Monday, June 11, 2018

Hidup Penuh  Dengan Kepalsuan


Oleh : Aisyahtini Lubna Naimah (Member Akademi Menulis Kreatif)


Gays, Tahun pelajaran ini pun berakhir. Dan hal yang terjadi ditiap-tiap akhir tahun ajaran pendidikan pun sama yaitu pembagian rapor. Lebih tepatnya hasil belajar yang dilakukan selama satu semester lalu. Respon siswa dan para wali murid  pun berbeda-beda. Ada yang menunjukkan ekspresi gembira karena anaknya mendapatkan peringkat ataupun ada peningkatan nilai. Dan tak jarang juga orang tua yang kecewa dengan nilai yang didapatkan anaknya. Berbagai komentar pun banyak terjadi di kalangan siswa dan orang tua. Bahkan sebagian besar dari orang tua kita tentunya menginginkan nilai yang terbaik bagi anaknya, bagaimanapun caranya. Segala hal dilakukan. Mulai dari menambahkan jam belajar diluar sekolah kepada anaknya, baik mengikuti kelas privat maupun yang lain. Tak jarang para orangtua memanggilkan guru kursus untuk memberikan materi pelajaran tambahan di rumahnya.


Semua hal akan dilakukan oleh para orang tua untuk mendapatkan nilai terbaik bagi anaknya ya gays. Begitupun juga yang akan dilakukan oleh anaknya. Tentunya hal tersebut sangat diinginkan bagi mereka, yaitu mendapatkan nilai terbaik. Baik sesuatu hal yang halal maupun haram akan dilakukan sang anak. Sebagian besar dari yang mereka lakukan adalah menghalalkan segala cara. Salah satunya dengan "gotong-royong" ketika Ulangan Semester. Mereka menginginkan hasil yang memuaskan dengan cara instan. Tak memperdulikan dampak yang akan dihasilkan yang terpenting yaitu mendapatkan nilai bagus. Naudzubillahh. Dengan sekolah beberapa tahun yang dicari adalah nilai bagus, bukan output yang dihasilkan seperti apa. Padahal sekolah itu kita mencari nilai atau mencari ilmu. Sebagian besar siswa kini yang dicari adalah nilai terbaik. Padahal Allah Azza' Wajalla  tak menyukai sesuatu yang dihasilkan dengan cara kebohongan.


ان الصدق يهدى الى البر, ان البر يهدى الى الجنة, وان الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا, وان الكذب يهدى الى القجور وان الفجور يهدى الى النار وان الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا (رواه البخارى و مسلم

“Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menghantarkan kepada surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kelaliman, dan kelaliman itu akan menghantarkan ke arah neraka. Seseorang yang terus menerus berbuat bohong akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim )

 


Nah gays, sungguh menghalalkan segala cara dengan menyontek. Ketika hasil menyontek itu didapatkan dengan cara yang tidak jujur maka nilai yang dihasilkan pun akan palsu. Bayangkan ketika budaya menyontek dilakukan sejak pendidikan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, berapa banyak nilai palsu yang kita ciptakan dari hasil menyontek. Apa kita mau jika seumur kita duduk dibangku sekolah melakukan tindakan kecurangan. Bahwa itu mempunyai aturan dari kita bangun tidur hingga tidur lagi. Sungguh aturan yang sangat lengkap. Itu salah satu bukti kecintaan AllahSWT kepada kita hambaNya. Islam Melarang Berbuat Curang dan Berbohong Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no. 101, dari Abu Hurairah).


Beberapa akibat mencontek pun dapat dirasakan jangka pendek. Siswa menjadi tidak pede dengan jawabannya. Padahal barangkali jawabannya lebih benar daripada milik temannya. Menyontek juga membahayakan diri sendiri karena bila ketahuan guru, bisa dipastikan nilai 0. Bagi yang dicontek, tidak menyesalkah bila yang menyontek mendapat hasil ujian yang lebih tinggi daripada Anda yang dicontek? Artinya, kerjasama saat di ‘medan perang’ ujian adalah kesia-siaan, karena teman Anda hanya memanfaatkan diri Anda, dan Anda tidak sadar telah dimanfaatkan. Hal ini sering terjadi. Yang namanya kompetisi, maka setiap peserta harus bersaing, bukannya malah bekerja sama. Karena yang namanya juara itu hanya dimiliki oleh satu orang, bukan tim / kolektif.


Adapun bahaya jangka panjang seperti kata pepatah, “Siapa yang menanam, dia akan menuai hasilnya kelak.” Kalau itu adalah kejelekan yang ditanam, maka tunggu hasil jeleknya kelak. Bila seorang siswa terbiasa menyontek, maka kebiasaan itulah yang akan membentuk diri mereka. Sebagai remaja Islam yang smart kita harus membudayakan sifat kejujuran sejak dini. Stop Contekan, Back to Syariah gays.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!