Monday, June 18, 2018

Kemenangan Hakiki di Idul Fitri


Oleh: Winda Yusmiati, S.Pd


Bulan Ramadhan yang penuh berkah telah berlalu. Hiruk pikuk memeriahkan hari raya Idul Fitri terlihat di berbagai tempat. Setiap orang bersuka cita menyambut hari raya. Hari raya yang seringkali disebut dengan hari kembalinya diri menjadi fitri dan hari raya kemenangan. Kemenangan setelah menahan hawa nafsu sebulan penuh. Namun, ada hal menarik yang patut direnungkan. Pantaskah kita menganggap diri kita menang? Lalu, kemenangan yang seperti apa yang kita dapatkan?


Kemenangan hakiki di Idul Fitri bukan karena pakaian yang baru. Kemenangan hakiki pasca Ramadhan adalah ketika diri makin dekat dengan Allah, takwa kita dapatkan di setiap hari. Sebagaimana yang Allah firmankan, "Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)


Maka, kemenangan pasca Ramadhan adalah ketika kita bisa membawa semangat takwa itu di 11 bulan berikutnya. Kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa kepada Allah. Lebih takut hanya kepada Allah saja. Lebih ridha atas segala pemberian dari Allah. Lebih taat atas apa yang Allah turunkan.


Wujud takwa kepada Allah adalah menjalankan segala perintahNya dan menjahui segala laranganNya dalam seluruh aspek kehidupan. Baik pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Sebagaimana perintah Allah. "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." (Qs. Al-Baqarah: 208)


Seorang muslim yang bertakwa tidak hanya mengoptimalkan agar khusyuk dalam shalatnya, tapi shalatnya juga mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Termasuk saat ia memenuhi kebutuhan hidupnya. "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka." (Qs. At-Thalaq: 2-3)


Masyarakat yang bertakwa tidak tinggal diam saat menyaksikan kemaksiatan dan kedholiman di depan mata. Ia akan cepat tanggap dan memberikan nasehat termasuk kepada penguasa yang menerapkan hukum-hukum kufur.


Takwa juga seharusnya diwujudkan oleh negara. Dengan menerapkan hukum-hukum Islam. Para penguasa yang ketakwaanya juga tercermin dari tanggung jawab mengurusi rakyatnya. "Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)


Inilah takwa yang sesungguhnya. Terwujud dalam pribadi seoarang muslim, bagian dari masyarakat, dan bernegara. Dengan menerapkan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.


Oleh karena itu, tentu dibutuhkan sebuah keistiqamahan yang luar biasa dalam meraih kemenangan besar itu. Istiqamah dalam ketakwaan, dengan bersabar dalam mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Bersabar dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.


Semoga kita mampu menjadi pemenang hakiki itu, kemenangan di dunia dan kemenangan di akhirat. Semoga Allah SWT selalu membimbing langkah kita menuju ridha-Nya, jalan ke surga yang dijanjikan-Nya. Amiin Yaa Rabbal ‘Alamiin.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!