Sunday, June 3, 2018

Islam Wasathiyah, “Merk Baru” Dagangan Penjajah


Oleh : Pipit Agustin

(Akademi Menulis Kreatif Regional Jatim)


Meminjam slogan sebuah produk, “inovasi tiada henti” untuk menyebut pergerakan musuh-musuh Islam. Tak bosan-bosan mereka merancang cara agar agama ini luluh lantak, lalu pemeluknya kocar-kacir. Ending-nya, kaum muslim rela ikut millah (jalan hidup) penjajah. Kelar!


Istilah-istilah yang digelindingkan penjajah baik langsung maupun lewat keagenan mereka pun mengalami perubahan periodik. Bila dulu memakai istilah yang vulgar seperti Islam Liberal, kini tak laku lagi. Sebab umat berhasil diselamatkan dari kedok busuk liberalisme yang melekat pada brand jaringan tersebut. Istilah bergeser menuju formula lebih renyah, yaitu Islam Nusantara, Islam Moderat, Islam Damai, dan sejenisnya. Omong punya omong, istilah inipun pada akhirnya kandas dan ditinggalkan sebab umat mulai melek bahwa islam itu satu. Mau di Nusantara maupun Gurun Sahara, Islamnya sama, syariahnya sama, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Gagal lagi. Belum lama, mereka meluncurkan frasa baru: Islam Wasathiyah. 


Islam wasathiyah pun mulai merambah pasar. Ramai diperbincangkan di media level nasional. Muasalnya, pasca kehadiran Grand Syaikh Al-Ahzar Ahmed Muhammad Ath-Thayeb dan Imam Besar Al-Haramain Shaikh Sholeh Bin Abdullah ke Indonesia. Keduanya hadir  dalam forum Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Islam Wasathiyah di Hotel Novotel Bogor pada 1-3 Mei lalu. Forum ini melahirkan deklarasi “Pesan Bogor” (Bogor Message) yang menjadi kesepakatan utusan dari beberapa Negara. Menurut Din Syamsudin, Pesan Bogor disusun dengan ringkas dan tidak seperti pesan-pesan yang lahir dari konferensi semacam KTT ulama dan Cendekiawan. (Tribunnews.com 5/5/2018). 


Inti dari deklarasi tersebut adalah para peserta sepakat bahwa paham islam wasathiyah harus diperkuat dan dijadikan sebagai rule of model dunia dalam berislam. Dan mendorong Negara-negara muslim dan komunitas untuk mengambil inisiatif penyebaran paradigma Wasatiyyat Islam melalui world forum of wasatiyyat islam dalam rangka membangun umatan wasatan, sebuah masyarakat yang adil, damai, inklusif, harmonis, berdasarkan pada ajaran islam dan moralitas.


“Para duta Dai KDMP-MUI ini akan melakukan koordnasi dan komuniksi kepada para dai se-ASEAN dalam rangka merealisasikan ajaran islam wasathi dan ukhuwah islamiyah dan insaniyah di kawasan ASEAN,” ujar Ketua KDMP-MUI, KH Kholil Nafis kepada Republika.co.id, Sabtu(5/5). Perkembangan islam di kawasan Asia Tenggara saat ini  menunjukkan sebuah kekuatan baru. Disisi lain, Lanjut Dia, tidak terelakkan munculnya fenomena kecenderungan umat islam yang terpolarisasi dalam dua kubu yang berseberangan secara diametral baik dalam konteks pemikiran, ideology, dan gerakan, yaitu kelompok yang ekslusif, intoleran, rigid (radikal) dan kelompok yang cenderung permisif dan liberal. “Kondisi inilah yang mendorong KDMP-MUI untuk aktif menciptakan dan memelihara perdamaian dunia pada umumnya dan khususnya di Negara-negara islam”, Kata KH Kholil. (Republika.co.id 5/5/2018).


Sebagai konsumen cerdas, umat islam yang peduli permasalahan keumatan dan bangsa semestinya memahami makna dibalik jualan terminologi islam wasathiyah ini. Haruskah umat turut menjadi reseller ide ini? Produk apa sebenarnya islam wasathiyah ini?


Sepanjang sejarah umat islam belum pernah mengenal istilah ini. Baru pasca runtuhnya Bangunan Khilafah awal abad ke-20 dapat diketahui bahwa maksud dari islam wasathiyah adalah islam moderat, tidak ekstrim, tidak radikal, tidak liberal, tapi di tengah-tengahnya. Maknanya, ia berada di antara dua ujung yang dinilai ekstrim. Atau dengan kata lain, istilah ini berjenis kompromistik. Sementara kita tahu bahwa sejarah telah menuturkan peristiwa berdarah tentang sikap kompromi dalam beragama ini. Yaitu konflik kaum protestan (pemikir dan filsuf Barat) dengan gerejawan dan penguasa (raja). Ketika itu pihak gereja dan raja mendominasi kekuasaan atas nama agama (Kristen) yang menjelma menjadi konstitusi wajib bagi seluruh warga dalam seluruh urusan kehidupan. 


Sementara itu, pihak cendekia dan filsuf menilai banyak terjadi penyimpangan pada tataran prakteknya. Mereka mengendus motif keuntungan bagi pihak gereja dan raja dibanding keuntungan bagi rakyat. Ketidakadilan pun merebak. Para Cendekia ini menyimpulkan bahwa agama tidak layak mengatur urusan publik. Pada akhirnya, setelah timbul pertentangan sengit kedua belah pihak sepakat untuk kompromi. Yaitu mengakui eksistensi agama namun hanya dalam wilayah pengaturan hubungan individu dengan penciptanya saja. Sementara itu urusan kenegaraan yang mengatur kehidupan publik disarikan dari hasil pemikiran (akal) manusia.


Metode berpikir kompromistik ini diekspor ke negeri-negeri muslim. Aplikatifnya adalah syariah islam tidak boleh mengatur ranah publik. Secara ringkas, hakekat Islam wasatiyah ini satu ruh dengan islam liberal, islam moderat, dan islam nusantara. Semuanya bercita-cita sama yaitu membonsai islam sekedar agama ruhiyah, yang hanya bicara soal ibadah ritual, jauh dari pengaturan urusan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Islam wasatiyah memagari islam dari persoalan politik apalagi tujuan penegakan institusi khilafah. Alasannya adalah demi perdamaian, toleransi, dan deradikalisasi.


Umat islam harus sadar bahwa menjauhkan islam dari aroma politik merupakan agenda penjajah. Karena mereka musuh-musuh islam paham betul bahwa jika islam berjalan pada rel politis, hegemoni mereka terancam. Kekuasaan mereka luluh lantak bila islam memimpin dalam kancah politik kenegaraan. Islam wasatiyah yang saat ini bergulir ke publik, hakikatnya adalah sekularisasi islam. Sedangkan sikap sekular sendiri bertentangan secara diametral dengan Al-Quran yang memerintahkan agar umat islam memeluk islam secara kafah. Sebagaimana Firman Allah dalam Al Quran Surat Al-Baqarah ayat 208 disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”


Al-Quran melarang tegas orang islam yang hanya mengamalkan sebagian hukum islam untuk individu semata, sementara menolak penerapan islam dalam pengaturan sosial, politik, dan ekonomi. Termasuk perintah untuk berhukum hanya dengan hukum islam (syariah) yang jelas termaktub dalam al-Quran ( lihat QS Al-Maidah [5]: (45), (47), (48),(50)).


Jelas, ide islam wasathiyah adalah ide asing yang ingin disematkan Barat yang tak lain akan menyimpangkan kita dari syariah islam. Mereka menggandeng dan meminjam ‘lisan’ ulama, cendekiawan, intelektual sebagai senjata untuk mensekularkan pemahaman islam. Lebih jauh dari itu, tujuannya ingin mempertahankan tercerai-berainya umat islam dalam pagar Negara bangsa dengan stempel islam yang berbeda-beda. Mari Waspada.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!