Wednesday, June 27, 2018

Formula Istiqomah Tegak Lurus (Pesan Penguat Hijrah Ala Alm. Hari Moekti)


Oleh: Arin RM, S.Si*

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Peribahasa tersebut memberikan makna yang luar biasa. Akan senantiasa ada sesuatu yang menjadi kenangan tatkala seseorang telah tiada. Kenangan kebaikan ataukah kenangan keburukan, semuanya bergantung dari kebiasaan yang diperbuat selagi hidup. Jika kebaikan lebih dominan, maka rekaman memori kebaikan yang banyak terkenang. Begitu pula sebaliknya.

Pasca wafatnya Ustadz Hari Moekti, sosok yang bangga disebut pejuang syariah khilafah, sosok yang berjuluk dai mantan rocker, media ramai memberitakan rekam jejak kehidupannya. Berbagai sudut pandang diangkat. Namun, dari sekian masifnya pemberitaan, satu kesamaan yang muncul yakni semangat hijrah beliau. Semangat teguh meninggalkan gemerlap dunia untuk kemudian memilih mengabdikan diri di dunia dakwah Islam. Dan benar saja, di medan dakwah jualah beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Tepat diposisi yang dituju tatkala langkah hijrah dipilih. Semoga akhir pijakannya tersebut, menjadikannya husnul khotimah. Aamiin.

Sesudahnya, kebaikanlah yang banyak diberitakan. Berbagai video dan pesan dakwah ramai menghiasai laman elektronik dan pertelevisian nasional maupun lokal. Bahkan tak tanggung-tanggung, salah satu televisi swasta nasional ada yang menggelar acara “Hari Kang Hari”, spesial dari Senin-Jumat. Sengaja diselenggarakan dalam rangka mengenang sang dai. Di antara sekian banyak file, penulis menangkap pesan penting almarhum bagi para pelaku hijrah. Sebuah pesan agar tetap bisa istiqomah.

Quote hijrahnya yang popular adalah “Bagi yang cinta dunia, hijrah itu berat. Bagi yang sudah hijrah, istiqomah jauh lebih berat”. Untuk membantu istiqomah, diberikanlah formula lanjutan, yakni istiqomah tegak lurus. Tegak bermakna bahwa iman hanya kepada Allah saja. Lurus bermakna ucapan dan perbuatan sesuai syariat Islam.

Agar senantiasa tegak, dipastikan untuk tidak usah miring ke kanan karena godaan ketenaran, dan tidak juga miring ke kiri karena harta. Tetap tegak saja, mantapkan keimanan kepada Allah semata. Tanpa perlu takut masalah rizqi dan tanpa takut mati. Sebab masalah mati, allah lah yang mematikan dan masalah hidup Allah pula yang menjaminnya. Begitu pula urusan jodoh dan rizqi, semuanya kuasa Allah. jika tegak sudah diperoleh, maka selanjutnya adalah lurus. Menetapi semua apa yang dibawa Rasulullaah, menjalankan semua yang ditetapkan oleh syariat Allah. Yakni, menjalankan aktivitas sesuai standar wajib, sunnah, makhruh, mubah, haram.

Istiqomah tegak lurus akan menghantarkan pada taqwa. Namun pencapaiannya tak dapat diperoleh serta merta datang begitu saja. Yang dipesankan almarhum selanjutnya adalah ngaji. “Ngaji adalah modal  taqwa. Maka segera ngaji jangan tunda sampai esok”. Benarlah pesan tersebut. Untuk mengetahui lebih lanjut masalah iman, untuk mendapatkan iman yang kokoh, semuanya butuh belajar. Butuh ketelatenan mengaji Islam. Dengan mengajilah ilmu iman diperoleh, dengan mengaji pula ilmu syariat Islam di dapatkan. Dan dengan mengaji pula akan didapatkan teman-teman sholih yang akan menjadi pengingat tatkala kelemahan mulai membayang.

Begitu pentingnya ngaji bagi seorang muslim, maka tidak salah jika pedoman PAS senantiasa beriringan dalam aktivitas ini. PAS yakni pelajari Islam, Amalkan Islam, dan Sebarkan Islam. Dengan aktivitas PAS yang sudah terbukti dipraktekkan oleh almarhum Hari Moekti, maka sungguh sisa ajaran Islam yang disebarkan akan menjadi peninggalan kebaikan yang bisa terus dikenang. Tak sekedar meninggalkan nama, namun meninggalkan investasi pahala setelah kematian.


 [Arin RM]


*freelance author, member TSC




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!