Wednesday, June 6, 2018

ISRAF DAN TABDZIR


Oleh: Ustadzah Ade Kumalasari S.T.P


Israf dan tabdzir adalah dua kata yang sama-sama mempunyai makna bahasa dan makna syariah. 


Secara bahasa, israf bermakna melampaui batas dan melanggar keseimbangan.  Lawan kata israf adalah  al qashdu (pertengahan).

 

Penggunaan kata tabdzir, misalnya badzara al mala tabdzira. Artinya adalah farraqahu israfan (menghambur-hamburkannya) wa baddadahu (membiarkannya berserakan). 


Dengan kata lain, secara makna bahasa israf dan tabdzir berarti berlebih-lebihan. Orang yang melakukannya disebut mubadzir. Makna bahasa inilah yang sering digunakan oleh kebanyakan orang. Padalahal makna bahasa ini berbeda dengan makna secara syariah. Juga bukanlah makna yang dikehendaki oleh syariah. 

 

Secara syariah, israf dan tabdzir (mubadzir atau pelakunya) adalah membelanjakan atau mengeluarkan harta pada hal-hal yang dilarang atau dalam kemaksiatan.


Allah telah memberikan ketentuan kepada manusia yang telah diberi-Nya harta. Harta tersebut harus dipergunakan pada hal kebaikan atau pada yang halal saja. Tidak boleh dibelanjakan atau dipergunakan untuk hal maksiat.

 

Karena itu Islam tidak membatasi pengeluaran manusia dalam hal jumlah, sedikit ataupun banyak.  Asal dibelanjakan dalam perkara yang halal maka diperbolehkan. Sebaliknya, Islam melarang membelanjakan atau mempergunakan harta untuk kemasiatan atau keharaman, sedikit ataupun banyak. 


Larangan Israf dan tabdzir terdapat dalam banyak ayat di Alquran. Misalnya pada surat Al Isra ayat 26 -27:


 ...لَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا)

(إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا 

 

"Janganlah kalian berbuat tabzir. Sesungguhnya orang-orang yang melakukan tabdzir itu adalah saudara setan."

 

Juga terdapat dalam Alquran Surat Al 'raf ayat 31: 


( ...وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ) 


"Dan janganlah kalian berbuat israf,  karena sesungguhnya Allah tidak suka dengan orang yang berbuat israf."

 

Contoh pada keseharian, mengeluarkan uang hanya 5 ribu rupiah. Meski sedikit, tetapi uang tersebut untuk membeli makanan atau minuman haram. Maka perbuatan tersebut termasuk israf. 


Atau seseorang mengeluarkan uang hanya 20 ribu rupiah. Jumlah yang juga sedikit. Tapi dipergunakan untuk membayar bunga, denda hutang atau sogok. Maka perbuatan tersebut termasuk israf atau tabdzir. Sedangan pelakunya disebut mubadzir. 


Begitu juga sebaliknya. Orang yang mengeluarkan uang cukup banyak, misalnya  membeli kipas angin, mesin cuci, bahkan mobil mewah. Selama uangnya didapat dengan cara halal dan barang yang dibeli juga halal,  maka tindakan tersebut tidak bisa dikatakan israf wa tabzir. Dan pelakunya tidak bisa dikatakan sebagai mubadzir. Karena dia membelanjakan hartanya di jalan yang halal atau boleh. 

 

Jadi pembahasan israf dan tabdzir (mubadzir) bukanlah pembahasan yang berkaitan dengan banyaknya jumlah harta atau uang yang dibelanjakan, dikeluarkan atau diinfakkan sebagaimana yang disangka sebagian orang. Tapi pembahasannya berkaitan dengan membelanjakan atau mengeluarkan harta di jalan yang dilarang atau maksiat 

 

Wallahu 'alam  bishawab




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!