Tuesday, June 19, 2018

Generasi Radikal: Harus!


Oleh: Fahmiyah Tsaqofah Islamiy (Politisi pelajar, Siswi HSG SMA Khoiru Ummah Taman-Sidoarjo)


Pendidikan adalah hak vital setiap warga negara. Penentuan bermartabat tidaknya suatu bangsa dinilai dengan parameter kualitas pendidikannya. Apalagi pendidikan tinggi yang notabene sangat mempengaruhi status pendidikan suatu negara di mata dunia. 

Lalu bagaimana jika pendidikan tinggi terinveksi virus radikalisme? Bukankah hal ini menjadikan rangking universitas tersebut melorot di mata masyarakat bahkan dunia?

Hal inilah yang terjadi pada 7 Universitas di Indonesia yang disinyalir menurut BNPT terpapar radikalisme. Tujuh universitas itu pula yang kini tengah diproyeksikan dalam program WCU (World Class University), diantaranya adalah Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB). 

Label "Kampus Radikal" mulai disematkan kepada ketujuh kampus tersebut semenjak terjadi teror bom yang melanda Universitas Riau (Unri) pada bulan Mei lalu. Entah mengapa isu minoritas ini mampu memberikan efek luar biasa kepada 7 kampus papan atas yang sekarang tengah diproyeksikan agar berstatus 'punya ranking' di mata dunia itu. Mungkin dikarenakan ketujuh universitas itu juga kental dengan aktivis dakwah kampusnya yang militan. Hampir mirip dengan kronologi drama bom di Universitas Riau (Unri) yang dekat dengan jamaah dakwah tertentu. Disamping itu, Universitas Riau (Unri) sebagai tempat kejadian perkara (TKP) mungkin sengaja dijadikan sasaran teror bom karena dipandang masih belum terakreditasi dalam proyek program WCU, sehingga tak mempengaruhi eksistensinya di mata dunia.

Sudah menjadi rahasia umum, istilah "Radikalisme"  di era fitnah zaman now acapkali ditempelkan kepada Islam dan para pemeluknya. Selalu saja identik dengan aktivis atau jamaah dakwah islam tertentu yang notabene memperjuangkan penerapan Islam dalam lingkup negara.

Jika penampilan secara fisik saja sudah kentara seperti berjenggot, bercelana cingkrang, bercadar, bahkan di isu kan "penebar teror bom" di segenap penjuru media, kebanyakan masyarakat pasti bisa mengidentifikasi bahwa mereka adalah simbol aktivis radikal. Walau sebenarnya dibalik itu semua, persepsi masyarakat yang demikian lahir bukan dari fakta yang benar, melainkan muncul dari permainan opini media yang disetir oleh negara kapitalis barat yang sangat tendensius terhadap Islam. Maka tak jarang jika setiap isu 'terorisme' di blow up maka diidentikkan dengan Islam dan para pemeluknya.

Namun, seeloknya label "radikal" tidak hanya di stigmakan negatif oleh masyarakat, sampai-sampai minat untuk menguliahkan putra-putri mereka di tujuh universitas itu --yang menurut BNPT terpapar radikalisme-- melorot. Karena disamping itu semua label "radikal" pun sebenarnya dapat bermakna positif. 

Oleh karena itu, sebelum menjudge kaum muslimin yang taat syari'at dengan cap 'radikal' atau memberikan framing kampus tertentu dengan label 'terpapar radikalisme', seharusnya semua elemen masyarakat memahami terlebih dahulu bahwa berabad-abad yang lalu sebenarnya Allah SWT telah mewahyukan kepada Rasulullah SAW agar umat muhammad SAW ini bersikap radikal. Sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an:

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (Qs. Al-Fath: 29)

Mengapa Al-Qur'an demikian mengajarkan sikap radikal kepada umat muslim? Karena sesungguhnya sikap radikal sangat dibutuhkan tatkala menghadapi kaum kafir harbi (contoh: yahudi) yang sedang memusuhi kaum muslimin. Sejatinya, bagaimanapun mereka ingin menjalin kemitraan dengan kaum muslimin atas nama perdamaian, toleransi, dan sebagainya, itu semua hanyalah perjanjian manis yang sarat akan kebusukan demi melancarkan strategi mereka untuk semakin manguatkan legitimasi terhadap umat Muhammad SAW.

Maka dari itu, dapat kita petik sebuah pelajaran bahwa sikap Yanya Cholil Staquf yang beberapa waktu lalu sempat menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat dengan mendatangi undangan Israel atas nama misi perdamaian dunia adalah sikap kontraproduktif terhadap kaum muslimin di Palestina dan sangat bertentangan dengan sikap yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW dalam menghadapi musuh-musuh Islam. 

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ..." (Qs. Al-Ma'idah :82)

Sedangkan isu radikalisme versi stigma negatif yang saat ini masih bercokol di benak masyarakat, seharusnya difahami dengan lurus bahwa sebenarnya Islam punya tata cara memlerlakukan kafir dzimni yang tidak mengganggu kaum muslim. pelaku kejahatan biadab macam teror bom di rumah ibadah, pusat pendidikan, dan tempat-tempat penting lainnya sudah bisa dipastikan bukan  orang islam pelakunya, apalagi yang secara fisik sempurna menjalankan syari'at. Sebab pemeluk agama Islam yang benar-benar memiliki kognitifitas terhadap syari'at Islam pasti faham bahwa Islam adalah agama rahmah. Dakwahnya pun tanpa kekerasan, sebagaimana teladan mulia Rasulullah SAW  dalam menyebarkan Islam.

Wallahu a'lam bi as-showwab



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!