Tuesday, June 12, 2018

Dayuh, Gupuh, Suguh lan Lungguh


Oleh : Sunarti PrixtiRhq


Pagi itu Mak Tum agak sewot. Pasalnya semalam dia susah memejamkan mata. Waktu itu, sehabis tarawih, Iyul memberikan telepon padanya. Di seberang suara seorang wanita yang dirindukannya sedang mengajaknya bercakap. Seolah ketiban segoro madu, Mak Tum mendengar kabar dari kakak kandungnya.


"Tum, aku taon iki muleh ndhek omahe Sampeyan. Ora mudik ndhek omahe morotuwaku. Aku, Cak Jo mbarek arek-arek, kiro-kiro H-2 tekan omah kono", suara dari seberang. Kala itu, Mak Tum tidak kuasa berkata-kata. Antara bahagia dan haru menyelimuti relung hatinya. Hingga tak terasa tetesan air mata tak bisa dia tahan lagi. Mengucur deras membasahi pipi hingga bibirnya. Beliaulah Mbak Sri, yang dipanggil akrab dengan Yu Sri.


Yah, Sri Rahayu. Kakak satu-satunya yang sudah lama terpisah jarak dan waktu. Yang selama ini dirindukannya. Memikirkan pertemuan dengan kakaknya, membuat Mak Tum susah memejamkan mata. "Yu Sri, lemu opo kuru ya? Yu Sri sek ethes, trengginas koyo terakhir ketemu opo ora ya?" begitu semalam Mak Tum mengangan-angankan pertemuannya. Hingga dia kelabakan karena 'krinan'. Cucian menggunung belum disentuhnya. Cucian piring bekas santap sahur, juga masih dalam bak baru warna hitam.


Siti yang biasa bantu Emaknya, kali ini sudah tidak di rumah. Sebagaimana pesan Mak Tum kemarin sore, dia disuruh belanja ke pasar. Sudah sejak selesai shalat Subuh, Siti berangkat. Karena lumayan jauh, dia pinjam motor sepupunya, Lek Iyul.


Masih kriyep-kriyep, Mak Tum menuju dapur. Rupanya dia ketiduran sehabis shalat Subuh tadi. Meski selaput matanya masih menggantung kantuk, dengan sigap dia bereskan cucian baju dan peralatan makannya. Beberapa menit semua sudah diselesaikannya.


Tepat pada waktu Mak Tum selesai menjemur pakaian, datanglah Siti. Di tangan kanannya menenteng tas anyaman dari plastik berwarna biru berseling putih. Sementara di tangan kirinya membawa kresek berwarna merah, berukuran besar. Ditaruhnya belanjaan di dekat dapur. Dahinya yang berpeluh diusapnya dengan baju panjang di lengannya.


"Memangnya Budhe Sri datang hari ini ya, Mbok?" tanya Siti.


Mak Tum yang baru masuk dapur mendongak. "He, opo?" tanyanya, belum begitu jelas apa yang ditanyakan Siti.


"Budhe Sri, hari ini datang?" tanya Siti sambil membongkar belanjaannya. Dijajarnya belanjaan di atas karung bersih yang "digelar" di dekat dapur. Ada cabai merah, kacang nyambel, bawang putih, bawang merah, daun jeruk purut, gula aren dan ada dua buah kelapa belum dipecah.


"Ora. Sesok sore nek gak awan. Lehmu tuku blarak lali po ra?" kata Mak Tum.


"Ora, Mbok. Itu di kresek. Blarak, merica, kunyit, empon-empon ada di situ semua", jawab Siti sambil menaruh belanjaannya.


"Memangnya mau buat apa? Kok tumben beli kacang tanah, banyak lagi? Biasanya kalau masak ketupat, tidak pakai sambel pecel. Terus kacangnya mau dibikin apa?" tanya Siti.


"Itu nanti dibuat sambel pecel. Kalau Budhemu mau balik ke kota, biar dibawa. Nanti kita buat semua itu dua kilo kacang. Kita sisakan sedijit buat rempeyek kacang. Kemarin aku sudah membuat tepung beras "sebathok", jawab Mak Tum sambil ikut menata belanja di atas karung. Diambilnya blarak, dia lengkungkan dan ditali dengan ujungnya di pangkal blarak. Sambil berdiri dia menguap. "Uaahhheeemmm. Goro-goro aku keton-ketonen Budhemu, ra ndang turu-turu, aku", kata Mak Tum.


Siti senyum-senyum melihat Emaknya sumringah, meskipun tampak lelah di wajahnya. "Lha itu tempe banyak dari mana, Mbok? Perasaan, tadi aku tidak beli", tanya Siti.


"Itu tadi dikasih Bu Modin. Katanya Beliau beli banyak buat Emak. Beberapa kali masak di sana, Emak dikasih uang saku. Uangnya buat belanja ini. Nah, kemarin Emak diberi tempe banyak sekali. Alhamdulillah, nanti kita buat kripik tempe, biar dibawa Budhemu juga", kata Mak Tum. Senyum manis mengembang di bibirnya.


"Banyak sekali yang mau dikasih Budhe. Apa semuanya dikasihkan Budhe, Mbok? Kan, di kota Budhe Sri jualan nasi pecel" kata Siti. Kali ini Siti menaruh kelapa di bawah lincak kecil yang berada di dekat rak piring.


"Ya tidak semua. Nanti sebagian kita juga makan. Memang Emak sengaja, memberikan oleh-oleh sambel pecel, kripik tempe sama rempeyek kacang. Itu kesukaan Budhemu. Lagian, sambel pecel di sana sama sambel pecel di sini berbeda rasanya", jawab Mak Tum. Dia menuju dapur, dinyalakan dapur dari tanah bercampur sekam itu dengan korek jes. Setelah menyala dia taruh wajan dari tanah liat di atas mulut dapur yang depan. Sementara mulut dapur yang belakang dia beri panci yang sudah menghitam oleh "angus".

Mak Tum mulai mengambil dua kantong plastik kacang dan menaruh di dekat dapur.


"Bukan kok Siti khawatir buat oleh-oleh makanannya, Mbok. Tapi ya tadi, Budhe kan sudah setiap hari nyambel pecel", jawab Siti.  Dia mulai mengupas bawang putih dan mengambil daun jeruk purut untuk dicuci. Ditaruhnya keduanya dalam cething plastik dan ditaruh di lincak. Setelah itu dia "pethiki" cabai merah panjang dengan beberapa cabai belis merah di antaranya. Dia cuci juga setelahnya.


"Ya, bagaimanapun juga, meskipun Budhe itu kakanya Emak, Beliau itu datang sebagai tamu. Kita muliakan layaknya kita menerima tamu, to.

Ada dalilnya juga khan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, muliakan-lah tamunya.” (HR Muslim).

Meskipun memuliakan tamu tidak harus dengan suguh yang mewah, tapi setidaknya kita berupaya menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Lagi pula mungkin tahun depan Budhemu tidak mudik ke sini lagi kok, Ti. Kalau orang Jawa "Tompo dayuh kuwi mesthi nemoni telung perkoro yoiku gupuh, suguh lan lungguh". Gupuh itu sambutan kita. Suguh itu suguhan yang kita berikan kepada tamu. Dan lungguh itu tempat duduk dan layanan yang kita berikan pada tamu", kata Mak Tum. Tangannya sudah mulai menggoreng kacang tanah. "Kebul-kebul" asap dari kayu bakar menghampiri wajah Mak Tum yang hitam manis. Jelaslah wajahnya kini, mengkilap.


Hari itu kehebohan rumah Mak Tum berpusat di dapur. Mempersiapkan penyambutan kedatangan saudara Mak Tum yang sudah lama tidak mudik ke rumah asalnya.


Sekian

Ramadan hari ke 27, bareng keluarga Mak Tum.

#RamadanBersamaRevowriter

#RamadanBulanPerjuangan

#RamadanPenuhBerkah

#GerakanMedsosUntukDakwah


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!