam merekontruksi kerajaan non Islam dan menggantinya dengan sistem Islam. 


Sebagaimana yang dilakukan oleh Khalifah dari Bani Utsmaniyah, Sultan Muhammad I. Beliau mengirim wali songo dalam 6 kali tahap pengiriman ke jantung kerajaan Majapahit pada tahun 1404 hingga 1479. Diantara da’i yang dikirim tersebut, terdapat Maulana Malik Ibrahim, seorang ahli tata Negara dan irigasi dari Turki, juga Maulana Malik Isro’il yang juga ahli Tata Negara dari Turki serta Sunan Giri dari Jawa Timur yang merupakan putra dari Maulana ishaq dari Samarqand, Rusia Selatan.


Ketika Islam didakwahkan Negara, Maka dakwah yang dihasilnya bukan sekedar masuk islamnya satu dua orang, tapi terbentuknya sebuah masyarakat yang menerapkan Islam. Sebagaimana masyarakat Demak adalah masyarakat yang menerapkan islam dibawah kepemimpinan Raden Fattah.


Raden Fattah adalah murid Sunan Ampel, wali songo asal Champa, Muangthai Selatan. Dari gurunya yang merupakan da’i utusan khilafah, Raden Fattah memahami bagaimana sebuah pemerintahan menerapkan islam. Karenanya, Raden Fattah yang merupakan keturunan terakhir kerajaan Majapahit, mendirikan kesultanan Demak yang menerapkan Islam, setelah kerajaan Majapahit mengalami kemunduran.


Ketika Islam didakwahkan Negara, maka masyarakat pertama yang terbentuk dari dakwah, akan mampu melanjutkan dakwah dengan sendirinya secara terus menerus, hingga terbentuk masyarakat-masyarakat lain yang juga menerapkan Islam. Kesultanan Demak misalnya, mendakwahkan Islam hingga ke Sumatera. 


Lalu, ketika Kesultanan Demak memudar, Sunan Gunung Jati (Fatahillah) menginisiasi berdirinya kesultanan Banten dan mengangkat putranya, Maulana Hasanuddin sebagai sultan Banten pertama. Kesultanan Banten berdiri dengan semangat untuk melanjutkan dakwah Islam. Meski Demak Pudar, tapi dakwah dengan kekuatan Negara tak boleh hilang. 


Sementara itu, Sunan Gunung Jati sendiri, menikahi Putri Ratu Agung Pugung tahun 1528, yang bernama putri Sinar Alam demi terbukanya jalan dakwah Islam di Lampung.


Apa yang terjadi di demak, Banten dan Lampung, pun terjadi di Pagaruyung. Kesultanan Pagaruyung yang telah menerima dakwah Islam terlebih dahulu, dan menerapkan islam di kerajaannya, mengirim 4 putra kerajaan tersebut ke Lampung. Tujuannya untuk menaklukkan kerajaan Skala Brak yang berpaham animisme dan berpusat di Liwa. Keempat putra Raja tersebut pun membentuk paksi (persatuan) dengan nama paksi pak (persatuan empat orang) demi mengalahkan kerajaan Skala Brak, hingga Islam pun masuk ke sana.


Ketika Islam didakwahkan Negara, maka demi pelaksanaan ibadah umat yang menganutnya, Negara penerap Islam (Khilafah) memiliki alasan untuk berpatroli melintasi selat, laut dan samudera. Seperti yang terjadi pada tahun1538, Sultan Sulaiman I melepas armada yang tangguh di bawah komando Gubernur Mesir, Khadim Sulaiman Pasya, untuk membebaskan semua pelabuhan yang dikuasai Portugis guna mengamankan pelayaran haji ke Jeddah. 


Lalu, di Pelabuhan-pelabuhan tersebut, Khalifah menempatkan dutanya dan diberi sebutan syahbandar. Tugasnya memastikan para jama’ah haji berangkat ke tanah suci dalam keadaan aman. Lalu menyambut kembali kedatangan mereka di pelabuhan.


Dengan alasan yang sama yaitu mengamankan rute Haji dari sebelah barat Sumatera, Khilafah Turki Utsmani pun menempatkan angkatan lautnya untuk berpatroli di Samudera Hindia. Hingga Khilafah Utsmani ketika itu menjelma menjadi kekuatan super power yang ditakuti di sepanjang laut merah, teluk Persia dan samudera Hindia.


Inilah dakwah yang begitu gagah. Meretas benua hingga pulau-pulau kecilnya. Melintasi selat laut dan samudera. Inilah dakwah yang begitu berpengaruh hingga mampu menembus jantung suatu kerajaan dan mengubahnya menjadi Islam. Inilah dakwah yang begitu gesit, yang tak membutuhkan waktu yang lama untuk mengubah wajah peta dunia.


Inilah sebagian gambaran dakwah Islam di nusantara. Andai dakwah di nusantara tersebut diemban oleh individu, maka dakwah individu mustahil mampu mengubah nusantara dari negeri hindu budha menjadi negeri dengan penduduk muslim terbesar dunia. Kita berhutang pada Khilafah, atas nikmat Islam yang kita dapati hingga hari ini. 


Wallahua’lam.




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!