Tuesday, June 12, 2018

Efek Domino Naiknya Harga BBM


Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Anggota Revowriter Sidoarjo


Setelah mengalami kenaikan beberapa kali, kembali pemerintah memberi sinyal penyesuaian ( baca kenaikan)  harga Bahan Bakar Minyak (BBM), tarif listrik, dan harga elpiji 3 kilogram pada tahun depan. Hal ini dipicu kenaikan harga minyak mentah dunia yang mendorong kenaikan ICP sehingga akan meningkatkan komponen biaya produksi BBM (solar), termasuk elpiji ( liputan6.com/31/05/2018)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan peningkatan biaya produksi tersebut tentu akan menyebabkan naiknya harga keekonomian. Tanpa kebijakan penyesuaian harga, maka selisih antara harga keekonomian dan harga penetapan oleh pemerintah akan semakin lebar. Menurutnya kenaikan harga minyak mentah dunia juga berpotensi menimbulkan dampak multiplier lainnya. Bila kenaikan harga minyak mentah diikuti oleh kenaikan harga BBM maka akan berpotensi meningkatkan inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat. Sebaliknya tanpa kebijakan penyesuaian harga BBM dan listrik, akan memberikan tekanan terhadap fiskal maupun keuangan BUMN dan menciptakan distorsi ekonomi yang berdampak negatif bagi perekonomian jangka panjang. Sebab itu, Pemerintah akan mengambil langkah-langkah kebijakan tanpa mengorbankan kemampuan daya beli masyarakat dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara dalam tahun anggaran berjalan. Padahal sebelumnya pemerintah menjamin bahwa harga bahan bakar minyak (BBM),  tarif listrik dan harga LPG 3 kilogram tidak akan mengalami kenaikan sampai 2019.

Seribu alasan yang di ajukan pemerintah agar kebijakannya di terima masyarakat sejatinya makin membuat masyarakat sadar bahwa ada sesuatu yang salah terkait pengelolaan SDAnya. Dan ironinya, sinyal kenaikan ini di aktifkan menjelang umat Islam hendak merayakan hari kemenangan, setelah selama sebulan berpuasa, yaitu hari Raya Idul Fitri. Serasa menjadi sebuah kado pahit yang harus di telan secara paksa oleh rakyat.

Kejadian naiknya BBM yang berulang ini sejatinya menjadi bukti ketidak konsistenan pemerintah.  Alasan harga migas dunia naik menjadi pertimbangan menaikkan harga adalah alasan yang tidak beralasan sama sekali. Pemerintah terlihat malas mencari solusi yang lainnya yang lebih bisa menjanjikan perubahan. Namun sistem kapitalisme hari ini yang di terapkan negara tak banyak memberikan solusi. Namun justru memperparah keadaan. Padahal dampak kenaikan BBM menyebabkan efek domino yang berkepanjangan berupa kenaikan barang yang lainnya, misal transportasi, pangan, listrik dan lain sebagainya.

Dalam sistem Islam, BBM adalah salah satu SDA yang menjadi kepemilikan umum. Di mana negara bertindak sebagai pengelolanya.  Maka sistem Islam akan mengedepankan periayaan ( pengurusan) dan pemenuhan kebutuhan umat dan bukan menyerahkan harga BBM kepada pasar bebas. Di mana pasar bebas rentan dominasi negara- negara kafir yang hanya mau mengeruk kekayaan dari negri- negri dunia ketiga ( berkembang). BBM mempunyai karakter sebagai energi artinya ia berstatus  barang publik dan  milik publik. 

Karena merupakan barang publik, jika energi dikuasai investor, maka ketersediaan dan harga energi ditentukan sekelompok kecil orang yang menciptakan pasar monopoli dengan orientasi laba. Keuntungan dan manfaatnya pun hanya dinikmati investor, bukan negara bukan pula masyarakat luas. Oleh karena itu barang publik harus di kuasai oleh negara. Mengapa? Karena ini wajib untuk menjamin pemenuhan seluruh sektor perekonomian dengan kuantitas yang cukup dan harga yang terjangkau.

Dan karena merupakan milik publik, maka sumber daya energi ini menjadi  kepemilikan bersama atau publik atau masyarakat sebagai pemilik sedangkan negara sebagai pengelola.  Disini syariat melarang negara menyerahkan pemilikan dan pengelolaan energi kepada swasta dan asing. Dengan demikian kalaupun rakyat perlu membayar BBM, maka biayanya adalah sekedar untuk mendapatkannya agar minyak mentah diproses hingga siap pakai dalam bentuk BBM, karena memang tidak semua SDA bisa langsung di nikmati manfaatnya oleh masyarakat, SDA ini butuh keahlian dan alat yang memadai untuk mengkesplorenya dari bahan mentah hingga sampai ketangan masyarakat berupa bahan jadi.

Ketika pembagian kepada rakyatpun  harus adil sehingga semua warga terpenuhi sebatas kebutuhan dasarnya. Namun bila negara tidak punya sumber minyak sendiri, maka negara terpaksa membeli BBM dari luar dengan harga pasar dunia, kepada rakyat tetap yang utama menjaga agar kebutuhan pokoknya terjamin. Negara juga wajib mendorong upaya pengembangan teknologi diversifikasi energi atau energi baru dan bila tetap ada rakyat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya, maka negara turun tangan dengan mencarikan/membantu nafkah dari kerabatnya, memberinya langsung jaminan dari kas zakat, dsb. Negara bertanggungjawab untuk menjamin rakyatnya mudah mengakses BBM. Di mana rasionalitas negara di fungsikan ketika hendak menaikkan harga sehingga negara tidak bergantung pada trend harga pasar, dimana berakibat hilangnya kemandirian negara dalam mengelola.

Hal tersebut hanya bisa terjadi kalau kita menerapkan syariat Islam secara kaffah. Wallahu A' lam bi ashowab.

 



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!