Saturday, June 23, 2018

Gema Takbir VS Degub Musik Biduan


Oleh : Tri Silvia (Ummahat Peduli Umat) 


Baru genap seminggu umat Islam merayakan hari raya Idulfitri. Namun Gema takbir telah jauh dari pendengaran. Jangankan hari ini yang telah cukup jauh dari hari raya. Kala sore di hari-H pun telah langka tetabuh suara takbirnya. Padahal jelas tetabuh itulah satu-satunya penanda senang gembiranya umat atas datangnya hari raya. Kesenangan dan kegembiraan digambarkan dengan Gema takbir, mengagungkan Allah yang Maha Besar dan meneguhkan keimanan.

Allahu Akbar,, Allahu Akbar,, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallahu Wallahu Akbar. Allahu Akbar Walillaahil Hamd.

Gema takbir inilah sebenarnya penanda kegembiraan hakiki. Bukan yang lainnya. Bukan mobil yang mewah, baju baru atau oleh-oleh yang melimpah. Bukan pula angpau yang berjajar. Atau anak-anak dan istri yang cantik. Namun kini, mengapa gema takbir jadi begitu langka ditelinga?

Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya adalah Perda yang melarang adanya takbir keliling. Selainnya faktor pribadi dan masyarakat. Keduanya telah alami pergeseran nilai yang sangat besar. Masalah pribadi dibesar-besarkan, membuat sibuk diri sendiri. Merasa aman karena ada orang lain yang melakukan. Tak peduli jika yang lainpun merasa hal yang sama dengan yang ia rasakan. Masyarakat pun seakan tak peduli, hilangnya budaya saling menasehati jadi penghalang komunikasi antar anggotanya.

Sayang... Gema takbir itu telah berganti dengan musik yang memekakan telinga. Bukan pengagungan pada Allah yang dilakukan, namun lagu-lagu cinta dan alunan kemaksiatan yang terdengar. Pinggul para biduan meliuk-liuk tak tertahan rasa malu. Rambut dan bulu mata badai dihias sedemikian rupa. Baju super ketat mengalahkan superhero mereka gunakan. Untuk apa? Untuk menghibur masyarakat. Katanya. Siapa penontonnya. Masyarakat dan anak-anak kecil, yang notabene menjadikan tontonan jadi tuntunan. Astagfirullah, apa kabar para orang tua?

Saya tak punya masalah dengan sahabat, tetangga, kawan, ataupun saudara yang sedang melaksanakan hajatnya. Justru saya turut bahagia merasakan yang mereka rasakan. Saya pun tak ada masalah dengan musik bertalu-talu yang diperdengarkan, karena masalah kuping bisa dikondisikan. Lalu apa masalahnya? Masalahnya ada pada masa depan masyarakat dan anak-anak yang dipertontonkan hiburan semacam itu. Bagaimana masa depannya nanti? Jangan-jangan tontonan itu sudah merusak cita-citanya. Akankah tontonan tersebut jadi tuntunan mereka?

Yang seperti itu tidak hanya satu, namun banyak, bahkan bisa jadi lebih dari sepuluh undangan yang berjajar minta disambangi. Momentum syawal dimanfaatkan untuk melaksanakan hajat, karena dianggap bulan baik dan banyak saudara yang sedang pulang kampung. Tak masalah. Namun jadi masalah jika yang didatangkan sebagai hiburan justru jadi subjek perusak moral masyarakat. Apalagi pada bulan syawal dimana jadi awal buah ketakwaan Ramadan dimulai. Alangkah baiknya tidak dirusak dengan tontonan yang katanya sebagai hiburan masyarakat?

Semoga rasa rindu yang teramat sangat ini bisa tersampaikan. Rindu dengan gema takbir yang bersahutan (tidak hanya pada hari-H). Rindu saat keagungan Allah senantiasa dilafazkan, tidak hanya pada saat azan berkumandang. Rindu dengan suara syahdu tilawah Alquran yang selalu terdengar saat bulan Ramadan.

Mudah-mudahan kita diizinkan untuk sampai pada masa itu. Masa dimana segala harapan indah di atas, dapat dikabulkan. Masa dimana umat Islam tak lagi jadi serpihan-serpihan kecil. Masa dimana umat punya satu imam yang mengatur segala urusannya. Menjaga keimanan dan keamanan. Menjaga ketakwaan dan keahlian. Menjaga manusia dari segala kejahatan dan keburukan dengan satu aturan. Aturan Sang Maha Pencipta. Allahu Akbar.

"Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah saw bersabda: 'Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah hukum dan yang paling akhir adalah sholat'.” (HR. Ahmad)

Wallahu a'lam bis shawab


Tri Silvia (Tangerang) 



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!