Thursday, June 7, 2018

Ibu, Kemana Hati Nuranimu?


Oleh : Endah Husna *


          Seorang ibu di Blitar Jawa Timur tega menjadikan anaknya sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Alasan ekonomi membuat anak yang masih dibawah umur ini mematuhi perintah ibunya melayani lelaki hidung belang (detiknews.com 05/06/ 2018).

          Kelakuan bejat sang ibu dilaporkan ke polisi oleh warga sekitar yang tidak tega mengetahui sang anak diperlakukan seperti itu. Kemudian sang ibu akhirnya berhasil ditangkap di depan pasar Bangle Kecamatan Kanigoro, usai melakukan transaksi dengan pelanggan.

          Kapolres Blitar AKBP Anissullah M. Ridho menjelaskan bahwa penangkapan HPL (41), ibu kandung yang mengeksploitasi anaknya sendiri dilakukan pada selasa (29/5) sekitar pkl.10.00 selasa (5/6).

          Sang anak diketahui baru berusia 15 tahun seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Blitar. Mereka adalah warga Kanigoro. Dalam pengakuan HPL ke Polisi, dia memperkerjakan anaknya sudah berlangsung satu tahun. Bayaran yang diterima Rp. 100.000, Rp. 50.000 untuk HPL, Rp. 50.000 untuk anaknya. Kini HPL menjalani proses hukum karena terbukti melakukan tindak pidana mengeksploitasi secara ekonomi anak kandungnya.

          Apapun alasan dibalik penjualan anak sesungguhnya tidak dapat diterima akal sehat, tidak bisa diterima oleh muslimah yang bertakwa. Seorang ibu kandung, ibu yang mengandung, melahirkan dengan taruhan nyawa sampai tega menjual anak nya sebagai pemuas hawa nafsu bejat para lelaki tak bermoral. 

          Aspek ekonomi memang bagian penting dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Di negeri yang di lintasi garis katulistiwa ini, di negeri yang kaya akan Sumber Daya Alam nya, negeri yang katanya baik - baik saja, ternyata banyak kejadian atau kasus yang sangat mencengangkan, bahkan hewan yang tak punya akal pun tidak akan melakukan nya. Maka melalui aturan yang tepat dan benar sesungguhnya negeri ini mampu mengentaskan banyak rakyat yang tidak bisa mencukupi kebutuhan pokoknya, bahkan mampu mencukupi kebutuhan sandang dan papan nya, bahkan secara gratis. Kesalahan pengelolaan sistem ekonomi di negeri ini yang berbasis riba telah membawa negeri ini diambang kehancuran,diambang kebubaran. Hutang yang berlipat - lipat bunganya sudah tidak bisa ditolerir, bahkan sudah lampu sangat merah, yang artinya banyak pengamat ekonomi menyampaikan hati-hati dengan jumlah hutang Indonesia. 

          Faisal Basri misal, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), mengatakan bahwa hutang pemerintah yang tembus 4 Triliun rawan, karena sebagian besar adalah obligasi. 50 persen obligasi dipegang asing. Banyaknya obligasi yang dipegang asing membuat rawan kedaulatan pemerintah atas ekonomi nya berkurang. Indonesia akan sangat terpengaruh oleh kondisi keuangan global. Faisal mencontohkan salah satu situasi keungan global yang baru - baru ini mempengaruhi keuangn Indonesia seperti rencana The FED  (The FED  adalah Federal Reserve System sebagai Bank Sentral Amerika Serikat yang berkantor pusat di Washington, D.C. (Wikipedia berbahas indonesia)), menaikan suku bunga lebih dari tiga kali dalam setahun. Akibatnya rupiah goyang, pasar saham goyang, karena kedaulatan semakin dipegang pihak luar. (Tempo.co 16/03/2018).

          Selain karena sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di negeri ini, adalah ketakwaan kepada Allah SWT yang sebenarnya mampu menjadi tameng pamungkas atas perbuatan maksiat. Hutang riba adalah maksiat, menjual anak adalah maksiat. Aturan di negeri ini sama sekali tidak mendukung adanya penguatan Iman, yang terjadi bahkan adalah banyaknya pendangkalan Aqidah. Mulai dari banyaknya tayangan Televisi yang tidak mendidik, akses internet sangat bebas hingga kearah mudahnya akses konten video - video pornoaksi pornografi. Ngeri sekali.

          Semua sebenarnya bermuara dari diterapkan nya aturan kapitalis di negeri ini yang menjauhkan urusan kehidupan sehari - hari dengan aturan Allah SWT Sang Pencipta dan Pengatur jagat raya. Silahkan taat saat sholat, jangan berbohong saat Puasa Romadhon, antri daftar haji hingga tak terkendali tahun antrian nya, tapi jika selain urusan itu maka menjadi wewenang akal manusia untuk mengaturnya. Hukum manusia yang berkuasa.

          Berbeda dengan Islam, sebagai Dien. Yakni bukan sekedar mengatur urusan agama,tapi sekaligus sebagai sistem atau aturan yang berasal dari Allah SWT. Satu -satunya Dzat yang berhak membuat hukum. Melalui sistem ekonomi nya misal, Islam melarang adanya praktek Riba baik tingkat individu bahkan negara melakukanya. Maka dalam Islam tidak akan ada anggaran untuk membayar hutang dan bunganya. Islam juga jelas membagi mana milik individu, umum dan negara. Sehingga aspek yang penting seperti tambang emas di Papua seharusnya dikelola oleh negara karena itu mampu memenuhi hajat rakyat. Penguasaan atas lembaga - lembaga penting tidak diserahkan kepada pihak asing atau swasta karena jatuhnya mahal. 

          Hal lain dari sisi ketakwaan, maka Islam mendorong rakyatnya untuk berbondong - bondong menuntut ilmu karena selain sebuah kewajiban, menuntut ilmu adalah pintu gerbang menuju ketakwaan yang intelek, yang cerdas. Maka betapapun sulit nya ekonomi, seseorang tidak akan terbesit pikiran sedikitpun untuk menjual anaknya seperti Ibu HPL di Blitar Jawa Timur tadi.

          Maka masihkah berharap dengan keadaan sekarang, masihkah kita berdiam diri dengan kondisi yang jelas - jelas harus dirubah. Kondisi para kapitalis berkuasa atas yang tak punya, kondisi darurat disemua aspek kehidupan. Satu masalahnya, yakni tidak diberlakukan nya aturan Islam atas bumi ini. Satukan tekat untuk perubahan menuju Ridho Allah SWT melalui penerapan Islam yang sempurna. Allahu a'lam.

* Pemerhati Ibu dan Anak, di Kota Blitar Jawa Timur.

          

          



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!