Wednesday, June 6, 2018

Hanya IRT, Memangnya Kenapa?



Oleh: Hasni Tagili


Status sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga) memang masih acap kali dipandang sebelah mata. Apalagi jika si ibu lulusan sarjana yang lebih memilih mengurus rumah ketimbang bekerja kantoran berburu rupiah.


Halooo, dikira ngurus rumah itu gak butuh keahlian yak. Dikira jadi IRT gak perlu managemen prima. Dikira menghadapi suami dan mendidik anak gak usah pake ilmu 😎


Akan beda hasilnya, antara anak yang dididik oleh ibu yang berpendidikan dan yang tidak. Tapi berpendidikan saja belum cukup. Ibu juga harus melengkapi dirinya dengan ilmu agama. Ngedoain anak jadi anak sholeh-sholehah, tapi kalau yang ngedidik nggak sholeh-sholehah, gimana ceritanya 😂


Sebab, jika perempuan hanya mencukupkan diri dengan pendidikan tinggi, maka lahirlah ibu-ibu sekuler. Ibu-ibu liberal. Ibu-ibu kapitalis. Para wanita yang hanya mengejar karir dan menafikan peran utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.


Tapi bukan berarti perempuan nggak boleh bekerja sama sekali loh ya. Dalam Islam, wanita boleh bekerja (lihat QS. at-Taubah: 105, QS. an-Nisa: 29 dan 32). Kebolehan tadi berlaku selama ada izin dari wali/suami, menutup aurat ketika keluar bekerja, menghindari fitnah, dan tetap menjalankan kewajiban utamanya di rumah (Abd al-Rabb Nawwab al-Din).


Meski boleh bekerja, tapi tentu saja yang paling baik adalah ketika perempuan di rumah dan mengurus keluarganya. Kalau suami bisa memenuhi kebutuhan dapur dari A sampai Z, ngapain capek-capek kerja 😁


Adegan masak, nyuci, nyapu, sampai ngurus anak dan suami saja sudah bikin capek. Bagaimana tidak? Itu semua gak ujug-ujug tamat episodenya dalam sehari. Besok dan besoknya lagi terulang kembali.


Tapi meski capek, bagi ibu yang paham ilmu agama, maka rasa lelah dan pegal tidak akan ada apa-apanya. Itu semua nggak sebanding dengan ridho Allah. Itu semua nggak sebanding dengan berkah yang akan membanjirinya karena ikhlas mengurus anak, rumah, dan suaminya 😊


Lah, kan emang dalam Islam, salah satu kewajiban istri yang menjadi hak suami adalah melaksanakan fungsi “ummu wa rabbatul bait”. Istri sebagai ibu bagi anak-anaknya (ummu) dan sebagai pengurus rumah tangga bagi suaminya (rabbatul bait).


Rasulullah SAW memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang. Beliau bersabda, “Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang dan subur, sesunguhnya aku akan bangga dengan banyaknya anak-anak kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat” (HR. Ahmad)


Salah satu tujuan pernikahan adalah melestarikan keturunan (menghasilkan anak). Rasulullah menganjurkan untuk menikahi wanita yang subur. Ini menunjukkan bahwa hukum asal seorang wanita adalah sebagai ibu.


Ketika wanita menjadi ibu, ia akan mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, dan mendidik anaknya. Semua aktivitas itu tentu saja tidak mudah. Belum lagi kalau harus ngidam berat selama hamil, bersalin lewat operasi, ASI tidak produktif, keguguran, sampai akhirnya harus menghadapi anak-anak yang aktif. MasyaAllah!


Tak kalah pentingnya, wanita sebagai pengurus rumah tangga bagi suaminya. Menghabiskan waktunya lebih banyak di rumah dan jangan keluar rumah tanpa izin suami. Hal ihwal yang terjadi di dalam rumah merupakan tanggung jawab wanita. 


Sesungguhnya Nabi SAW menetapkan terhadap anak perempuannya, Fatimah, untuk mengerjakan pekerjaan di rumah, sedangkan kepada Ali bin Abi Thalib pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah (Musnad Ibnu Abi Syaibah).


Demikian pula  Rasulullah memerintahkan istri-istrinya untuk berkhidmat kepadanya, dengan sabdanya, “Wahai Aisyah tolong ambilkan kami minum, wahai Aisyah tolong ambilkan kami makan, wahai Aisyah ambilkan kami pisau dan asahlah dengan batu!” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Ibnu Hibban)


Coba bayangkan! Seorang ibu memiliki beberapa anak yang masih kecil-kecil. Selain mengurus kebutuhan para krucil, ibu juga harus mengurus rumah.


Belum lagi, ibu kudu belanja ke pasar, mengurus segala kebutuhan si bapak, dan ngantar-jemput pasukan kecilnya. Last but not least, ibu juga punya amanah dakwah. Huah, pasti capeknya level akut. Mesti modar mandir kayak setrikaan. Sesuatu banget 😆


Rasa lelah emang nggak bisa dihindari. Tapi lelah akan terbayar ketika melihat senyum tulus suami dan para krucil.


Anak bahagia karena diurus dengan baik oleh ibunya. Ditemani main dan didengarkan segala celotehannya. Pun, suami bahagia karena diperhatikan oleh sang istri. Disyukuri pemberiannya dan disiapkan segala kebutuhannya 😀


Jadi, bersabarlah menjalani fitrah sebagai ibu dan pengurus rumah. Gak perlu malu jika di-bully karena kita hanya Ibu Rumah Tangga. Itu posisi mulia. Ganjarannya nggak main-main ya.


Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia mengatakan, “Seorang wanita menemui Rasulullah SAW dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kaum wanita bisa mendapatkan amalan jihad di jalan Allah?’ Rasulullah menjawab: ‘Barangsiapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah.” (lihat Tafsir Alquran surat al-Ahzab ayat 33).


Terakhir, para suami juga jangan lupa menyiapkan waktu khusus untuk mendengar segudang cerita istri. Cerita mengurus anak dan rumah. Walau kepayahan itu dia jalani sendiri. Semoga dengan mendengarkannya (dengarkan saja, tak perlu direspon panjang lebar), si istri akan merasa berbagi lelah 😊




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!