Wednesday, June 6, 2018

Ironi di Pulau Penghasil Aspal


Oleh Fithry Assyahidah


"Kami tidak butuh janji tapi bukti!!"

"Tolong perbaiki jalan!!"


Itulah beberapa kalimat yang mampu dibaca oleh mata, ketika melewati jalan via damri dari Wanci ke Baubau kemarin.


Tentu, kekata diatas bukan dipegang layaknya para demonstran pada umumnya. Melainkan ia terpampang di papan dan tergantung di pohon-pohon pisang yang tertanam di tengah jalan.


Ya, inilah bentuk protes warga yang bermukim diwilayah itu agar jalan bisa diperbaiki.


Menurutku aksi mereka wajar untuk dilakukan, walau rada extreme karena bisa mengganggu para pengguna jalan, karena keberadaan pohon pisang yang berjejer ditengah jalan.

Tapi hal tersebut cukup membuat setiap pengguna jalan yang baru pertama kali lewat terkesima, bahkan bertanya-tanya ada apa gerangan. Namun jawaban itu akan kita temukan ketika memicingkan mata untuk membaca tulisan-tulisan tangan yang berjejer menemani berdirinya sang pohon.


Jalannya memang masya Allah.

Terlebih untuk kami (saya dan ketiga rekan kerja) harus disambut dengan jalan yang rusak plus bolong-bolong menganga, setelah dari shubuh harus melewati ombak 

Tomia->Wanci->Kamaru.

Seolah isi perut seketika memaksa untuk keluar, memuntahkan segala uneg-uneg yang dirasa.


Aksi unjuk rasa ini tentu dilakukan agar warga sekitar tidak terganggu aktivitasnya, tidak berdebu rumahnya ketika musim kemarau atau becek ketika musim hujan.

Karena jalanan tersebut selalu di lalui oleh kendaraan yang datang dari Wanci via veri atau dari Baubau ke Wanci.

Kemudian, agar pengguna jalan juga seperti kami bisa mulus perjalanannya tanpa merasa cemas dan was-was ketika melewati jalanan rusak, berlumpur dan berlubang-lubang.


Ah, kegundahan dan kegalauan kian menjadi ketika mengetahui bahwa Buton adalah penghasil aspal terbaik didunia.


“ Pulau Buton sepanjang tahun 1970-1980an

terkenal dengan aspal alamnya. Tapi itu dulu.

Kini aspal banyak diimpor.

Aspal Buton atau yang dikenal dengan asbuton

ditemukan sekitar tahun 1924 oleh geolog

Belanda bernama WH Hetzel Asbuton dan

mulai digunakan dalam pengaspalan jalan

sejak 1926.

Pulau di bagian tenggara Sulawesi ini

menyimpan sekitar 80 persen dari total

cadangan aspal alam dunia. Sisanya ada di

Trinidad, Meksiko dan Kanada.

Dan aspal Buton bukan sembarang aspal.

Karena disana, tidak perlu menggali, menumpuk di

pertambangan. Jika digali hingga kedalaman

1.000 meter ke bawah itu sudah ditemukan

aspalnya. Padahal kalau tambang aspal atau

minyak biasa baru bisa ditemukan setelah

kedalaman 3.800 meter.


Dan yang lebih mengejutkan lagi setelah kita mencoba searching via mbah google,ternyata cadangan aspal Buton cukup untuk 300 tahun lamanya(disini) !!wooow…


Ah , tentu ada ketidaksingkrongan antara Sumber Daya Alam yang tersedia dengan fakta yang terindra.

Harusnya Buton tidak lagi memiliki jalanan yang berlubang menganga,  karena disini aspal tak biasa itu menggunung..


Pertaanyaannya kemudian ialah kemana saja aspal itu selama ini ?


 Ah, jadi teringat kisah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu tentang jalan berlubang di Irak. Amirul mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang terkenal tegas dan tegar dalam memimpin kaum muslimin ini tiba-tiba menangis, dan kelihatan sangat terpukul. 


Bagaimana tidak, informasi salah seorang ajudannya tentang peristiwa yang terjadi di tanah Iraq telah membuatnya sedih dan gelisah. Seekor keledai tergelincir kakinya dan jatuh ke jurang akibat jalan yang dilewati rusak dan berlobang. 


Melihat kesedihan khlalifahnya, sang ajudan pun berkata: 

“Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?” dengan nada serius dan wajah menahan marah Umar bin Khattab berkata: “Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”


Dalam redaksi lain yang pernah saya dapatkan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’.


Lalu, bagaimana dengan kondisi sekarang? Korban nyawa manusia sudah banyak gara-gara jalan berlubang dan rusak parah. Pengendara yang berusaha menghindari jalan berlubang, malah terjatuh dan kemudian terlindas kendaraan yang melaju di belakangnya. Mengerikan. Jika Umar bin Khattab saja peduli dengan keledai yang jatuh gara-gara terperosok jalanan yang rusak, lalu mana tanggung jawab pemerintah yang tak peduli dengan nyawa manusia akibat jalan rusak dan berlubang yang lambat diperbaiki atau tak pernah diperbaiki (atau malah sering diperbaiki tetapi kualitas perbaikan jalan tak semestinya, karena dananya raib entah kemana?


Ah, memang tidak ada yang bisa menandingi kegemilangan yang ada pada saat Islam berjaya dalam naungan Khilafah, sebagaimana yang terjadi ketika kekhilafahan Umar bin Khattab terjadi.

Pemimpin saat itu paham, bahkan takut kalau-kalau mereka tidak maksimal dalam melayani hak-hak rakyat. Bahkan hewanpun seolah akan mengadu dihadapannya kelak ketika diyaumil akhir.


Ah, semua itu hanya terjadi ketika Islam terterapkan secara totalitas dalam seluruh aspek kehidupan, yang tidak hanya aspek spritaul akhlaqiyah saja, melainkan aspek hukum, politik l, pemerintahan, dan lain-lainnya juga.


Ya, semoga masa itu segera tiba. Agar seabrak masalah dinegeri ini, yang salah satunya ialah kondisi jalanan yang rusak di negeri penghasil aspal,  bisa teratasi hingga ke akar-akarnya.

Aamiin Allohumma Amiiinn...




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!