Saturday, June 9, 2018

Kejutan yang Tersembunyi


Oleh : Sunarti PrixtiRhq

Ngawi, 9 Juni 2018



Siang itu cuaca di Desa Sidorame, sangat panas. Langit siang serasa menyebarkan hawa panas ke permukaan bumi. Tanah berdebu di halaman Mak Tum berwarna perak kekuningan. Semburat panasnya menimpa rumah depan Mak Tum.


Namun hawa panas itu tidak terasa di dalam rumah Mak Tum. Rumah beratap genting dari tanah, berdinding anyaman bambu dan bertiang kayu. Rumah terkesan kuno, namun serasa adem bagi yang berada di dalamnya.


Mak Tum menimang Anida yang sedari pagi rewel. Badanya panas dan pilek. Tampak wajah Anida yang sayu, hidungnya melar seolah susah bernafas. Pipinya yang gembul kayak Mak Tum, tampak memerah. Sebentar-sebentar "molet" dan merintih. Mak Tum agak panik. Padahal tadi pagi sudah dibelikan obat di toko Buk Jun, bodrex** tablet. Bahkan sudah dua kali diminumkan sesiang ini.


"Assalamualaikum. Lek Min apa ada di rumah?" suara wanita dari depan rumah.


"Waalaikum salam. Iya, ada", jawab Mak Tum. Bergegas dia menuju pintu dan dilihatnya Iyul di depan pintu.


"Lek Min ada, Lek?" tanya Iyul. Seperti biasa, apabila Iyul maupun Paimo bertamu, pasti menanyakan Pak Min. Karena mereka paham betul adab bertamu. Ketika Pak Leknya tidak ada di rumah mereka tidak bertandang. Sama Mak Tum juga demikian, apabila suaminya tidak di rumah, dia juga tidak menerima tamu.


"Iya ada, Lekmu tidur. Mau ketemu sekarang? Ada apa?" tanya Mak Tum nyerocos.


"Ini lho, ada tilpun, katanya, dari Saudaranya Lek Min yang di luar jawa.

Alhamdulillah, kemarin saya bisa memperbaiki hp lawas. Jadi bisa tilpun-tilpunan dan smsan. Cuman kita tidak bisa WAnan atau pesbukan", cerita Iyul tanpa diminta.


"Siapa yang di luar Jawa? Apa ada saudara Lekmu yang di luar Jawa?" tanya Mak Tum sambil mengingat-ingat.


"Ono opo to?" tiba-tiba Pak Min muncul. Rambutnya acak-acakan, matanya masih merah dan "mbendul-mbendul", tanda habis tidur.


"Ini lho, Lek, Lek siapa itu lho, namanya. Yang dulu transmigrasi. Tadi tilpun. Waktu hpku madih android dulu, aku berteman di pesbuk dengan orang luar Jawa. Pas aku pajang foto kita waktu mantenan, dia minta no hpku. Aku tidak curiga dan percaya saja kalau dia orang baik. Waktu itu aku juga tidak begitu perhatian. Eh, ini tadi bilang mau tilpun, Lek Min. Saya kaget awalnya. Tapi akhirnya dia cerita, kalau dia kenal Lek Min", cerita Iyul nyerocos.


"Ayo, masuk dulu! Bicara di dalam rumah saja. Ceritakan yang jelas semua", kata Pak Min.


Mereka lantas masuk ke dalam rumah. Duduk di kursi kayu bertiga. Pak Min dan Mak Tum duduk berhadapan. Iyul diantara Pak Lek dan Buleknya. "Krriiiing.. Kring.... Kring... Kring", hp jadul Iyul berbunyi. Lalu diangkatlah oleh Iyul dan bercakap beberapa saat. Kemudian hp diberikan Pak Leknya. Obrolanpun dimulai. Ternyata orang di telepon adalah saudara Pak Min yang sudah lama tidak bertemu. Sayup-sayup suara di seberang, tidak begitu jelas. Hampir tiga puluh menit, mereka ngobrol di hp.  Wajah Pak Min tampak berseri namun matanya sedikit berkaca-kaca. Layaknya pertemuan yang mengharu biru, sepertinya. 


Mak Tum dan Iyul duduk diam di kursi masing-masing. Mendengarkan percakapan Pak Min dan orang di telepon. Tidak ada kata terucap dari bibir mereka berdua. Sampai Pak Min dan orang di telepon menutup percakapan. Segera Pak Min duduk dan hendak menceritakan siapa orang yang menelponnya. Namun tiba-tiba terdengar suara azan berkumandang. Pak Min meminta mereka berdua bersabar.

"Nanti kalau waktunya longgar akan kuceritakan kepada kalian", kata Pak Min yang segera beranjak menuju mushala.


Beberapa hari semenjak ada telepon, keluarga Pak Min belum pernah dapat cerita siapa saudara yang telepon itu. Karena kesibukan masing-masing dan Pak Min belum sempat menceritakannya. Suatu ketika Siti berkata "Pak ada kiriman uang di tabunganku. Jumlahnya cukup banyak. Siapa ya, Pak, yang kirim uang sebanyak itu?"


"Oh, itu saudara Bapak yang di luar Jawa. Dia mau bantu keluarga kita", jawab Pak Min tenang.


"Beberapa hari lalu dia telepon lagi. Tetap mau mengirim uang ke Jawa. Sebenarnya Bapak sudah tolak, tapi dia ingin bersedekah yang banyak mumpung bulan Ramadan, katanya. Yah akhirnya saya kasih nomer tabunganmu, Ti. Oh, ya, mumpung hari ini kamu longgar. Tolong uangnya nanti diambil, ya! Kamu minta antar mbak Iyul sana! Nanti buat mengganti dinding rumah sama buat lebaran uangnya. Makanya nanti minta yang receh ya! Duapuluh ribu, sepuluh ribu dan lima tibuan" jawab Pak Min. Seolah Pak Min sudah tahu jumlah uang yang dikirim orang itu.


"Nanti kalau tidak ada receh bagaimana, Pak?" tanya Siti.


"Ya, dibawa pulang yang "gembelan" tidak apa-apa!" jawab Pak Min.


"Apa ditukar di pinggir jalan itu, Pak?" tanya Siti lagi.


"Haduh, itu katanya yang sudah tukar uang 100ribu nambah ongkos 10ribu. Atau uang 100ribu tinggal 90ribu. Itu namanya riba. Apapun itu alasannya, meskipun sama-sama Ridha, tetep riba, Ti", jelas Pak Min.


"Banyak yang tukar uang "kepyar" di pinggir jalan, Pak. Uangnya baru-baru. Masak kalau itu riba, banyak yang melakukan, ya Pak?" Siti masih berfikir sejenak.


"Oh, itu. Ya iya, di negeri ini, justru yang berbau riba difasilitasi oleh negara. Rakyat sendiri dibuat seolah itu hal yang biasa. Dengan berbagai macam alasan, mulai dari kepepet, sama-sama ikhlas, hingga yang menganggap itu seperti jual beli. Padahal kalau jual beli itu uang sebagai dagangannya, itu tidak boleh. Alias batil dalam hukum Islam", kata Pak Min.


“Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Ruum: 39)", lanjut Pak Min.


Siti masih belum merespon. Dalam benaknya terbayang, "Orang kaya seperti apa yang mengirim uang sebanyak itu. Ah, sudahlah. Itu kan saudara Bapak" batin Siti. Akhirnya Siti beranjak menuju rumah Iyul. Beberapa saat kemudian, tampak mereka keluar rumah berboncengan bersama Iyul, dengan sepeda motor.


====sekian====


#RamadanPenuhBerkah

#RamadanBersamaRevowriter

#GerakanMedsosUntukDakwah

Ramadan hari ke 24, bersama Pak Min dan Mak Tum.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!