Wednesday, June 6, 2018

Hai Si Melon Bulat, Dimana Kau Sembunyi?


Oleh : Endah Husna*

           

Sudah seluruh toko penjual melon yang dapat dijangkau dari rumah kami datangi, untuk membelinya. Tapi semua menjawab habis. Si melon bulat, LPG 3 kg sedang langka, pakai kayu bakar saja masaknya, tidak punya kompor kayu, masak saja di tengah jalan sekalian protes. Jawab salah satu penjual dengan nada ketus. Mungkin akibat capek merespon para pembeli yang kecewa.

            

Masih beberapa hari saja LPG langka ibarat hidup tanpa raga. Mau masak tidak bisa, mau memanaskan air untuk mandi si anak yang masih bayi pun tidak bisa. Semua butuh LPG, maka rasa empati untuk bisa saling memberi sedikit panas nya LPG sulit ditemui, karena semua butuh. Semua membutuhkan nya. Ibarat sebuah motor, LPG adalah mesin nya. Dia tidak akan berjalan tanpa mesin. Lalu siapa yang bertanggungjawab atas kelangkaan ini. Kami harus nengadu kepada siapa, kami harus bagaimana. Karena LPG 3 kg adalah satu-satunya energi yang mampu kami jangkau harganya. Tapi semakin hari jika terus mengalami kenaikan, tentunya kami juga semakin berat. Pendapatan yang tidak pasti dan semakin tidak imbang dengan pengeluaran yang pasti besarnya.

             

Ingin menangis rasanya, di negeri yang katanya kayu saja bisa tumbuh jika ditancapkan ke tanah. Negeri yang katanya punya gunung emas di ujung timurnya, negeri penyumbang luas hutan sebagai saringan polusi sedunia, kemana semuanya, kemana. Kami sedang menjerit membutuhkan nya untuk sekedar hidup, bukan untuk bisnis tingkat kapitalis yang semakin menginjak nginjak orang kecil.

             

 Jika lagu lama yang dipakai yakni, setelah terjadi kelangkaan maka dipastikan harganya naik. Bukankah ini bukti bahwa kami memang ingin dibunuh pelan-pelan. Karena dari segala jenis kebutuhan pokok harganya naik. Bukan memberi solusi bagaimana rakyat bisa makan tapi sibuk membuat pencitraan. 

               

Lagu lama lain nya, subsidi LPG 3 kg akan dicabut karena memberatkan anggaran negara. Lalu negara mau membuat anggaran untuk apa jika bukan untuk hal-hal yang vital seperti ini. Kalau negara melepaskan tanggung jawab ini lalu apa fungsi dan peran negara atas urusan rakyatnya. Kenapa kelangkaan LPG 3 kg ini menjadi tanggung jawab negara, karena memang negara berfungsi sebagai pelindung dan pelayan bagi warganya. Maka pentingnya menyerahkan urusan negara ini kepada ahlinya, bukan kepada suara terbanyak nya saja.

            

Adapun dalam Islam untuk menangani kasus kelangkaan LPG 3 kg ini misal, maka pendistribusian patut diawasi selain ketakwaan individu para penjualnya sudah tidak diragukan lagi, memahamkan tentang haramnya penimbunan misal LPG 3 kg yang terus disembunyikan ini. Dan utamanya adalah kekayaan alam negeri ini hanya untuk kebutuhan rakyat semata, bukan diberikan kepada asing. Pengelolaan tidak sepenuhnya diserahkan kepada asing yang ini tentu akan membuat mahal harga suatu komoditi. Islam juga mengatur bagaimana penggunaan energi yang baik, sehingga pemborosan mulai tingkat rumah tangga bisa di atasi. 

               

Islam juga yang tidak kalah penting adalah mampu memberikan solusi atas krisisnya pemimpin yang amanah. Melalui seperangkat pemerintahan Islam yang jauh dari kepentingan golongan, partai bahkan konglomerat maka Islam bisa mewujudkan tatanana kehidupan rakyat yang berbeda - beda namun tetap satu jua, satu pemikiran, satu perasaan, satu aturan sebagaimana entitas negara yang pernah dicontohkan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin.


 *Pemerhati Ibu dan Anak, Kota Blitar





Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!